Cari Sumber Sejarah Muhammadiyah Langsung ke Pelakunya

0
409
Prof dr Wisnu menyampaikan materi Timur membahas tentang sumber sejarah. (Bunda Tri/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Hari kedua Pelatihan Penulisan Buku Dinamika Muhammadiyah Jawa Timur membahas tentang sumber sejarah. Materi kali ini dipandu oleh Prof dr Wisnu, seorang sejarawan, setelah dibuka oleh Ketua Tim Sejarah Muhammadiyah Dr Hidayatulloh MSi melalui Zoom Meeting, Ahad (29/11/2020).

Peserta pelatihan yang berasal dari berbagai kabupaten kota di Jawa Timur ini kemudian dibagi menjadi empat kelompok untuk memudahkan fasilitasi diskusi dua arah antara peserta dan narasumber. Malang, Tuban, Kediri, Blitar, Magetan, Surabaya, Pamekasan, Probolinggo, dan Sidoarjo menjadi satu kelompok diskusi di ruang Zoom yang dipandu oleh Putri Aisyiyah dengan narasumber Prof Wisnu.

Prof Wisnu mengatakan, pembahasan utama mengenai sumber sejarah adalah segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai media bahan untuk merekonstruksi, menggambarkan, menuliskan, dan mengisahkan kembali sejarah yang telah terjadi berdasarkan fakta yang ada.

“Beberapa contoh yang bisa dijadikan sumber sejarah di antaranya catatan notulensi rapat yang berkaitan dengan berdirinya amal usaha Muhammadiyah, berdirinya Tapak Suci, reformasi kepengurusan, atau yang lainnya, kemudian ditindaklanjuti dengan wawancara kepada tokoh masyarakat setempat,” jelasnya.

Suasana pelatihan hari kedua lewat Zoom Meeting. (Bunda Tri/KLIKMU.CO)

Selain itu, peran publikasi media seperti koran atau majalah juga bisa digunakan sebagai sumber sejarah. Termasuk jugafoto atau film dokumenter dan masih banyak sumber sejarah yang bisa dijadikan rujukan dalam menulis.

Andi Hariyadi lantas menanyakan kepada narasumber terkait sejarah yang ada di Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Sebab, tak bisa dimungkiri saat pertempuran 10 November 1945 ada pemuda Muhammadiyah yang ikut berjuang, tetapi tim sejarah kesulitan untuk melacak jejaknya.

Pertanyaan ini langsung dijawab dengan lugas oleh Prof Wisnu. Menruut dia, hal pertama yang harus dilakukan adalah cari dulu siapa yang jadi pengurus Muhammadiyah pada masa itu. Lalu, yang kedua  adakah kartu anggotanya. “Sehingga kita tidak serta-merta menjustifikasi bahwa orang tersebut dari organisasi Muhammadiyah,” terangnya.

Pada pelatihan hari kedua ini, tim penulis buku sejarah Muhammadiyah dalam masih antusias dengan memberikan pertanyaan yang dijawab oleh narasumber. Sehingga bisa dijadikan bekal untuk menulis dimulai dari sejarah Muhammadiyah di daerah masing-masing. (Bunda Tri/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here