Catatan Oase Kehidupan #108: Menanyakan Kesiapan Suramadu Menjemput Arus Mudik “Jalur Maut Sepeda Motor”

0
47
Foto jembatan suramadu dikala malam diambil swiss-belhotel

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Surabaya – Madura memang tidaklah terlalu jauh, karena hanya dipisah oleh Selat Madura. Butuh waktu 20 menit perjalanan laut dengan menggunakan kapal ferry dari pelabuhan Tanjung Perak ke Kamal Bangkalan Madura. Seiring dengan perkembangan transportasi dan jalan, pelahan tapi pasti, perjalanan ke Kamal Bangkalan Madura melalui jalur laut mulai ditinggalkan. Hadirnya jembatan Suramadu, menjadi lonceng kematian bagi transportasi laut Surabaya – Kamal. Betapa tidak, arus penumpang yang dulu bergantung dengan kapal ferry, sekarang mempunyai alternatif jalur penyebarangan yaitu jalan jembatan Suramadu.

Jembatan Suramadu menjadi harapan baru bagi kecepatan dan kelancaran hilir mudik Surabaya Madura dan sebaliknya. Jembatan Suramadu lebih memberi kepastian kecepatan dan ketepatan waktu tempuh perjalanan. Kondisi jalan dan layanan perjalanan menjadi sebuah keniscayaan bagi terbangunnya harapan baru tersebut.

Jalur Suramadu yang dulunya harus berbayar, terutama di jalur motor, tentu memberi kepastian bagi perawatan dan keamanan jalan bagi para penggunanya. Namun seiring dengan kebijakan pembebasan tarif masuk jalur motor, satu sisi akan mengurangi biaya pengeluaran bagi pengguna jalur motor, tapi disatu sisi juga akan berdampak bagi pemasukan pendapatan bagi pengelola jalur. Dampak lainnya, para pengguna jalur tidak terkontrol, sehingga ini juga menjadi ancaman keamanan bagi para pengguna jalan, terutama kalau malam hari. Pernah terjadi penghadangan oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab terhadap pengguna lainnya di jalur tengah antara Surabaya – Bangkalan, akibatnya pengguna jalan yang niatnya baik mengalami luka dan kerugian, karena memang suasana yang sangat mendukung, penerangan tidak ada dan pengawasan juga sudah dilepaskan. Akibatnya tindakan keamanan baru akan dilakukan kalau sudah korban dan melaporkan.

Belum lagi kondisi jalan lajur motor yang saat ini banyak berlubang, tentu akan menjadi masalah tersendiri bagi keselamatan pengguna jalan. Penulis mencoba melakukan pengamatan dengan mengendarai motor melalui jalur motor jembatan Suramadu pada pagi hari. Jalan lengang disertai dengan pemandangan yang elok, hamparan lautan dan pantai yang membentang memberi suasana keindahan dan kenyamanan, pengguna motor yang rata kebanyakan pekerja memacu kendaraannya dengan cukup kencang. Penulis membayangkan, betapa berbahayanya keselematan mereka, dengan kondisi jalur yang sudah ditata berjajar satu satu, tapi mereka harus saling bersalipan. Bagaimana kalau mereka oleng akibat bersenggolan, tentu akan membentur dinding pembatas jalur. Dan itu sangat membahayakan keselamatannya.

Pernahkah anda bayangkan, anda berkendara motor dengan kecepatan diatas rata rata yang ditentukan dan kemudian tiba tiba didepan anda ada jalan rusak akibat berlubang? Tentu anda mengerem mendadak atau anda akan reflek membanting stir menghindari jalan berlubang tersebut. Kalau tidak bisa anda bayangkan sendiri apa yang terjadi. Sudah banyak korban akibat jalan berlubang tersebut. Dilema pengguna motor jalur Suramadu, berkendara pelan untuk kehati hatian, ancaman keselamatan dari para begal menghantui, berkendara dengan kecepatan diatas rata rata yang ditentukan, terancam oleh jalan berlubang.

Mempertanyakan Kesiapan BPWS

Menjelang arus mudik yang sudah semakin dekat ini, tentu ketergantungan terhadap jalur ini akan semakin meningkat. Tapi apakah BPWS sudah siap mengantisipasinya? Nah tulisan ini hanya memberi informasi dan mengingatkan kepada semua, bahwa ada ancaman maut dijalur motor Suramadu. Pengguna motor harus waspada dan hati hati, BPWS lebih peduli terhadap keselamatan para penggunanya, terutama jalur motor.

Meningkatkan patroli keamanan disepanjang jalur tentu akan membantu rasa aman para penggunananya, ancaman jalan berlubang mesti harus disikapi dengan perbaikan. Nah mumpung masih agak jauh dari hari H peningkatan arus mudik, perhatian dan kepedulian dalam bentuk perbaikan jalan sangat dibutuhkan, jangan sampai ada korban baru dilakukan perbaikan. Kita semua tentu berharap bahwa lebaran harus dilewati dengan suka cita, perbaikan jalan berlubang Suramadu merupakan wujud dukungan BPWS untuk suka citanya merayakan lebaran. Bisa anda bayangkan, betapa tidak nyamannya kita dalam merayakan lebaran, kalau ada diantara keluarga kita mengalami ujian yang kurang menyenangkan. Semoga saja tidak. Kepada sahabat sahabat saya yang berada dieksekutif maupun legislatif, tengoklah jalur tersebut, agar rakyat yang pernah memilih anda merasakan manfaat dari kepemimpinan kalian.

” Sebaik baik manusia adalah mereka yang manfaatnya paling banyak bagi kehidupan manusia yang lainnya ” ( al hadits )

 

Surabaya, 8 Juni 2018

*Pengguna Jalur Suramadu, Staf Pengajar Ilmu Komunikasi Untag 1945 Surabaya dan Anggota Dewan Pendidikan Jatim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here