Catatan Akhir Tahun Sang Djendral (2020): Menutup Luka Politik : Antara Pukul, Rangkul, dan Tadzakkur.

0
272
Foto Kyai Mahsun Jayadi ( baret merah) diambil dari dokumen pribadi muhammadiyah ngagel

KLIKMU.CO-

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Di penghujung tahun 2020, hari kamis 31 Desember, Sebagian langit kota Surabaya kondisi gerimis, Sebagian mendung, dan Sebagian cerah berawan. Masih tetap menjaga protocol kesehatan dalam suasana pandemic covid-19. Mengantar masyarakat khususnya warga kota Surabaya menutup tahun Khidmah 2020, memasuki tahun baru 2021. Dan benar, pada dinihari Jum’at pukul 00.01 wib memasuki fajar tahun baru 2021 dengan wajah ceria, penuh optimis, harapan besar ke depan lebih baik.

Dalam konteks persyarikatan, tentu sudah banyak yang kita perbuat selama satu tahun silam, tetapi tidak mungkin kita catat semua di lembaran ini.

Catatan akhir tahun kali ini ingin saya tekankan pada aspek sosial politik. Mengapa ini penting? Iya, karena secara fitrah kita dilahirkan sebagai makhluq sosial, itu artinya bahwa hajat hidup kita selalu berkaitan dengan orang lain, itulah yang disebut hidup bermasyarakat,  bahkan juga dengan lingkungan alam sekitar.

Secara politis, bahwa hidup bermasyarakat membutuhkan tata aturan yang disepakati dan mengikat, perlu adanya kepemimpinan untuk membina kehidupan yang tentram, aman, dan damai. Dalam hal kepemimpinan tentulah diperlukan memilih pemimpin yang berkualitas, punya kapasitas dan kapabilitas, bisa menjaga eksistensi keberagamaan masyarakat. Demikian itu kehidupan politik dalam arti yang sederhana.

Realitas kehidupan menunjukkan bahwa komunikasi sosial dan politik antar warga masyarakat menjadi sebuah kebutuhan yang nyata bahkan menjadi suatu keniscayaan, tetapi sayang masih sering kali terjadi ekses yang diakibatkan terjadinya pergumulan kepentingan baik pribadi maupun golongan.

Misalnya pilkada/ pilwali yang barusan dilaksanakan di kota Surabaya 9-desember 2020 yang lalu. Kita menyaksikan sebagian prilaku politik yang tidak terpuji, seperti saling “memukul” (dalam arti untuk menjatuhkan nilai jual) antara paslon satu dengan paslon lawan, tetapi juga terjadi saling “merangkul” (dalam arti untuk meningkatkan nilai jual) salah satu paslon yang dilakukan  oleh fihak-fihak yang berkepentingan yang dilakukan oleh partai pengusung atau tim sukses, atau Sebagian masyarakat dalam hal dukung mendukung paslon yang menjadi idolanya.

Tak pelak ormas-ormas yang notabene netral dalam hal dukung mendukung-pun, ikut “kecandak-kecangking” dalam arus pusaran politik, sehingga terjadi “gesekan” di internal ormas yang bersangkutan. Ritual politik lima tahunan, selalu menyisakan luka akibat gesekan internal maupun eksternal baik ormas, dan terutama parpol.

Terlepas dari itu semuanya, pilwali sudah usai, hasilnya sudah bisa kita lihat, pemenangnya-pun sudah kita ketahui bersama. siapapun pemenangnya dia-lah Walikota kita, walikota warga kota Surabaya.  Catatan akhir tahun kali ini mempunyai makna “Muhasabah” dalam arti evaluasi baik secara individual maupun secara organisasi.

Maka dengan demikian muhasabah menjadi sangat penting, dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Harapan kita dengan muhasabah ini semakin mendewasakan berdemokrasi kita ke depan. Dan yang utama segera tertutup luka-luka politik akibat pilkada/ pilwali yang lalu.

Pada sisi lain yang sangat penting adalah melakukan “Tadzakkur”. Yakni pendekatan kita secara vertical kepada Allah. Aspek ini sangat kental muatan teologisnya. Tadzakkur (arab : تَـذَ كُّـــرْ ) mempunyai makna mengulang-ulang dalam mengingat Allah swt, juga berarti membaca dan mempelajari ayat-ayat Al-Quran yang berisi nilai-nilai kebenaran, kejujuran, dan kesantunan, agar dapat mengambil pelajaran dan mengingatnya dengan kuat dalam hati dan pikiran yang tidak mudah terhapus atau pudar.

Tadzakkur di sini berarti selalu mengingat adanya nilai-nilai moral, kode etik (akhlaqul karimah) dalam berkehidupan sosial dan politik. Mendukung paslon itu hak politik warga, tetapi tidak perlu dengan cara menjatuhkan apalagi “membunuh karakter” pihak lawan. Berkompetisi untuk mendukung suatu paslon seharusnya pada ranah visi misi, serta program yang ditawarkan, yang bisa memberi harapan warga masyarakat ke depan lebih baik.

Dalam konteks “menutup luka politik”, Sebagai warga kota Surabaya yang beragama, tentu tidak lupa mengaitkan semua kejadian di dunia ini dengan “Kuasa Allah”. Tidak ada satu peristiwa “sosial politik” manapun yang terjadi tanpa campur tangan Allah, tanpa kehadiran Allah. Itu artinya bahwa muhasabah yang kita lakukan baik dalam aspek sosial kemasyarakatan, organisasi, maupun politik, harus selalu kita letakkan pada paradigma teologis, sehingga terhindar dari luka politik berkepanjangan akibat ekses yang terjadi.

Selamat tinggal tahun 2020, selamat datang tahun 2021, tetap sehat, dan tetap semangat.

Wallahu a’lamu bis-Shawab

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here