Catatan Oase Kehidupan #107: Ketika Tafsir Atas Sebuah Teks Didominasi

0
173

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Memahami agama tidak seperti membalikkan
telapak tangan. Dalam memahami agama
seorang pembaca harus mempunyai keahlian
dan memperhatikan petunjuk-petunjuk yang
telah diberikan. Dalam Islam, otoritas utama
bersumber dari al-Quran dan Hadis. Kedua
kitab tersebut sebagai petunjuk otoritatif.
Namun untuk memahami seorang dituntut
memiliki kemampuan dalam berbagai bidang,
seperti bahasa, sejarah dan hal terkait.

Otoritas tafsir atas sebuah teks bukanlah hal yang baru, karena memang diperlukan agar tidak terjadi tafsir bias dalam memandang sebuah teks. Namun pemberi tafsir memang dipersyaratkan tidaklah boleh semua orang, hanya mereka yang memang mempunyai kapasitas yang mumpuni atas teks yang dibahas.

Abou El Fadl menyajikan sebuah
kerangka konseptual untuk membangun gagasan tentang “otoritas”. Ia berusaha
mengidentifikasi penyalahgunaan “otoritas” dalam hukum Islam.Abou El Fadl tidak merujuk pada “otoritas” kelembagaan, tetapi pada “otoritas persuasive” dan “otritas moral”. Abou El Fadl lebih menaruh perhatiannya
pada gagasan tentang “pemegang otoritas” dalam hukum Islam yang tentu dibedakan dengan “otoritarianisme”. Artinya, Abou El Fadl berusaha menggali gagasan tentang bagaimana seseorang “mewakili suara Tuhan” tanpa menganggap dirinya sebagai Tuhan atau setidaknya tanpa ingin dipandang
sebagai Tuhan.

Tawaran El Fadl ini berusaha melahirkan analisis kritis tentang anatomi praktik penafsiran hukum Islam yang bersifat otoriter dengan pendekatan hermeneutik. Abou El Fadl, yakin selama ini “metodologi tafsir
otoriter” akan menggrogoti integritas teks-teks Islam dan meredupkan suaranya serta dapat mengikis daya guna dan kekuatan hukum Islam. Abou El Fadl, mengidentifikasi anatomi diskursus otoritas teks, mengusulkan
menjunjung otoritas teks dan membatasi otoritarianisme pembaca, yang
disebut “menggunakan kekuasaan Tuhan” untuk “membenarkan tindakan
sewenang-wenang pembaca” dalam memahami dan mengimplemantikan
teks. Untuk itu, Abou El Fadl, mendudukan secara proporsional hubungan antara teks, pengarang, dan pembaca dalam dinamika pergumulan pemikiran hukum Islam.

Saya hanya mencoba menarik pemahaman ini pada persoalan Pancasila yang didorong mempunyai tafsir tunggal, sebagaimana yang pernah terjadi pada masa orde baru, tentang pemberlakuan asas tunggal Pancasila.

Tafsir tunggal Pancasila sebagaimana yang pernah terjadi pada zaman orde baru, justru akan mereduksi Pancasila dalam arti yang sesungguhnya. Inilah yang disinyalir oleh El Fadl dengan menuhankan diri, Mem Pancasilakan diri. Tafsir tunggal akan sebuah teks justru akan melahirkan otoritarianisme. Cenderung memaksakan kehendak dan menjadi otoriter dan sejatinya ini memgingkarin semangat reformasi yang menghargai kebhinekaan.

Mengembalikan makna Pancasila kepada Pancasila itu sendiri merupakan keniscayaan. Lalu apa yang mesti dilakukan. Sebagaimana yang ada dalam analisa Hakimul Ekhwan dalam tulisannya era kebangkitan agama era milenial, dimana saat ini terlihat bangkitnya generasi millenial dengan semangat keagamaan di kampus kampus dan di sekolah sekolah. Lahirnya kelompok musik Gambus As Sibyan, merubah pandangan bahwa agama hanya untuk orang tua. Tantangan yang dimunculkan olehnya adalah bagaimana menjadi penganut agama yang kaffah dan juga Pancasilais.

Baik El Fadl dan Hakimul menawarkan kerangka pemahaman sosiologis dan historis dalam hubungan antara teks, pembaca dan penulis. Sehingga mempertentangkan antara Agama dan Pancasila adalah kedunguan tafsir. Justru semakin mereka kaaffah dalam beragama, mereka ini semakin Pancasila. Menjadikan agama sebagai tempat yang layak dicurigai justru kita akan semakin anti Pancasila.

Semoga bermanfaat!

 

Surabaya, 5 Juni 2018

*Penulis dan pembelajar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here