Catatan Oase Kehidupan #111: Yuuk Mudik

0
105
Foto polisi melakukan pengamanan para pemudik diambil dari tribbunnews.

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Mudik merupakan tradisi kaum urban pulang menuju kampung halaman. Tradisi ini juga sebagai penghormatan kepada leluhur terutama kepada orang tua dan keluarga. Mudik mengandung arti kepulangan terhadap asal disertai penghormatan kepada sesuatu yang telah dianggap berjasa.

Tradisi mudik mengingatkan kita pada asal usul, diharapkan dengan mengingat asal usul, kita mengetahui darimana kita berasal dan kemana akan kembali. Pulang ke kampung halaman merupakan pesan tersurat bahwa setiap manusia kelak akan kembali kekampung asalnya.

Dengan pulang kampung kita bisa mengingat masa masa lalu kita, masa bersama kedua orang tua, bersama teman dan peristiwa sedih dan susah yang dilewati. Kita bisa banyak belajar tentang beberapa hal yang berkaitan dengan masa lalu, serta kita bisa mengingatkan diri bahwa yang terjadi saat ini tidak bisa dilepaskan dari masa lalu yang kita alami. Akhirnya dengan pulang kampung, akan mengajarkan kepada kita untuk berhati hati dan tidak boleh melupakan jasa masa lalu. Pulang kampung sejatinya akan merangsang kembali alam bawah sadar kita tentang peristiwa masa lalu yang kita alami.

Kampung Halaman Manusia

Sesungguhnya semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Manusia diciptakan oleh Allah berasal dari tanah, maka akan kembali pula menjadi tanah. Mudik yang sebenarnya bagi manusia adalah peristiwa kematian. Sehingga tradisi mudik sejatinya menyiratkan pesan sebuah peristiwa menuju kematian.

Menuju kampung halaman tentu membutuhkan persiapan dan perbekalan. Sebagaimana persiapan kita semua ketika akan mudik, kita tentu mempersiapkan bekal terbaik dan mempersiapkan sesempurna mungkin. Karena kita semua tak ingin perjalanan kita terhalang oleh hal hal yang akan mengganggu perjalanan. Bekal terbaik bagi kita adalah mempersiapkan bekal secukup mungkin agar perjalanan kita lancar sampai ketujuan.

Begitu juga bila kampung halaman berupa kematian, tentu pesan mudik mengajarkan kepada kita agar mempersiapkan bekal sebaik mungkin dan sesempurna mungkin dan yang terlebih mungkin adalah sudah cukupkah bekal kita menuju kematian.

Mempersiapkan Bekal

Perjalanan kekampung halaman tentu butuh persiapan yang matang dan persiapannya panjang. Bekal yang kita bawahpun kelak adalah bekal yang cukup selama dalam perjalanan dan yang akan kita berikan pada handai tolan dikampung halaman. Itu artinya bekal yang kita siapkan bekal dalam sejumlah banyak.

Begitu juga mudik dalam terminologi kematian, apakah kita juga mempersiapkan sebaik dan sematang mungkin sebagaimana kita mudik kekampung halaman? Sudah cukupkan kita persiapkan bekal yang kita bawah menuju kematian?

Persiapan bekal yang baik menuju kematian adalah bagaimana kita bisa baik dalam pandangan Allah dan Rasul Nya ? Lalu ukuran perbuatan baik itu seperti apa? Allah menjelaskan dalam Al Qur’an sebaik baik bekal adalah taqwa, taqwa itu berarti melakukan segala sesuatunya sesuai dengan ketentuan Allah. Bagaiman ketentuan Allah tentang perilaku baik itu? Nabi membuat perumpamaan ” sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lainnya “.

Nah kawan sudahkah hari hari kita, kita warnai dengan kemanfaatan? Kalau kita tidak bisa memberi maka janganlah kita mengambil, kalau kita tak bisa menasehati, maka janganlah mefitnah, kalau kita tak bisa jujur dengan diri dan orang lain, maka janganlah berbohong, kalau kita tidak bisa memperbaiki, maka janganlah merusak, kalau kita tak bisa bersatu maka janganlah menebar permusuhan, setidaknya kalau kita tak mampu berbuat kebaikan, maka janganlah merusak.

Semoga Allah memberkahi hidup kita dengan perilaku bijak dan berkah… Aamien.

Assalammualaikum wr wb…. Selamat pagi, selamat beraktifitas dan menikmati berkah Allah dengan kebaikan.

 

Surabaya, 11 Juni 2018

*Pegiat penulisan, Anggota Dewan Pendidikan, Staf pengajar di Untag 1945 Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here