Catatan Oase Kehidupan #115: Tentang Makam Leluhur, Takbir dan Sillaturahmi

0
265
Foto makam sunan drajat diambil dari smpn 2 pagerwojo

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Dipenghujung Romadhon menjelang hari raya nampaknya gairah berziarah ke makam leluhur, orang tua dan kerabat menjadi pemandangan yang lazim dibeberapa areal makam. Tradisi ziarah merupakan sebuah bagian pengingat dari laku kita selama menjalani hidup. Ziarah merupakan penegas bahwa tidak boleh ada pemutusan tali sillaturahmi dengan leluhur kita terutama orang tua kita. Ziarah juga merupakan pengakuan kesadaran bahwa tanpa mereka kita tak pernah ada.

Doa – doa keberkahan kepada mereka harus senantiasa kita panjatkan untuk mereka, karena bagi mereka doa adalah kiriman berkah yang senantiasa ditunggu disaat mereka tidak berdaya…. Allahumma sholli’ala Muhammad wa ‘ala ‘ali Muhammad, Alfateha untuk keluarga dan kerabat kita dan orang tua kita semua, semoga Allah memberkahi mereka di alam kuburnya… Aamien.

Sayapun ditengah perjalanan merambah penghujung Romadhon masih diberi kesempatan untuk bersimpuh dihadapan bapak ibu saya yang melahirkan dan merawat saya, semoga Allah senantiasa mengampuni dosa dosanya dan merahmati kuburnya.. Aamien. Semoga saja sahabat semuanya juga berkesempatan duduk bersimpuh memohonkan doa dan ampunan kepada Allah bagi orang tua dan kerabat kita yang mendahului kita.

Waktupun merangkat menjelang terbenamnya matahari yang sebentar lagi menandakan datangnya 1 Syawal, lantunan adzan menjadi penanda bahwa esok kita akan menjalani hari baru, Iedul fitri, hari dimana disebutkan sebagai hari kemenangan. Kemenangan kita terhadap kesadaran menjaga diri selama menjalani ibadah puasa. Penanda kemenangan itu ditandai dengan lantunan takbir tahmid serta tasbih sebagai pujian tanpa bimbingan Nya tak akan kita mampu menjalankan perintah Nya selama satu bulan penuh.

Ada kesadaran transendental, bahwa diri ini sejatinya mengalami keterbatasan, tanpa bantuan Zat yang Maha Sempurna dan Maha Kasih Sayang itu, kita tak akan bisa menjalani perintah itu. Kesadaran transendental inilah yang menggerakkan kita untuk selalu berjalan pada pusaran sillaturrahmi.

Sillaturahmi merupakan pengikat kita dengan yang lainnya. Didalam sillaturahmi memberikan pesan bahwa kita membutuhkan orang lain, kita tidak bisa sendirian, kita perlu menjalin ikatan dengan orang lain, karena memang dengan ikatan itulah kita bisa memenangkan sebuah perjuangan. Bahkan Nabi Muhammad menegaskan bahwa sillaturahmi membawa dampak pada panjangnya rezeki dan panjangnya umur. Memutuskan tali sillaturahmi berarti pula memutuskan rezeki dan memperpendek umur kita. Semoga kita dihindarkan.

Sillaturahmi adalah sebuah sinergisitas. Tak ada lagi kamu dan aku, yang ada adalah kita. Sinergi memberi pengakuan bahwa setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan, sinergi memberi penghormatan kepada orang lain atas peran peran yang dimiliki. Tidak ada yang boleh merasa lebih dan merasa kurang, karena didalam sinergi semua orang diakui keberadaanya.

Nah kawan…. Ditengah lantunan takbir tahmid dan tahlil yang masih riuh bergema, ada baiknya kita meneguhkan diri kembali bahwa kita ini adalah lemah dan tak berdaya, sehingga kita sering lupa dan khilaf, semoga saja kita bisa membenahi diri dan menata visi dalam menjalankan peran kehidupan agar akhir kehidupan kita menjadi khusnul khotimah.. Aamien.

Selamat Hari Raya Iedul Fitri, Taqobbalallohu Minna Wa Minkum, Taqobbal Ya Kariim, Semoga Allah Menerima ibadah dan Puasa kita selama Romadhon…aamien.

 

Surabaya, 18 Juni 2018

*Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Staf Pengajar di STT Malang dan Untag 1945 Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here