Catatan Oase Kehidupan #116: Arus Balik dan Ketika Desa Tak Berdaya

0
117
Foto asrinya pemandangan pedesaaan diambil dari dokumen pribadi purwanto

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Asnhori*

Sepertinya hari ini, Kamis ( 21/6/2018 ) merupakan hari awal masuk kerja. Biasanya pada awal masuk kerja. Nah hal yang menarik diawal masuk kerja adalah tentang kesiapan kerja dihari pertama paska lebaran dan arus masuk penduduk ke kota. Kota selalu menjadi daya tarik bagi bagi masyarakat desa untuk mengadu nasib dan mengejar perubahan. Geliat perkembangan kota membangkitkan gairah libido pemburu kepuasan perubahan untuk menggenggamnya. Data hari ini yang dimuat oleh media massa ada 100 ribu warga pendatang akan masuk Surabaya ( JP, 21/6/2018 ).

Mangapa Kota Selalu Menarik?

Setiap orang mempunyai kebutuhan untuk memuaskan dirinya. Seiring dengan semakin berkembangnya peradaban manusia, maka kebutuhan perubahan manusia juga semakin meningkat. Hal hal yang menjadi kebutuhan perubahan yang tidak bisa disediakan di desa maka akan dicari tempat dimana bisa memenuhi kebutuhan pemuasan dirinya. Kota menjadi tempat yang menjanjikan, meski tidak selalu.

Ketimpangan pembangunan antara kota dan desa sejatinya merupakan fonomena yang sudah lama terjadi, sehingga desa yang seharusnya menjadi basis perubahan tak mampu lagi menjadi rem peredam mobilisasi perpindahan penduduk.

Asumsi bahwa kota lebih menjanjikan dibanding desa merupakan akibat dari pola pendidikan yang kapitalistik dan materialistik. Sekolah menjadi pemicu pola pikir yang seperti itu. Ditambah lagi budaya masyatakat, seolah kalau sudah sekolah mereka harus jadi pegawai, sehingga hal hal yang dibutuhkan untuk membangun desa cukuplah dilakukan oleh orang orang tua di desa dan anak anak mudanya harus keluar untuk mengadu masib di kota. Wajah desa menjadi semakin renta tak berdaya, gairah perubahan tak lagi menyapa, yang ada hanyalah desa dengan sawah dan hamparan gunung yang indah tapi merana.

Tak terlihat sentuhan perubahan yang seharusnya dilakukan untuk merubah wajah desa. Padahal mereka punya kepala daerah dan wakil rakyat yang mereka pilih. Mengapa bisa terjadi? Tradisi budaya warga desa yang santun dan menerima ing pandum, rupanya menjadi pemicu mereka hanya dijadikan lumbung suara mengantarkan wakil rakyatnya. Meski setelah itu tak terlihat lagi sumbangsinya.

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan untuk masuk kesebuah pasar rakyat di Randu Agung, Lumajang. Betapa luar biasanya kekayaan alam mereka yang bisa dimobilisasi untuk menunjang perubahan wajah desa dan menjanjikan kesejahteraan. Tapi itu tak mampu menjadi daya tarik bagi kalangan muda terdidiknya. Mereka lebih suka berbondong bondong ke kota. Desa seolah tak berdaya menjanjikan perubahan kepada kalangan mudanya.

Merubah Cara Pikir

Mindset bahwa kota adalah tempat yang menjanjikan dan desa adalah ketertinggalan, merupakan tugas kebudayaan dan tugas pendidikan. Pendidikan bertugas bahaimana menciptakan cara berpikir yang kreatif sehingga terjadi perubahan perilaku yang lebih baik. Sementara kebudayaan bertugas menyediakan ruang bagi terlaksananya pikiran pikiran kreatif. Model pendidikan yang menjadikan ukuran keberhasilan yang bersifat materialistik dan kapitalistik sebisanya untuk dikikis habis dan menempatkan ukuran kemanfaatan bagi semua harus mulai dibudayakan. Misalnya buat apa saya sekolah tinggi, kalau saya tak bisa memberi manfaat pada lingkungan saya. Budaya malu karena tak bisa memberi manfaat itulah yang selalu digelorakan. Nah ini juga diharapkan kepada para wakil rakyat yang mewakilinya, ada budaya malu bagi mereka karena tak bisa memberi manfaat perubahan kepada masyarakat yang diwakilinya.

Ketika saya berada dipasar Randu Agung Lumajang, saya sempat bertanya kepada ibu Sumi, pedagang di pasar tersebut, ibu berapa lama pisang Lumajang yang segar ini bisa bertahan di pasar. ” Biasanya bisa sampai 4 atau 5 hari “, ucap beliaunya. ” Kalau nggak habis, dikemanakan pisangnya? “, tanya saya. ” ua disisihkan, karena sudah tidak bisa lagi digunakan “, ujar bu Sumi. Hal yang sama terjadi pada penjual tomat dan genjer yang berlimpah. Bayangan saya ditengah komoditi desa yang berlimpah tak adakah hal lain yang bisa ditawarkan kepada masyarakat desa untuk mendaya gunakan hasil kekayaan alamnya dalam bentuk lain yang lebih kreatif dan menjanjikan peningkatan kesejahteraan?

Sentuhan kreatif bagi berlimpahnya sumberdaya yang ada mutlak harus dilakukan. Dan ini adalah tanggung jawab para pemimpin dan wakil mereka yang ada di parlemen. Mereka yang menggunakan suara rakyat mengantarkan mereka ke gedung pemerintahan dan parlemen, setidaknya merasa malu karena tak mampu memberikan sumbagan perubahan.

Pendidikan dan Kebudayaan harus selalu membangun kepekaan agar masyarakat semakin berdaya mendayagunakan potensinya untuk membangun kesejahteraan dan keberdayaannya. Perubahan cara berpikir masyarakat dalam mengukur sebuah keberhasilan dan pekerjaan juga harus dirubah. Bahwa bekerja itu tidak selalu berada dikantor dan berdasi, tapi bekerja itu bisa dimana saja, yang terpenting adalah bisa memberi kemanfaatan terhadap diri, keluarga dan masyarakat.

Adalah tugas semua baik itu orang tua maupun guru untuk melakukan perubahan cara berpikir anak anak mudanya. Tanpa perubahan itu desa akan menjadi museum besar yang akan ditinggalkan oleh penduduknya. Nah pertanyaan besarnya adalah bisakah perubahan berpikir yang radikal dari mental terjajah kepada mental merdeka dilakukan oleh para orang tua dan guru yang terjajah , masih sibuk berkutat pada apa yang didapatkan dibanding dengan apa yang diberikan?

Semoga saja bonus demografi menjadi kekayaan sumber daya yang baik bagi perubahan desa agar lebih berdaya dan menjanjikan. Semoga!

 

Surabaya, 22 Juni 2018

*Sekretaris LPA Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim dan Staf pengajar ilmu komunikasi Untag 1945 Surabaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here