Cara Sekolah Menjawab Tantangan pada Era 4.0

0
257
Ir Sudarusman menyampaikan materi dalam Rapat Kerja (Raker) Guru dan Karyawan SMP Muhammadiyah 11 Surabaya. (Fikri/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Pada Ahad (12/1) di SMP Muhammadiyah 11 Surabaya diadakan Rapat Kerja (Raker) Guru dan Karyawan. Raker tersebut bertema Optimalisasi Sumber Daya Manusia Menuju Sekolah Unggul dan Berkemajuan. Acara itu dihadiri oleh Ketua Majelis Dikdasmen Krembangan Izza Anshori MT. Hadir pula Kepala SMAM X Surabaya Ir Sudarusman sebagai pemateri.

Izza menyampaikan dalam sambutannya bahwa guru harus selalu berinovasi dalam pembelajaran. “Guru juga harus mengevaluasi program yang telah dijalankan,” tambahnya. Izza pun juga berharap guru-guru selalu bahagia dan kompak. Setelah itu, ada momen peluncuran (launching) antologi puisi karya para siswa SMPM 11 yang disaksikan Ketua Majelis Dikdasmen Krembangan.

Tak lama kemudian, pemaparan materi pun dimulai. Tema materi tersebut adalah Tantangan Sekolah di Era Industri 4.0; Pendidikan Harus Mengikuti Spirit Zaman. Pada awal penjelasan, Sudarusman mengatakan bahwa sekolah besar bisa tertinggal.

Meskipun begitu, ada empat aspek yang bisa menjadikan sebuah sekolah unggul. “Empat puluh persen adalah SDM kreatif, 20 persen fasilitas, 25 persen kerja sama/jaringan, dan 15 persen teknologi,” ujarnya. Sudarusman menegaskan bahwa kekompakan dan kreativitas SDM di sekolah sangatlah berperan penting.

Setelah itu, Sudarusman mengutarakan bahwa Islam sudah mengajarkan bahwa ilmu tidak sekadar transfer. “Mendidik adalah transformasi nilai dan kearifan peserta didik. Kearifan adalah berpikir sebelum bertindak sehingga perilakunya terjaga,” ucapnya.

Fikri Fachrudin (tengah), penulis sekaligus guru SMP Muhammadiyah 11 Surabaya, saat peluncuran buku siswa. (Klikmu.co)

Senada dengan Izza Anshory, Sudarusman juga menekankan pentingnya kekompakan internal. “Jangan bermimpi bisa melayani pihak eksternal dengan baik kalau dalam internal saja kurang baik,” tegasnya. Selanjutnya, Sudarusman menekankan pentingnya keberadaan big data yang memuat semua data sekolah.

Ada satu pernyataan yang sejalan dengan harapan Mendikbud. “Sekolah bukan tekanan, sekolah adalah kemerdekaan. Kalau ditekan, siswa akan seolah-olah bersekolah,” jelasnya.

Selanjutnya, Sudarusman mengharapkan bahwa guru dekat dengan murid. Sehingga peran guru dalam hal teladan, fasilitator, dan motivator bisa optimal. Guru boleh menghukum, tapi harus dipastikan hukuman tersebut bisa mengubah siswa bisa menjadi lebih baik.

Terakhir, Sudarusman menjelaskan cara menjadi agen perubahan. Caranya ialah jangan mencari kambing hitam, kontrol sikap, optimistis, toleransi, dan mendukung kelompok kerja. (Fikri Fachrudin/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here