Catatan Awal Tahun: Kemana Pendulum Berlabuh Diantara Dua Tepi?

0
228
Foto Kyai Mahsun Jayadi ketika wawancara di depan konjen Republik Rakyat Tiongkok beberapa waktu silam diambil oleh ulum

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Jayadi*

Logika Dua Madzhab
Hasil muhasabah setahun yang lalu, menjadi titik awal kita memulai beraktifitas di tahun baru 2019 ini. Tetapi tidak semua diantara kita siap dengan perencanaan yang matang. Sebagian meyakini bahwa dengan persiapan yang matang harapannya akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik dan lebih maksimal dibandingkan tahun lalu. Sebagian lain cukup dengan membiarkan menghadapi tahun baru seperti air yang mengalir. Semuanya sudah tertulis “di sana” dan tugas kita hanyalah menjalani kehidupan ini.

Ke dua “madzhab” pemikiran atau sikap tersebut akan selalu ada di sepanjang pergulatan kehidupan ini.

Madzhab pertama (Madzhab Rasionalis), mengutamakan pemanfaatan akal yang diberikan oleh Allah swt dalam menghadapi hidup di dunia ini. Pengikut madzhab ini tentu mempunyai landasan teologis yang sesuai dengan pemahaman mereka pula (lihat QS Ar-Ra’du : 11).

Sementara pengikut madzhab ke dua (madzhab Fatalistik), mengutamakan penyerahan diri secara total kepada kuasa Allah swt, sebab bagi mereka tidak ada satu aktifitas apapun di dunia ini yang lepas dari ketetapan Allah. Para pengikut madzhab kedua inipun merujuk pada landasan teologis pula, misalnya Al-baqarah : 106. Atau QS Al-Anfal : 17.

Dunia Karir dan Dunia Kerja

Di dunia karir misalnya, bagi pengikut madzhab Rasionalis, berapa banyak orang yang melakukan testimoni, bahwa hidup yang terencana akan menghasilkan makna kehidupan yang sejati dan menyenangkan. Rencana harus dibuat, kapan menikah, kapan punya rumah, kapan naik haji, kapan bisa berkiprah dalam organisasi, kapan bisa meningkatkan karir di instansi atau perusahaan?. Semua keinginan itu pastilah tersusun dalam rencana dan tersusun pula langkah atau tahapan yang harus dilalui. Perencanaan pun terkait dengan kemungkinan adanya problem, risiko atau halangan dan rintangan, maka disusun pula berbagai kemungkinan alternative mengantisipasi berbagai problem atau risiko tersebut.Sungguhpun demikian usaha dan kerja keras itu tetap selalu dibingkai dengan “tawakkal” kepada Allah.

Tetapi ada juga sebagian lain, pengikut madzhab Fatalistik, yang merasa sukses tanpa cita-cita, memperoleh jabatan dan posisi di instansi atau perusahaannya tanpa ada rencana. Kalau Allah sudah menghendaki maka tidak ada satu makhluq pun yang bisa menghalang-halangi.

Hidup ini “mung sak dermo nglakoni” (hanya sekedar menjalani saja), maka sikap pasrah menghadapi tantangan dan problem kehidupan diungkapkan dalam bahasa “narimo ing pandum” (menerima saja bagian yang didapat).

Bagaimana dengan Jihad Politik Muhammadiyah?

Pengalaman berdakwah lewat organisasi, khususnya persyarikatan Muhammadiyah selama ini mengindikasikan terbelahnya dua tebing sehingga masing-masingnya menjadi dua tepi yang mudah menjadi tempat berlabuh.

Bagi pengikut madzhab fatalistic, pada umumnya hanyut dalam trauma politik masa lalu, sehingga jalan satu-satunya bagi Muhammadiyah “tidak berpolitik”. Nasib umat dan bangsa ini cukup diserahkan pada partai politik.

Jika warga Muhammadiyah membuka sejarah masa lalu pernah menjadi anggota istimewa Masyumi. Ketika masyumi bubar, Muhammadiyah menelan kegetiran yang amat pahit. Maka, sudahlah warga Muhammadiyah tidak usah dekat-dekat dengan politik, nan ti akan mengalami nasib yang sama seperti masa lalu.
Bagi para pengikut madzhab Rasionalis, menyatakan bahwa dakwah Muhammadiyah harus bersifat menyeluruh di semua aspek kehidupan, termasuk dunia politik. Tetapi mengingat bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik, maka Muhammadiyah melakukan dakwah berdimensi politik, yakni Muhammadiyah harus berkontribusi secara politik tanpa harus menjadi organisasi atau partai politik.

Bagaimana caranya?

Muhammadiyah harus mampu mempengaruhi para pengambil kebijakan politik di negeri ini lewat para kader-kadernya yang punya kemampuan berpolitik.

Hal ini penting, meminjam istilah Al-Mawardi dalam bukunya “Al-Ahkam Assuthoniyyah” bahwa tujuan politik Islam adalah “lihiroosatiddin wa siyasatiddunya” yakni menjaga eksistensi agama dan merekayasa kehidupan dunia yang tertib.

Ketika situasi negara dalam bahaya dan memerlukan sentuhan-sentuhan kader yang berkualitas, maka Muhammadiyah sudah saatnya merespon secara positive. Muhammadiyah adalah salah satu pendiri dan pemilik sah negeri ini, maka Muhammadiyah semestinya harus merasa ikut bertanggung jawab terhadap nasib bangsa dan haluan negara ke depan.

Untuk merespon hal tersebut maka “Jihad Politik” merupakan sebuah keniscayaan. Hidup harus terencana. Tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara harus disiapkan sedemikian rupa. Tidak boleh menyerah dengan keadaan, semuanya harus aktif terlibat, tentu saja harus sesuai bidang kemampuan dan bidang serta cara masing-masing. PCM dan PRM seharusnya aktif melakukan konsolidasi dalam rangka jihad politik ini.

Pertanyaannya kemudian: Kemana Pendulum Berlabuh Diantara Dua Tepi?

Masihkah warga Muhammadiyah mengikuti madzhab Fatalistik?, ataukah tercerahkan mindset-nya dengan Bismillah mengikuti madzhab Rasionalis.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here