Catatan Oase Kehidupan #114: Iedul Fitri, Piala Dunia dan Strategi “Blue Ocean”

0
141
Foto bola piala dunia 2018 di Rusia diambil dari sindonews

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Adakah kaitannya hari raya ” iedul fitri ” dengan piala dunia? Sepintas memang tidak ada karena memang peristiwanya berbeda. Iedul fitri berkaitan dengan kesuksesan kita menjalankan ibadah selama bula Romadhon, yang kemudian disematkannya predikat taqwa bagi yang lulus menjalankannya. Itu artinya bahwa taqwa merupakan predikat ” juara “, sehingga diluar arena Romadhon, perilaku ” juara ” sebisa mungkin tampil sebagai penuntun perilaku.

Perilaku juara yang disebut dengan taqwa itu dalam banyak kisah dicontohkan oleh Allah dalam laku para nabi dan sahabatnya. Allah berfirman: “Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. An-Nur [24]: 52). Taqwa dimaknai sebagai takut dan dekat, sehingga selalu berhati hati dalam bersikap, terukur dalam berbuat.

Lalu apa kaitannya dengan Piala Dunia?

Piala dunia merupakan ajang pertandingan sepak bola dunia yang mempertemukan negara negara juara sepak bola di zonanya masing masing. Mereka melakukan laga pertandingan untuk. Mengalahkan lawan lawannya. Nah piala dunia sejatinya pentas para juara sepak bola dunia.

Laga piala dunia adalah sebuah laga untuk mencari juara sejati diantara para juara yang bertanding, dalam. Dalam laga itu tentu kemenangan tim menjadi tujuan. Sebaik apapun sebuah tim tampil tapi kalau tidak mencetak gol dan memenangkan pertandingan, maka predikat juara tidak akan didapatkan. Sehingga kerjasama tim dalam memenangkan pertandingan merupakan sebuah keharusan.

Kerjasama tim itu merupakan bentuk berjalannya peran dan fungsi masing masing pemain yang ada didalam tim. Sehingga tidak ada yang merasa paling hebat dan paling berjasa dalam memenangkan suatu pertandingan. Mereka bekerjasama menguasai lapangan dan permainan, kadang dengan umpan pendek, umpan panjang ke depan, umpan kesamping ataupun kebelakang. Semuanya memahami, karena memang itulah bagian dari strategi memenangkan pertandingan. Mereka saling percaya, tidak ada diantara mereka yang protes ketika bola diumpankan kebelakang, karena mereka menyadari bahwa itulah bagian dari strategi memenangkan pertandingan.

Kualitas juara ditampilkan dalam kerjasama tim, saling bersinergi, memahami posis masing masing, sehingga umpan umpan akurat dan terukur selalu dilakukan. Tidak ada satupun dari pemain bermental juara itu kalau mendapatkan bola, lalu dikuasai sendiri untuk mencetak goal. Sehingga kualitas juara bisa terlihat dari kejeliannya dan memberi kepercayaan kepada orang lain untuk melakukan tugasnya tanpa harus mencibirnya apalagi melemahkannya.

Begitu juga dalam kehidupan sosial, kualitas juara sebagai orang mendapatkan predikat taqwa dapat dilihat dari perilaku, ucapan dan cara berpikirnya. Segala sesuatunya pasti bermanfaat dan mengandung kebaikan. Cara memperlakukan orang lain, cara berbicara serta cara bersikapnya adalah cara cara juara, cara cara yang bermartabat, tidak mudah mencurigai dan menuduh, mampu menghormati dan mengapresiasi apa yang dilakukan oleh orang lain.

Kerjasama dan Saling Percaya Modal Untuk Menjadi Juara

Juara dalam kehidupan adalah mereka yang membuat capaian capaian yang terukur dengan langkah langkah strategis yang dilakukan. Sebuah tim sepak bola akan sampai pada predikat juara kalau mereka bisa memenangkan setiap laga yang dilaluinya sebagai capaian terukur dan strategi memenangkan pertandingan yang dilakukannya. Begitu juga predikat ” juara ” bagi mereka yang menjalankan ibadah di bulan romadhon harus dilakukan dengan capaian capaian terukur dengan strategi yang akan dijalanjnya. Sehingga capaian setiap orang dalam mengartikan taqwa dalam hidupnya bisa berbeda satu sama lain. Misalnya dalam puasa tahun ini saya akan berusaha tidak berbohong. Tidak berbohong adalah capaian taqwa yang ditentukan oleh seseorang. Untuk menuju tidak berbohong maka disusunlah langkah agar tidak berbohong. Misalnya saya harus transparan, saya harus mempunyai catatan pertanggung jawaban, dan seterusnya. Untuk menjadi transparan saya harus mempunyai buku catatan dan saksi, dan banyak hal yang berisi capaian dan langkah yang terukur.

Nah kawan untuk menjakankan apa yang saya sebutkan diatas sebagai capaian dan strategi menuju capaian dibutuhkan kemampuan menahan diri bertahan dalam proses dan menghargai serta mempercayai. Tanpa itu tim akan menjadi lemah dan kedodoran. Capaian tidak dapat diraih, kehancuran menanti.

Strtegi bersinergi dan bekerja sama dalam tim dan menghargai semua orang yang ada merupakan strategi samudra biru ” blue ocean ” yang dikembangkan oleh W. Chan Kiim dan Renee Mouborgne. Yaitu sebuah strategi yang menantang perusahaan untuk keluar dari samudra merah persaingan berdarah dengan cara menciptakan ruang pasar yang belum ada pesaingnya, sehingga kata kompetisi pun menjadi tidak relevan.

Strategi blue ocean menekankan pentingnya bersinergi dengan menggabungkan beberapa potensi yang ada dan dirangkai menjadi sebuah kekuatan. Bagi strategi ini, persaingan justru akan menciptakan musuh dan akan melemahkan perjuangan mencapai tujuan. Sehingga bersaing apalagi saling melemahkan akan sangat dihindari.

” Dan berkerjasamalah kalian dalam kebaikan dan taqwa, hindarilah bekerjasama dalam dosa dan yang melemahkan. Dan bertqwalah kalian kepada Allah, karena sesungguhnya Allah amat berat siksaannya ” ( Q. S. Al Maidah : 2 )

 

 

 

Surabaya, 17 Juni 2018

*Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak ( LPA ) Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Staf Pengajar di Ilmu Komunikasi Untag 1945 Surabaya dan STT Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here