Catatan Oase Kehidupan #104: Ketika Nyaman di Kegelapan

0
76
Foto hades dewa yunani kuno diambil dari merdeka

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Gelap merupakan sebuah keadaan tiadanya penerangan. Atau suatu keadaan menghindari terang. Gelap kadang memang menyenangkan tapi kadang juga menakutkan. Gelap menjadi menyenangkan bila kita hidup terbiasa dengan suasana yang gelap. Kadang ada orang merasa nyaman tidur dengan suasana gelap, kadang juga ada yang tidak nyaman, butuh penerangan. Gelap itu sendiri juga bisa berarti suatu keadaan kita lari dari penerangan.

Dalam perspektif sosial, gelap itu bisa berarti jauhnya kita dari ilmu, sehingga apa yang kita lakukan tidak banyak berdasarkan ilmu. Suatu laku yang dilaksanakan tanpa dasar ilmu yang ada adalah penghambaan terhadap nafsu. Sehingga lakunya cenderung liar, tak terkendali, tak terukur, menghalalkan segala cara dan jadinya machiavelis. Suka menyalahkan orang lain, gampang mencurigai, karena memang tak ada ilmu yang jadi pegangan. Asumsinya dianggap sebagai kebenaran, disebarkan tanpa rasa bersalah, hidup dalam balutan angkara dan dusta. Freud menyebutnya sebagai laku alam bawah sadar yang dipengaruhi oleh pengalamannya sendiri. Orang lain diukur dari apa yang dilakukan sendiri.

Gelap itu juga bermakna memutuskan sebuah komitmen yang sudah dibuat. Ketika seseorang atau sebuah komunitas membuat sebuah komitmen, maka saat itu yang harus dipegang bahwa diantara mereka harus menanamkan saling percaya. Komitmen ibarat membangun sebuah bangunan, maka satu sama lain harus saling mendukung dan bergandeng tangan, tidak ada ruang untuk saling melemahkan apalagi tidak percaya. Berkomitmen itu belajar menahan diri untuk tidak percaya terhadap informasi yang melemahkan sebuah komitmen. Menyebarluaskan info yang tidak benar dan cenderung fitnah, sejatinya bentuk pelanggaran terhadap komitmen. Sama seperti orang yang melanggar janji tentang sebuah kesepakatan yang sudah dibuat.

Berbagi peran dalam sebuah tugas merupakan cara membesarkan sebuah bangunan. Menjalankan peran sesuai dengan tujuan membesarkan bangunan merupakan jalan menuju terang. Mencurigai dan tidak mempercayai sebuah peran yang dijalankan dengan asumsi asumsi yang dibuat dan cenderung melemahkan dan menyebarkan kebohongan, juga merupakan jalan kegelapan, dan perusakan komitmen.

Betapa banyak kisah bagaimana sebuah kelompok mengalami kemunduran dan terberai ketika cara cara kotor menyebarkan asumsi dan fitnah atas peran yang dilakukan oleh bagian kelompok itu, padahal yang dilakukan adalah pepaksanaan komitmen dalam membesarkan bangunan itu. Selalu ada memang dalam setiap masa manusia yang tergesa gesa dan tak mampu menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang melemahkan.

Menghadapi Sikap Seperti Itu?

Suatu saat Aisyah RA pernah di fitnah dengan tuduhan berselingkuh, bagaimana kisahnya Fitnah terhadap Aisyah Istri Rasulullah, Fitnah ini sudah dilakukan oleh manusia sejak zaman Rasulullah masih hidup. Siti Aisyah, istri Rasulullah pernah difitnah.

Dalam suatu perjalanan, Siti Aisyah mengikuti rombongan Rasulullah dalam suatu peperangan. Setelah mendapat kemenangan dalam perang tersebut, saat pulang ke Madinah, rombongan Rasulullah istirahat di suatu tempat.

Saat itu Siti Aisyah yang diangkut dalam tandu tertutup diturunkan dari onta yang membawanya. Tanpa diketahui oleh para pengawal Aisyah turun karena mau buang air. Setelah itu Aisyah kembali ke tandunya, akan tetapi dia kemudian mendapati bahwa kalungnya tidak ada di lehernya. Lalu dia keluar kembali, dan mencari kalungnya yang hilang. Saat itu, waktu istirahat sudah cukup, dan rombongan kembali melanjutkan perjalanan, tanpa disadari bahwa Aisyah tidak ada dalam tandu itu.

Perlu diketahui bahwa tubuh Aisyah kecil, sehingga para pengangkat tandu tidak sadar bahwa tandu itu kosong. Singkat cerita, Aisyah tertinggal di hutan itu, lalu dia memutuskan untuk tetap menunggu di situ sampai tertidur.

Kebetulan seorang sahabat, Sofwan bin Mutahol Assulami juga tertinggal di belakang rombongan, dan dia sangat kaget melihat Aisyah yang sedang teridur di jalan. Dia mengucapkan: “Innalillahi wa inna ilaihi rojiu’n, sehingga Aisyah terbangun. Singkat cerita, Sofwan mempersilahkan Aisyah naik ke atas ontanya, dan dia menuntun onta itu. Peristiwa itu menimbulkan fitnah bahwa Aisyah istri Rasulullah Saw selingkuh, yang dikompori oleh Abdullah bin Ubay Sesampai di Madinah, Aisyah sakit sampai satu bulan tanpa mengetahui ada fitnah terhadap dirinya. Yang dia herankan adalah Rasulullah tidak memperlihatkan kasih sayangnya seperti biasanya bila dia sakit.

Setelah dia tahu fitnah itu, sakit Aisyah semakin parah. Dia mohon izin kepada Rasulullah untuk sementara akan tinggal di rumah orang-tuanya, Abu Bakar Siddieq. Yang dia lakukan hanya menangis dan menangis, karena dia merasa tidak pernah berbuat sesuatu yang difitnahkan kepadanya.

Kondisi fitnah itu tentu menyebar hingga mencapai satu bulan lamanya. Dan selama itu pula, tidak ada wahyu yang diterima Nabi Muhammad Saw. Sampai kemudian, Allah SWT mengabarkan berita gembira kepada Nabi Saw yang menyatakan bahwa Aisyah ra terbebas dari segala tuduhan perselingkuhan dan fitnah itu.

Peristiwa fitnah terhadap Aisyah itu diabadikan Allah dalam Surat An Nur ayat 11 s/d 25. Di dalam ayat yersebut dijelaskan tentang berita bohong dan larangan menuduh wanita berzina tanpa ada saksi. Setelah turun ayat itu, Nabi Muhammad saw baru meyakini bahwa itu semua fitnah, dan terbukti bahwa Siti Aisyah adalah wanita yang suci.

Nah sikap yang bijak dalam menghadapi berita bohong yang melemahkan adalah dengan fokus terhadap apa yang sudah menjadi komitmen untuk dijalankan, bekerja dan berkarya, sehingga apa yang menjadi komitmen bersama bisa diwujudkan. Tidak ada yang abadi didunia ini, begitu juga dengan kebohongan, pastilah suatu saat pembawa kebohongan akan menyadari kebohongan yang diperbuat ketika komitmen yang disepakati mampu kita wujudkan. Sebaik baik anda menyimpan bangkai pastilah akan tercium juga.

“ Dan janganlah kalian saling menggunjing. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang ” (QS. Al-Hujurat: 12).

 

Surabaya, 2 Juni 20

*Anggota Dewan Pendidikan dan Staf Pengajar Ilmu Komunikasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here