Catatan Oase Kehidupan #108: Antara Kebutuhan Politik Dan Kemanusiaan

0
133
Foto salah satu adegan film world war z diambil dari filter.filmogtv.no

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Setiap orang pasti mempunyai kebutuhan. Kebutuhan manusia dalam pandangan Maslow ada bertingkat tingkat, mulai dari kebutuhan yang bersifat dasar, fisiologis sampai dengan kebutuhan yang tertinggi berupa kebutuhan untuk bisa beraktualisasi.

Saya mencoba mengambil cerita dari status sahabat saya, ustadzah Iin Indarti dari magetan yang menuliskan cerita kebutuhan hukum dan kebutuhan kemanusiaan, tulisannya seperti ini :

” Helen .. seorang perempuan kulit hitam di Alabama tertangkap basah mencuri dari sebuah supermarket .

Denis … Polisi yang dipanggil untuk menahannya menemukan bahwa yang dicuri Helen hanyalah 5 butir telur . Ia tidak jadi menangkapnya .

” aku mencuri ini sebab aku dan anak2 ku 2 hari ini belum makan ” ratap Helen yang membuat hati Denis teriris …

Polisi itu lalu mengantarnya pulang kerumah setelah membelikan untuknya sekeranjang telur . Keesokan harinya , Denis dan rekan2 nya sesama polisi datang ke rumah Helen dengan 2 mobil penuh makanan dan keperluan sehari hari.

” Engkau tidak perlu melakukan ini ” kata Helen haru sambil memeluk polisi itu .

Denis berkata : ” kadangkala kebutuhan kita pada KEMANUSIAAN lebih besar daripada kebutuhan kita pada hukum ”

Moral cerita diatas adalah bagaimana kita melakukan kerja kerja kita, tapi tidak boleh melupakan rasa kemanusiaan kita, sehingga kita akan selalu berhati hati ketika kita akan berbuat.

Dalam kehidupan politik seringkali kita terjebak dalam kepentingan yang sempit, kepentingan pribadi, kepentingan kelompok atau golongan, kepentingan partai, padahal sejatinya politik bertujuan mewujudkan apa yang menjadi kebutuhan dan kepentingan rakyat. Kepentingan rakyat adalah kebutuhan kemanusiaan.

Kebutuhan politik kita tereduksi menjadi sempit, dan menjadi kawan dan lawan. Siapapun yang tidak sama cara mencapai tujuan politiknya dengan saya, maka dia adalah musuh saya. Nah apa yang terjadi sekarang ini, potret sempit dari cara berpolitik kita. Rakyat menjadi terbelah, saling menghujat dan melemahkannya. Tak ubahnya kalau anda menyaksikan tayangan wild animal dalam mata rantai kehidupan. Saling menikam dan saling memangsa. Lalu kita ini sejatinya mengikuti siapa? Apakah Pancasila mengajarkan seperti ini?

Tujuan Negara Adalah Mewujudkan Kebutuhan Kemanusiaan.

Dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa tujuan bernegara kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mensejahterakan. Semestinya apa yang menjadi tujuan itu menjadi ” guidance ” bagi arah perpolitikan kita. Cara boleh berbeda, tapi juga harus dipahami bahwa perbedaan cara bukanlah berarti kemudian harus bermusuhan.

Tujuan kemanusiaan hanya bisa dicapai kalau memggunakan cara cara kemanusiaan. Cara kemanusiaan adalah cara mencapai tujuan dengan keadaban bukan dengan cara biadab. Menghalalkan segala cara dan menganggap musuh semua yang berbeda.

Mewujudkan kembali cara keadaban membangun negara sejatinya adalah tauladan yang diberikan oleh para pendiri bangsa. Bagaimana Buya Hamka, M. Natsir dan lain lain bisa bersanding dengan Soekarno yang berbeda sudut pandang dalam meneguhkan ke indonesaannya, tapi mereka tetap bisa berkawan. Lalu kita ini meniru siapa? Kalau cara berpolitik kita seperti saat ini, menghalalkan segala cara, menebar kebencian, memusuhi mereka yang dianggap berbeda.

Merenungkan kembali kebhinekaan dan berpancasila, semoga menjadikan ke indonesiaan kita berada dijalan yang benar.

Surabaya, 7 Juni 2018

*Penulis dan Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Staf Pengajar Ilmu Komunikasi Untag 1945 Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here