Catatan Oase Kehidupan #136: Ketika Fase Libido Membuncah

0
136
Foto lezatnya makanan pizza diambil dari kaskus hot threads

KLIKMU.CO

Oleh: M. Isa Ansori*

Ketika malam malam mengendap, maka bergegaslah Ken Arok menyelinap dikamar Kebo Ijo untuk mengambil keris, sejenak setelah itu terjadilah peristiwa pembunuhan terhadap sang raja, Tunggul Amaetung. Maka saat itu gegerlah seantero kerajaan, dan tentu yang menjadi tertuduh adalah si Kebo Ijo, karena memang berhari hari Kebo Ijo selalu memamerkan keris pinjamannya seolah miliknya kepada khalayak. Kebo ijo tak bisa menolak tuduhan pembunuhan, karena alat bukti berupa keris tergeletak disebelah jasad sang raja.

Nah apa yang dilakukan oleh si Kebo Ijo merupakan tuntutan dari dalam diri agar setiap orang yang melihat dirinya bersama kerisnya akan menganggap dirinya hebat dan luar biasa, meski sejatinya anggapannya tak selalu benar. Kebo Ijo hanya ingin memuaskan dirinya dengan anggapan orang lain yang telah dibentuknya. Tapi sayangnya, pujian terhadap Kebo Ijo tak selamanya tulus, bahkan Ken Arok pun dengan kecerdikannnya memanfaatkan itu untuk kepentingannya.

Nah kawan dalam hidup juga seringkali seperti itu. Kita sering terprofokasi dengan kebutuhan pemuasan diri yang kadang kita tak pernah mengukur diri. Yang ada hanyalah kita ingin puas terhadap apa yang kita lakukan, hasilnya seperti apa, tak pernah terpikir oleh kita. Yang kita pikirkan adalah kebutuhan pemuasan sesaat, Kebutuhan pemuasan seperti itu tak beda dengan kebutuhan pemuasan libido.

Pada fase fase seperti ini kalau kemudian pada masa masa kita sekarang, sejatinya ini menggambarkan kita pernah mengalami ketidaktuntasan pemuasan pada masa lalu. Fase pemuasan libido seperti ini merupakan gambaran fase fase awal tumbuh kembang kita sebagai manusia. Nah bisa diduga kalau
Pada usia tumbuh kembang yang sudah lewat, kita masih mengalami kebutuhan pemenuhan kepuasan sesaat, setidaknya kita pernah mengalami keterhambatan pemenuhan saat saat awal tumbuh kembang.

Kebutuhan pemuasan diri akan sesuatu yang bersifat ekonomi menunjukkan fase kehidupan kita selalu berputar putar pada kebutuhan dasar yang tak pernah selesai. Hal ini juga menggambarkan betapa tak mampunya kita beranjak mengantarkan fase fase kehidupan yang kita lewati kearah yang lebih dewasa. Kita hanya berkutat pada persoalan penyelesaian kasus untuk pemuasan diri, tak mampu menangkap esensi mengapa kasus itu terjadi.

Belajar Memahami Zona

Memahami zona merupakan kemampuan menempatkan diri pada posisi yang tepat dan mengaktualisasikan kebutuhan yang tepat. Setiap orang pasti mempunyai zonanya masing masing. Memaksakan zona kepada orang lain adalah wujud dari ketidak mampuan kita memahami zona yang lain, sehingga seringkali orang lupa dan tak mampu bergerak dari zona nya.

Ketakmampuan bergerak dari zonanya merupakan potret kualitas diri setiap orang. Kualitas diri seseorang sangat dipengaruhi oleh kemampuan seseorang mendidik dirinya dan bertahan pada pengaruh lingkungan. Kualitas mendidik diri kadang juga dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, latar belakang sosial dan lingkungan serta dengan siapa kita bergaul. Latar belakang inilah yang kemudian sering dburu orang agar terhindar dari sesuatu yang tidak berkualitas.

Memotret kualitas diri bisa dilihat dari seperti apa seseorang bergelut dalam kehidupannya, misalkan kalau kita sekolah hanya bertujuan dapat pekerjaan, tanpa berpikir bahwa dengan ilmu yang kita pahami, kita akan bisa melangsungkan kehidupan ,maka sejatinya kita masih berada pada kualitas awal pemenuhan libido, kalau kita bergerak hanya merespon kasus kasus yang ada tanpa bergerak kearah memperbaiki sistem yang menyebabkan kasus yang muncul, maka kita masih berada pada fase awal pemuasan dan setrusnya. Pemenuhan kebutuhan secara pragmatis tanpa upaya memperbaiki sistem, merupakan bentuk peningkatan kualitas diri yang terlambat. Pemenuhan kebutuhan pragmatis biasanya hanya dilakukan oleh mereka yang menjalani fase kanak kanaknya.

Kebutuhan tertinggi manusia adalah kebutuhan beraktualisasi. Aktualisasi merupakan karya kebaikan yang bisa dirasakan oleh orang lain. Aktualisasi merupakan gerakan yang tersistem dan merasuki sistem agar berpihak pada apa yang kita sebut dengan kebaikan. Aktualisasi akan bisa dijalankan kalau kita sudah selesai pada persoalan persoalan pragmatis. Karena dengan begitu kita bisa menembus ruang ruang taktis dan strategis mewujudkan keberpihakan terhadap kebaikan.

Semoga saja kita mampu keluar dari zona pragmatis menuju zona strategis dan hanya mereka yang terdidik dan berusaha mendidik dirinyalah yang akan mampu menjadikan dirinya berkualitas. Hidup itu bergerak, bergerak yang mencapai tujuan itulah yang disebut aktifis, bergerak yang tak beraturan itulah yang disebut dengan gerakan.

Nah kalau anda mentasbihkan diri sebagai seorang aktifis, mulailah mendidik diri melakukan gerakan gerakan yang bertujuan. Gerakan berrujuan itu harus terukur capaian capaiannya. Capaian yang terukur hanya bisa didapat kalau langkah langkah mencapainya jelas dan bisa diukur sesuai dengan kapasitas yang anda miliki. Jadi cerdaslah kalau menjadi aktifis.

 

Surabaya, 25 Juli 2018

*Pegiat penulisan, staf pengajar ilmu komunikasi Untag 1945 Surabaya dan STT Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here