Catatan Awal Tahun: Toleransi antar Umat Beragama Islam

0
157
foto pertemuan ormas Islam se Surabaya yang di fasilitatori oleh H.M.Arif An( Baju hem tengah) Sekretaris Pimpinan Muhammadiyah Surabaya diambil oleh ulum

KLIKMU.CO

Oleh: Hamzah*

Realitas sosial merupakan suatu hal yang tak bisa terelakkan karena ia bersangkutan dengan kehidupan itu sendiri. Seiring dengan kemajuan zaman, beriringan pula kompleksitas persoalan kehidupan yang dihadapi oleh manusia di berbagai bidang. Tak bisa dinafikan, secara otomatis, agama akan terseret kedalam benang kusut persoalan tersebut. Dengan adanya problematika keagamaan yang semakin kompleks, maka interpretasi terhadap nas niscaya semakin berkembang dan beragam.

Persoalan perbedaan interpretasi terhadap nas telah terjadi berabad-abad lamanya. Perbedaan tersebut jelas tak bisa terhindarkan karena sumber primer yang menjadi rujukan umat, yaitu Nabi Muhammad saw. telah tiada. Semenjak itu, timbulah perbedaan pendapat  (ikhtilaf) di kalangan para sahabat dan ulama yang masih berlangsung hingga saat ini. Perbedaan pendapat tersebut, tak pelak menimbulkan sikap klaim terhadap kebenarannya sendiri dan terkadang muncul sikap pengsesatan terhadap kebenaran yang lain bahkan berujung pada pengkafiran (takfir).

Persoalan pertama muncul ketika sejarah penetapan seorang khalifah, pemimpin umat untuk menggantikan peran kepemimpinan Rasulullah saw. Penetapan seorang pemimpin merupakan hal krusial bagi umat Islam hingga mengakibatkan tertundanya pemakaman Rasulullah saw. selama dua hari kala itu. Hal tersebut terjadi lantaran adanya perbedaan pendapat mengenai penetapan khalifah yang berlatar belakang dari peristiwa Ghadir Khum diantara para sahabat.

Peristiwa Ghadir Khum merupakan peristiwa bersejarah dalam Islam yang terjadi pada 18 Dzulhijjah 10 H sekembalinya Rasulullah saw. melaksanakan ibadah haji wada’ dari Mekkah menuju Madinah. Ghadir Khum adalah suatu tempat yang terletak diantara Mekkah dan Madinah, jaraknya sekitar 200 km dari Mekkah. Dalam peristiwa itu, Nabi Muhammad saw. ‘berwasiat’ kepada umatnya bahwa barangsiapa yang menjadikan beliau sebagai maula nya, maka dia (Ali bin Abi Thalib ra.) ini juga sebagai _maula_-nya. Para sahabat berselisih paham mengenai interpretasi kata maula tersebut.

Tidak hanya pada era  salafush shalih dan di tanah Arab saja, tetapi pada abad pertengahan ketika Islam masuk ke Nusantara terjadi perbedaan pendapat diantara walisongo, para mubalig yang berjumlah sembilan orang yang menyebarkan Islam (da’wah) di tanah Jawa. Perbedaan pendapat ihwal inkulturasi dan modifikasi budaya kedalam ritus agama, seperti tahlilan, sedekah bumi, nyekar, tingkepan, dan lain sebagainya. Polemik tersebut masih berlangsung hingga sekarang, terlebih bagi umat Islam yang berada di tanah Jawa. Persoalan ikhtilaf diantara para ulama merupakan persoalan yang niscaya akan selalu muncul kapanpun dan dimanapun agama Islam itu berada.

Persoalan yang penulis paparkan diatas hanyalah berkaitan persoalan furu’iyyah dan bukan persoalan ushuluddin. Apapun perbedaan yang terjadi didalam tubuh umat Islam seharusnya tidak menjadikan kita terpecah belah. Persatuan dan kesatuan umat (ukhuwah islamiyyah) harus tetap kita jaga dengan mengedepankan prinsip moderasi dan toleransi. Jangan ada lagi pengsesatan dan pengkafiran karena sejatinya kalimat tauhid “laa ilaha illallah, muhammadar rasulullah“-lah yang menyatukan kita. Hanya orang yang telah keluar dan mengeluarkan diri dari kalimat tauhid itulah yang disebut dengan orang kafir.

Prinsip saling menghormati dan tidak menghalang-halangi orang lain untuk melakukan kepercayaan dan ajaran agamanya itulah yang disebut dengan toleransi. Toleransi tidak hanya berlaku antara muslim dengan non-muslim, tetapi juga antar sesama muslim. Tidak terbatas toleransi lintas agama, tetapi juga lintas mazhab. Bukan hanya dalil toleransi dalam Al-Quran “lakum dinukum wa liyadin” saja yang kita terapkan dalam kehidupan beragama. Namun, diperlukan juga ‘dalil baru’ berupa “lakum madzhabukum wa lana madzhabuna” demi terwujudnya kerukunan antar sesama muslim dan terjaganya ukhuwah islamiyah yang telah kita rawat selama ini. Wallahu a’lam.

*Sekretaris Bidang Hikmah
Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Bubutan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here