Calon Pemimpin Muhammadiyah Belajar Empati dan Peduli sejak Dini

0
245
Moh. Ernam, Waka kesiswaan, saat menyampaikan materi kemuhammadiyahan Diklatsar PMR Smamda. (Ernam/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Remaja harus belajar nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian sejak dini seperti yang diajarkan dalam Palang Merah maupun Bulan Sabit Merah. Demikian disampaikan Kepala SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo (Smamda) Wigatiningsih pada pembukaan pendidikan dan latihan dasar (diklatsar) Palang Merah Remaja (PMR), Sabtu (6-2-2021) melalui Google Meet.

“Ini harus dimulai sejak dini. Belajar empati, belajar peduli, agar kelak menjadi pemimpin yang memiliki hati,” paparnya.

Menurut Wigatiningsih, remaja menjadi sasaran utama dalam pendidikan Palang Merah karena tiga hal. Pertama, remaja prioritas pembinaan karena masih kuat melakukan mobilitas sehingga dalam kondisi apa pun akan mudah melakukan pertolongan. Kedua, remaja sangat penting untuk disiapkan sebagai penerus di masa yang akan datang. Ketiga, remaja sering menjadi sasaran kepentingan berbagai pihak.

“Oleh karena itu, remaja harus disiapkan untuk masa depan yang baik. Remaja calon pemimpin di masa yang akan datang, harus memiliki persiapan sejak dini agar layak menjadi pemimpin,” lanjut pendekar Tapak Suci itu.

Wigatiningsih menambahkan, salah satu ciri seorang pemimpin adalah sehat jasmani dan rohani. Sehat harus diawali dari usia remaja sehingga tetap sehat dalam kondisi yang fluktuatif. Dalam kondisi pandemi, badan yang sehat lebih punya peluang lebih baik untuk tidak terpapar penyakit. “Sangat tepat aktif di PMR agar bisa belajar hidup sehat sejak dari muda,” lanjut ibu dua anak tersebut.

Peran selanjutnya bagi anggota PMR adalah terlibat dalam siaga kebencanaan. Indonesia memiliki potensi bencana yang sangat banyak. Oleh karena itu, PMR harus siap jika suatu saat ditugaskan dalam penanggulangan bencana. “Seperti saat ini kita sedang bahu-membahu menggalang bantuan untuk korban bencana di Sulbar dan Kalsel, maka PMR juga harus ambil peran,” tandasnya.

Muhammadiyah dan Lintasan Kemanusiaan

Sementara itu, Wakasis Moh. Ernam menjelaskan, Muhammadiyah sudah lama mengisi peran-peran kemanusiaan. Khususnya dalam penanggulangan bencana. Saat Kiai Sujak ditunjuk sebagai ketua Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO), program yang dicanangkan adalah pendirian rumah sakit dan panti asuhan.

“Pendirian PKO diilhami dari kejadian meletusnya Gunung Kelud. Melihat banyaknya korban erupsi yang tidak tertangani oleh pemerintah Belanda, Muhammadiyah membentuk PKO agar bisa membantu para korban,” terang Moh. Ernam saat menyampaikan materi kemuhammadiyahan.

Dia menambahkan, Muhammadiyah selalu hadir dalam setiap kejadian bencana. Termasuk di luar negeri seperti di Nepal, Filipina, Palestina, dan lain-lain. “Bahkan, saat terjadi gempa bumi di Nepal, satu-satunya lembaga kemanusiaan dari Indonesia yang sampai terlebih dahulu adalah Muhammadiyah. Melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Muhammadiyah sudah melakukan penanganan medis di Nepal sebelum PMI dan lembaga lain datang,” lanjut dia.

Hal itu harus dijadikan teladan bagi anggota PMR Smamda agar siap menjalankan misi kemanusiaan kapan saja dan di mana saja. Muhammadiyah selalu hadir dengan tim yang lengkap, mulai tim SAR, tim dapur umum, tim rehabrekon, tim psikososial, hingga tim medis. “Tim medis Muhammadiyah di Sulbar bahkan berhasil membantu 12 ibu-ibu melahirkan, sebagian bahkan melalui operasi Caesar,” papar pria yang aktif di HW itu. (Ernam/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here