Catatan Oase Kehidupan #128: Zohri dan Sepak Bola Serta Mengasah Pisau Dari Sisi Tumpulnya

0
110
Sang Bintang: Zohri sesaat setelah tiba digaris finish diambil dari sport.tempo.co

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Loh tiba tiba nama Zohri disebut sebut dalam setiap unggahan di medsos. Menjadi lebih dramatis lagi, ketika kemudian ada yang mempublikasikan sisi lain Zohri, Zohri tinggal di gubug reot dan koleksi medali yang dipunyai. Lalu saya merenung, bagaimana Zohri bisa juara dunia dan juga bisa mengkoleksi 20 medali tanpa ada yang tahu. Jangankah saya yang jauh dari Nusa Tenggara Barat, Gubernurnya aja juga nggak tahu. Lalu apa saja dilakukan oleh kepala daerahnya, sampai tidak tahu ada emas dan tunas baik yang tumbuh di kubangan gubug reot.

Saya pertama kali membayangkan, jangan janagan si Zohri ini siluman atau titisan dari mahluk halus. Mengapa? Bisa dibayangkan dia menjuarai lari cepat dunia bukankah tidak bisa begitu saja, pastilah ada kejuaraan kejuaraan di tingkat lokal maupun nasional yang dia ikuti, dan saya yakin perlombaan lari yang dia ikuti pesertanya pastilah manusia semua, tidak ada yang berasal dari bangsa jin. Lalu mengapa sampai tidak diketahui?

Bagi saya ini bukan persoalan diketahui atau tidak, tapi sejatinya inilah menunjukkan perilaku kita sebagai bangsa. Bangsa yang seringkali kurang tepat memperlakukan sesuatu sesuai dengan ketepatannya. Bangsa yang senang disebut dengan bagsa yang suka bekerja keras, meski hasilnya juga tak selalu sebanding dengan energi dan biaya yang dkeluarkan. Bangsa yang menyukai sesuatu karena kebanyakan yang menyukainya, meski sejatinya apa yang disukai itu tak pernah bisa memberikan sesuatu seperti yang diharapkan, bangsa yang mengasah pisau dari sisi tumpulnya. Bangsa sering abai terhadap sesuatu yang berpotensi besar untuk dikembangkan.

Mengasah pisau dari sisi tumpulnya memang bisa mempertajam sisi yang tumpul, tetapi membutuhkan waktu yang cukup lama dan energi yang besar juga, bahkan bisa jadi juga kalau kita tidak beruntung maka sisi tajamnya akan menjadi tumpul, karena kita terlalu fokus pada sisi yang sulit, sementara sisi yang mudah kita abaikan. Perumpamaan diatas seperti yang sekarang ini terjadi. Betapa banyak biaya dikeluarkan untuk sebuah konpetisi sepak bola tanah air, tapi pernahkah kemudian Indonesia mampu mengirimkan tim sepak bolanya ke ajang yang lebih besar setingkat asia atau dunia dan bahkan bisa menjadi juara? Saya tidak hendak mengatakan bahwa kita tidak perlu mengurusi sepak bola, tapi saya ingin mengatakan bahwa sepak bola dalam sistim olah raga kita saat ini ibarat sisi tumpul pisau dan sayangnya kemudian tidak mendapatkan orang yang tepat untuk mengasahnya. Jadi meski kelihatannya kita serius fokus memperdulikannya, tapi ketidaktepatan dalam memperlakukan sepak bola sebagai olah raga yang mampu memberikan sesuatu yang menggembirakan berupa harapan juara, tak kunjung bisa kita dapatkan. Kita menjadikan keseriusan yang kita hanya sebagai hiburan agar kelihatan seolah olah serius. Oleh karenanya, dalam hal sepak bola, tak cukup hanya dengan anggaran besar yang diberikan, tapi sepak bola harus diurus oleh mereka yang berjiwa sepak bola, sehingga mampu melihat dengan jeli sisi sisi yang tajam lalu mengasahnya. Kalau ini yang dilakukan, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi kekuatan bola yang luar biasa.

Tengoklah bulu tangkis dan lomba lari, tak butuh hingar bingar dan apalagi tawuran antar supporternya yang menyebabkan kerugian luar biasa, tapi bulu tangkis dan lari kita mampu memberikan medalu juara. Bahkan yang lebih luar biasa lagi, sisi gelap lain lomba lari kita, meski senyap dan tak hingar bingar, mampu melahirkan juara dunia melarikan diri 100 T, para pengemplang BLBI.

Dalam tulisan ini yang menjadi pesan adalah, kesungguhan saja tidak cukup tapi fokus dan ketepatan sangat dibutuhkan dalam melahirkan juara. Ketepatan yang dimaksud juga ketepatan dalam membentuk perilakuknya dan ketepatan memahami kompetensi yang dimiliki oleh pelakunya. Dalam olahraga tidak hanya cukup mendapatkan pelatih yang hebat, tapi juga dibutuhkan pelatih yang bisa melihat celah pemain agar bisa dikembangkan potensinya serta yang tak kalah pentingnya adalah kesungguhan pengurus yang sesungguhnya dalam mengurus olah raga.

Selain itu tengoklah, betapa banyak anak bangsa ini yang berprestasi di negeri orang, mengapa bisa terjadi? Karena dinegeri sendiri tak pernah dihargai dan diapresiasi. Semoga kelak lahir pemimpin yang mengerti dan peduli, sehingga kita tak akan mendengar lagi anak negeri yang berprestasi diapresiasi negara lain, hanya karena dinegerinya sendiri tak dihormati.

Selamat kepada Zohri dan Zohri lain dalam bidang olah raga, tehnologi dan bidang lain yang meski dalam senyap, tapi anda mampu mengibarkan merah putih dengan megahnya.

” Barangsiapa yang sungguh, maka dia akan memetik hasilnya ”

 

 

Surabaya, 14 Juli 2018

 

*Penulis dan Staf Pengajar Fisip Ilmu Komunikasi Untag 1945 Surabaya dan STT Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here