Cara Membangun Keluarga Sakinah di Tengah Kesibukan Karier

0
226
Drs Zayyin Chudori MAg saat menyampaikan materi dalam Pengajian Sakinah.

KLIKMU.CO – Pada Ahad pertama setiap bulan Majelis Tabligh PCM Krembangan mengadakan Pengajian Sakinah. Tema pada Ahad (6/10) kali ini adalah Keluarga Sakinah dalam Keluarga Karier. Mubalig kajian itu adalah Drs Zayyin Chudori MAg

.

Pengajian yang diselenggarakan di SMPM 11 itu diawali dengan pemaparan dua tren pernikahan. Tren pertama, ada kecenderungan jumlah pernikahan dini semakin meningkat. Tren kedua, jumlah perceraian meningkat pula dan yang mengajukan perceraian adalah mayoritas perempuan dan usia pernikahan di bawah sepuluh tahun. “Hal itu dikarenakan maraknya medsos, pengaruh lingkungan, dan lemahnya agama,” ujar Zayyin.

Pada zaman emansipasi sekarang ini perempuan tak lagi di rumah saja, tetapi juga turut bekerja. Meskipun begitu, seorang istri harus tetap menjadi makmum bagi suami. “Jangan sampai ketika di luar, istri menjadi pemimpin lalu ketika di rumah, istri masih ingin menjadi pemimpin juga,” jelasnya.

Dalam keluarga terdapat istilah sakinah, mawaddah, warahmah. Sakinah bermakna damai dan tenteram. Mawaddah adalah rasa senang dan cinta. Warahmah dimaknai sebagai kasih sayang, merasa serba cukup. “Keluarga juga harus dinamis. Ketika ada masalah, hal itu akan semakin membuat keluarga juga berkembang,” imbuhnya.

Selain itu, urusan karier dan keluarga harus bisa berjalan seimbang. Ada sejumlah kewajiban yang dilakukan dan hak yang diperoleh pasutri untuk mewujudkan keseimbangan itu. Suami memiliki dua jenis kewajiban yakni materiel dan nonmateriel. Kewajiban materiel yakni memberikan mahar dan nafkah, sedangkan nonmateriel berupa perlakuan yang baik kepada istri. Istri memiliki kewajiban menaati suami selama dalam kebenaran serta menjaga harta dan rahasia suami.

Menjelang berakhirnya pengajian, Zayyin mengatakan bahwa suami harus bisa menjadi figur utama dalam keluarga. Suami dan istri juga bisa berkarier, tetapi disesuaikan dengan porsinya supaya urusan keluarga tidak terganggu. “Jangan menuntut hak. Suami dan istri harus menjalankan kewajiban masing-masing, maka hak akan terpenuhi,” tegasnya. (Fikri Fachrudin/Achmadsan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here