Catatan Oase Kehidupan #120: Menjadikan Anak Anak Berani Bermimpi

0
167
Suasana lonvensi pendidikan indonesia yang ke VI di Mojoroto Kediri, The Naff School. diambil dari dokumen pribadi panitia

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Ahad (1/7), saya diberi kesempatan untuk hadir disebuah acara yang bertajuk konvensi pendidikan indonesia yang ke VI, dengan tema ihtiar menumbuhkan pendidikan yang mencerahkan, di Mojoroto Kediri, The Naff School.

Bagi saya ini sebuah konvensi ” orang orang gila ” yang berani keluar dari situasi pendidikan yang menyeramkan. Alhamdulillah ditengah perhelatan ini hadir 145 orang gila pendidikan dari seluruh Indonesia. Bu Sakti dari Lembaga Pendidikan Ibu, menyampaikan upaya ” gilanya ” mendirikan lembaga pendidikan yang dileruntukkan bagi kalangan miskin dan yatim piatu dengan jalan ” menyekolahkan ” SK PNS nya. Beliau bersama suaminya bertekad menyediakan pendidikan yang murah dan berkualitas.

Ada om Lukman Hakim, dengan Sekolah Dolannya. Di tahun ke 10 kegilaannya, rupanya tidak semakin meredah, bahkan virus gilanya merebak keberbagai pelosok di Indonesia. Apa yang ditawarkan sekolah dolan merupakan sesuatu yang diluar kebanyakan sekolah. Orang tua diajak menyusun kurikulum belajar anaknya masing masing, sehingga keluaran siswa satu dengan yang lainnya juga berbeda. Sekolah ini juga tidak ada aturan yang mengikat, sehingga Om Lukman menyebutnya sebagai sekolah tanpa aturan. Anak anak betul betul bermain sambil belajar di sekolah dolan.

Romo Kentar juga menawarkan sesuatu yang diluar mainstream. Sekolah garasi sekolah tanpa batas waktu. Tergantung kemampuan masing masing anak. MI Amanah sebagai ladang persemaiannya memberikan kebebasan kepada anak anaknya untuk menetukan cara belajarnya, sehingga guru betul betul melayani muridnya. Sekolah di MI Amanah serasa berada dirumah sendiri. Sehingga anak anak enggan untuk pulang.

Begitu juga dengan bunda Najma, beliau juga memberikan resep yang sudah dijalankan melayani semua anak dengan segala potensi dan keterbatasan yang dimiliki, beliau sudah banyak menuliskan dalam buku pengalaman pengalaman baiknya dalam melayani anak didik.

Mr Nafik yang kalau boleh dibilang sebagai ” biang kerok “dalam acara kali ini dengan kegilaannya menyediakan tempatnya dan segala ilmu yang dimilikinya kepada semua peserta. Beliau sampaikan bagaimana membuat rancangan sekolah yang ramah dan terukur capaiannya, sehingga beliau membuat semcam SOP tentang sekolah yang bekualitas.

Ada juga Kak Rubby, Relawan Alumni Tsunami Aceh dengan kreatifitas dan dongengnya, memberikan beberapa jurus bagaimana ” menaklukkan ” siswa dengan cara yang ramah. Belum lagi Bu Rahmi, Bos Pusat Studi Autis terbesar di Indonesia yang berada di Kota Blitar, beliau seolah ” oase ” anak anak autis, karena meski berada di Blitar tak segan melayani anak anak dari luar kota Blitar.

Saya sebagai bagian kecil dari konvensi itu, merasakan betapa situasinya seperti pertemuan para pendekar persilatan di komik komik yang saya baca, satu sama lain menyampaikan kebaikan kebaikan pendidikan yang sudah dilaksanakan, tapi bukan untuk menang dan kalah, Konvesi lebih mempunyai semangat saling menguatkan, saling melengkapi dan saling bersinergi, sehingga banyak terjadi berbagi pengalaman baik dan menjalin sillaturahmi. Beruntung saya ditakdirkan berada ditengah tengah mereka.

” Sesungguhnya kalian semua adalah ummat terbaik, ketika kalian saling membangun kekuatan kebaikan dan mencegah terjadinya keburukan, dan kalianlah nantinya sebagai pemenang ”

” Bertolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan jangan bertolong menolong dalam hal keburukan dan dosa ” (Al Qur’an)

 

Surabaya, 2 Juli 2018

*Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak ( LPA ) Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Staff Pengajar Ilmu Komunikasi Untag 1945 Surabaya dan STT Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here