Cara Mengatasi Krisis Air Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah

0
156

Oleh: H.M. Sun’an Miskan Lc *)

KLIKMU.CO

Pentingnya tema ini karena menurut PBB terjadi krisis air secara global dan untuk DKI Jakarta hanya terpenuhi 67 % kebutuhan penduduknya. Adapun PBB dalam resolusinya No 64/292 Tahun 2010 telah menetapkan air sebagai salah satu dari hak asasi manusia, sama seperti hak untuk hidup, memperoleh pendidikan, dan hak asasi lainnya.

Menurut UUD 45 kita pasal 33 ayat 2 bahwa air tidak dapat diprivatisasi: “Bumi, air, dan segala kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

 Bagaimana Perhatian Al-Qur’an dan Al-Hadist tentang Air?

Al-Qur’an menjelaskanpentingnya air dalam kehidupan sampai 63 kali dalam berbagai konteks. Disebutkan juga peran sungai dan lautan. Di antara ayat-ayat tersebut ialah:

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ (30)الأنبياء

Artinya:

Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi dahulu menyatu, kemudian kami pisahkan antara keduanya dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air, maka mengapa mereka tidak beriman. (Al Ambiya: 30 ).

وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (14)

Artinya:

Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya dan agar kamu bersyukur. (QS An Nahl: 14)

Adapun Al-Hadist menyebutkannya dengan nama air yang sangat akrab di telinga kita ialah air zamzam:

أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ، يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَاءُ زَمْزَمَ، لِمَا شُرِبَ لَهُ “رَوَاهُ إبْنُ مَاجَه

Artinya:

Jabir bin Abdullah berkata: Saya mendengar Rasulullah berkata: Air zamzam (khasiatnya) tergantung niat meminumnya. (HR Ibn Majah)

قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الحُمىَ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ فأبْرِدُو هَا بِمَاءِ زَمْزَمَ . رَوَاهُ أَحْمَدٌ

Rasulullah bersabda: Demam merupakan embusan Jahanam, maka dinginkanlah dengan air Zamzam. (HR Ahmad)

Dua hadist terakhir menjelaskan bahwa air memiliki keterkaitan erat dengan kesehatan, terutama air zamzam. Doa meminum air zamzam agar mendapatkan ilmu, rezeki, dan kesehatan adalah sebuah ilham, sebuah pelajaran, sebuah sugesti agar para Hujjaj , para Muktamirin, sepulang mereka dari beribadah di Tanah Suci harus ada tekad untuk turut melestarikan air bersih di negerinya, sebersih, sesuci, dan sesehat air zamzam.

Mengapa Terjadi Krisis Air?

Menurut Organisasi Pangan Dunia, antara tahun 2000-2005 terjadi kerusakan hutan 1,9 juta hektare hutan per tahun di Indonesia. Hilanglah tangkapan air, sumber air bersih, terjadilah erosi, longsor, dan banjir.

Sementara itu, berdasar data Kementerian Lingkungan Hidup mutu air di 133 sungai di Indonesia tahun 2013 menyebutkan 75,25 % telah tercemar berat.

Cara Mengatasi Krisis Air Berdasarkan Ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah

Seperti yang dituntunkan secara praktis dalam buku “Fiqh Air“, keputusan Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih ke-28 tahun 2014 di Palembang:

 

  1. Keterlibatan Publik (Musyarakah al- Mujtama’).
  2. Masyarakat harus mengerti apa permasalahan air yang dihadapi bersama.
  3. Masyarakat harus mengerti bagaimana cara melakukan pengelolaannya.

Itulah sebabnya Al-Qur’an mengajarkan agar setiap anggota masyarakat harus terlibat dalam aktivitas kebaikan.

…وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (2)

Tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa dan janganlah kamu tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan, taqwalah kamu kepada Allah, sungguh Allah sangat berat siksa-Nya. (QS Al Maidah 2)

  1. Penyusunan Skala Prioritas (Tanzim al Awlawiyyat )

Skala perioritas itu:

  • Yang primer: makan, minum, ibadah, kebersihan
  • Yang sekunder: irigasi, menjaga keseimbangan, produksi, dan industri
  • Yang tersiar/pelengkap: mencuci mobil, kolam renang, danau, rekreasi.
  1. Konservasi Air (al-Muhafazah ‘ala al- Ma’)
  • Mengurangi penggunaan, pemborosan dan kehilangan air.( QS al-‘Araf : 31 dan al-Isra : 26-27)
  • Proteksi dari polusi atau pencemaran. (Rasulullah bersabda : “ Takutlah tiga perkara yang menimbulkan laknat : buang air besar di saluran ( sumber air), di tengah jalan dan di tempat orang berteduh “-HR Abu Dawud )
  • Meningkatkan fungsi kawasan hutan sebagai kawasan resapan air . Itulah sebabnya Rasulullah SAW mendorong ummatnya utuk melakukan penanaman pohon. Beliau menyebutnya sebagai sedekah:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا، فَيَأْكُلُ

مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ، إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ» رواه البخارى

Dari Anas r.a. berkata : Rasulullah SAW bersabda “ Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau tanaman kemudian dimakan oleh burung, manusia, atau hewan ternak, kecuali tanaman itu akan menjadikan sedekah baginya ( HR Bukhory )

  1. Regulasi Kepemilikan Air (Nizam Al Milkiyah al Ma’)

Menurut UUD 45 kita : pasal 33 ayat 2 bahwa air tidak dapat di privatisasi : “ bumi, air,dan segala kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Bunyi  UUD 45 diatas sesuai dengan pernyataan Rasulullah saw :

” الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ: فِي الْكَلَإِ، وَالْمَاءِ، وَالنَّارِ ” رواه أبو داود

Ummat Islam bersyarikat dalam tiga hal yaitu padang rumput, air dan api. ( HR Abu Dawud)

  1. Regulasi Pendistribusian Air ( Nizam Tauzi’ al Ma’ )

Indonesia memiliki 6 % dari air tawar di dunia. Data menunjukkan bahwa 20-30% layanan air bersih baru dpat dikonsumsi oleh kebanyakan masyarakat kota. Yang jadi korban, kekurangan air bersih dan menderita terkena berbagai penyakit adalah masyarakat miskin. Rasulullah SAW menjelaskan betapa pentingnya memperhatikan kebutuhan air terhadap masyarakat miskin.

Sabdanya:

عَن أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّهَا حُلِبَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاةٌ دَاجِنٌ، وَهِيَ فِي دَارِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، وَشِيبَ لَبَنُهَا بِمَاءٍ مِنَ البِئْرِ الَّتِي فِي دَارِ أَنَسٍ، فَأَعْطَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ القَدَحَ، فَشَرِبَ مِنْهُ حَتَّى إِذَا نَزَعَ القَدَحَ مِنْ فِيهِ، وَعَلَى يَسَارِهِ أَبُو بَكْرٍ، وَعَنْ يَمِينِهِ أَعْرَابِيٌّ، فَقَالَ عُمَرُ: وَخَافَ أَنْ يُعْطِيَهُ الأَعْرَابِيَّ، أَعْطِ أَبَا بَكْرٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ عِنْدَكَ، فَأَعْطَاهُ الأَعْرَابِيَّ الَّذِي عَلَى يَمِينِهِ، ثُمَّ قَالَ: «الأَيْمَنَ فَالأَيْمَنَ»

Dari Anas bin Malik r.a., kepada Rasulullah SAW telah disiapkan susu hasil perasan kambing peliharaan yang ada di rumah Anas, lalu disuguhkan kepada Rasulullah SAW, segelas minuman tersebut, lalu beliau meminumnya hingga beliau sudah melepas gelas tersebut dari mulutnya, sementara disamping kiri beliau ada Abu Bakar, sedangkan sebelah kanannya ada seorang Arab Badui, maka Umar berkata dalam keadaan khawatir jika gelas tersebut akan diberikan kepada orang Badui, “ berikanlah kepada Abu Bakar wahai Rasulullah yang ada disampingmu “. Namun beliau memberikannya kepada orang Badui yang berada disamping kanan beliau itu. Beliau bersabda : Hendaknya minuman diperuntukkan untuk yang di sebelah kanan dan kekanan dan seterusnya. ( HR al Bukhory).

Hadist di atas harus dipahami bahwa alasan Rasulullah lebih mendahulukan memberikan air kepada orang Badui, bukan semata-mata si Badui berada disebelah kanan beliau seperti pernyataan tekstual Hadist, tetapi karena orang Badui tersebut  lebih membutuhkan dari pada Abu Bakar. Ini menunjukkan bahwa masyarakat miskin yang tidak mampu dan dalam kondisi sangat membutuhkan harus lebih mendapatkan prioritas dibandingkan dengan orang yang  kondisi kebutuhannya sudah tercukupi.

 Penutup

  1. Mari kita sadari bahwa air bersih adalah kebutuhan asasi manusia, melestarikannya adalah sangat penting di era milenial ini, era industri 4.0.
  2. Cara mengatasinya mari kita landaskan kepada Al Qur’an dan Al Hadist , seperti yang sudah dituntunkan secara praktis dalam keputusan Musyawarah Nasional Tarjih ke 28 tahun 2014 di Palembang.
  3. Melalui media sosial,mari kita sebarkan keputusan Majlis Tarjih tersebut dan keputusan Lembaga Fatwa lainnya yang menyangkut pelestarian air bersih. Agar generasi milineal memahami dan bergabung untuk menyelesaikan krisis air bersih.
  4. Semoga dengan Islam berkemajuan, yang menghormati dan memadukan pemikiran Bayani ( tekstual ) dan pemikiran Burhani ( konteks kekinian berupa iptek hasil otak cerdas manusia), dipandu dengan pemikiran Irfani, ketajaman mata batin seorang mukmin dalam turut mengambil kebijakan, maka dunia makin maju , dapat pencerahan dan krtisis air bersih dapat terselesaikan.

Nasrun Minallah Wa fathun Qoriib

Sumur Batu-Jakpus, 10 Dzulqa’dah 1441 H/1 Juli 2020 M

 

*) Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here