Catatan Oase Kehidupan #134: Alhamdulillah Saya Bisa Melayani

0
61
Foto dokter dan perawat siap melayani sepenuh hati diambil dari rsmlamongan.com

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Melayani adalah sebuah aktifitas yang memberikan sesuatu kepada orang lain agar orang lain merasakan kebahagiaan atas sesuatu yang kita lakukan. Melayani sejatinya profesi yang digerakkan oleh hati nurani, karena dalam melayani yabg diharapkan adalah agar orang lain merasa puas atas apa yang kita lakukan.

Dalam melayani sejatinya terkandung makna pelayan mempunyai ” kelebihan ” sehingga dia bisa memberikan layanan kepada orang yang membutuhkan. Berbeda dengan pelayan sebagai profesi, disana terjadi hubungan kerja yang berakibat sesuatu pada yang melayani dan yang dilayani.

Ketika melayani menjadi sebuah pilihan, maka profesi melayani pastilah hanya akan bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki kelebihan. Disana ada jiwa pengorbanan, disana ada kemauan untuk berbagi dan melindungi, sehingga melayani hanya akan bisa dilakukan oleh mereka yang ” kuat ” dan mempunyai ” kelebihan “. Melayani tidak mengenal latar belakang sosial dan ekonomi, melayani lebih banyak dipengaruhi oleh kemauan batin.

Suatu saat Nabi pernah kedatangan seorang tamu. Seperti biasanya, kalau kedatangan tamu, Nabi selalu menghormati. Kemudian Nabi menawarkan kepada para sahabat, siapakah diantara mereka yang bersedia melayani dan menjamu tamunya.

Dikisahkan pada suatu hari ada seseorang mendatangi Rasulullah. Pada wajahnya terlihat jelas bekas-bekas perjalanan jauh. Kemudian orang tersebut mengutarakan kehendaknya seraya berkata, “Wahai Rasulullah aku telah tertimpa kesusahan. Aku sangat lapar.”

Dengan segera Rasulullah menanyakan kepada istri beliau, “Adakah makanan yang dapat dimakan orang ini? Namun istri beliau berkata, “Demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, saya hanya memiliki air minum saja. Kemudian beliau mendatangi istri yang lain namun mendapat jawaban yang sama. Mereka tidak ada yang mempunyai makanan pada waktu selain air minum.

Kemudian Rasulullah menanyakan kepada para Shahabatnya, “Apakah ada salah seorang di antara kalian yang mau menjamu orang ini sebagai tamu? Maka Abu Thalhah Al Anshari berdiri seraya berkata, “Aku wahai Rasulullah.”

Abu Thalhah adalah seorang shahabat dari kalangan kaum Anshar. Nama aslinya adalah Zaid bin Sahl bin Al Aswad bin Haram An Najari Al Anshari. Abu Thalhah adalah suami Ummu Sulaim, Ibu dari Anas bin Malik.

Selanjutnya Abu Thalhah membawa tamunya ke rumah. Ia menemui istrinya dan menanyakan adakah makanan yang dapat disuguhkan untuk tamunya. Istrinya menjawab bahwa tidak ada sama sekali kecuali cadangan makan malam untuk anak-anaknya.

Kemudian Abu Thalhah menyuruh istrinya, “Wahai istriku, bila makan malam tiba, maka tidurkanlah anak-anak dan sediakan makanan untuk jamuan tamu kita dan jangan lupa matikan lampu agar ia tidak tahu kalau kita tidak makan.”

Istri Abu Thalhah mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya. Dalam keadaan gelap, keduanya duduk bersama menemani tamu sambil berpura-pura makan padahal mereka tidak memakan apa-apa. Maka tamu tersebut makan hingga kenyang sedang Abu Thalhah dan keluarganya bermalam dalam keadaan lapar demi memuliakan tamunya.

Allah memberitahukan apa yang terjadi kepada Nabi dan Nabi merasa sangat gembira. Kemudian beliau menyampaikan kabar gembira ini kepada Abu Thalhah, bahwa Allah telah meridhainya dan keluarganya serta meridhai apa yang telah mereka perbuat untuk tamunya.

Subhanallah sungguh Abu Thalhah telah membuktikan kesempurnaan imannya. Beliau merelakan diri dan keluarganya bermalam dalam keadaan lapar demi menjamu tamunya. Karena beliau mengerti betul keutamaan menghormati tamu. Menghormati tamu merupakan tanda kesempurnaan iman dan kebaikan Islam seseorang. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah telah bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Kisah diatas memberi pesan bahwa kesediaan melayani tidak selalu berkaitan dengan kelebihan harta tapi selalu berkaitan dengan kelebihan ” hati ” dan jiwa besar untuk berbagi. Nah sebagai pengingat mari kita semai didalam diri jiwa melayani, setidak tidaknya setiap hari kita bisa berbuat sesuatu yang dirasakan manfaat dan memberi kebahagiaan, meski itu hanya berupa senyuman. Kalau kita tak bisa melayani orang lain, setidaknya kita jangan mengambil haknya, kalau kita tak bisa menyenangkan, setidaknya jangan menyakiti, kalau kita tak bisa memberi nasehat, setidaknya jangan menggunjing. Jiwa melayani adalah jiwa sportif dan jiwa sang pemenang.

Siapapun kita, mari kita hiasi aktifitas kita dengan jiwa melayani. Betapa bahagianya para murid bila para guru dan sekolah kita dilakukan dengan semangat melayani. Betapa bahagianya para karyawan kalau para pemimpinnya berjiwa melayani, betapa indahnya Indonesia kalau para pemimpin dan aparatnya berjiwa melayani, betapa kuatnya jiwa kesatuan Indonesia kalau semua rakyat dan aparatnya saling melayani.

 

 

Surabaya, 20 Juli 2018

*Sekretaris LPA Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim dan Staf Pengajar Fisip Ilmu Komunikasi Untag 1945 Surabaya dan STT Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here