Catatan Oase Kehidupan #142: Kita dan Ruang Unit Gawat Darurat

0
61
Foto ruangan igd diambil dari dokumen Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Ansori*

Teriakan kesakitan, isak tangis, kesedihan dan wajah wajah yang menampakkan kegundahan melusuh dipelataran ruangan memanjang. Deretan bangku bangku panjang dilapisi kasur empuk terbujur wajah wajah meregang. Suara sirine tak henti hilir mudik memekakkan rasa.

Ruangan ini pengab, bau anyir darah dan sesekali terdengar teriakan tangis karena ada yang meregang nyawa. Pilu isak tangis, menggerakkan tangan tangan medis cekatan. Anak anak muda itu berjibaku memegang luka dan merawat asa, sesekali tampak diantara mereka berdiskusi didampingi mentor senior mereka.

Kagumku menyapa para dokter dan paramedis yang ada, tak henti mereka melayani pasien silih berganti, senyum menghiasi wajah mereka diantara keseriusan memaksa. Ruang unit gawat darurat itu menyapa hariku.

Sejenak kemudian aku membayangkan ruang itu seolah potret masyarakatku yang berada diruang Indonesia. Ada diantara ruang itu mereka yang harus menahan sakit karena persoalan sosialnya. Besok makan apa, kalau sakit bagaimana pembiayaannya, anak anaknya akan bersekolah dimana ditengah mahalnya biaya biaya. Ruangan itu pengab dan ada jeritan jeritan dan teriakan teriakan menggema.

Sang mentor yang semestinya melayani tak kuasa memberi, karena sang mentor sedang menyiapkan perhelatannya yang harus lebih banyak meminta. Kuasa janji memijar sukma, jiwa terbelnggu tergoda, pada akhirnya akal budi membenam dalam asa tak nyata.

Rasa sakit tak sirna hanya obat penawar nyeri menyapa, sehingga penyebab sakit tak terjamah. Obat penawar hanya sementara. Sewaktu waktu penyebab sakit akan membuncah ke raga mereka. Pasien UGD Indonesia tak sembuh dari sakitnya.

Program program ” kerakyatan ” kesehatan ibarat penawar rasa nyeri yang tak menyembuhkan penyakitnya. Penyakit tetap bertahan hanya rasa sakit yang dihilangkan. Penyakit kebodohan dan kemiskinan dan ketidak adilan hanya sesaat akan teelihat tertutupi, tapi sejatinya penyakit bertumbuh dan beranak pinak bak virus ganas menapak.

Akademisi, intelektual dan aktifis sejatinya menjadi ruang asa memberi obat penyembuh penyakit, berubah menjadi penjaga agar rasa sakit tak mengangah. Penyakit mereka biarkan bertumbuh, hanya rasa sakit mereka carikan dalil agar tak terasa.

Indonesiaku, Kotaku….tak ubahnya seperti ruangan unit gawat darurat, teriakan sakit dan butuh pertolongan, para mentor yang mampu membimbing kita semua agar bisa menjadi petugas medis menyembuhkan sakit dan membunuh akar penyakit bangsa.

 

Surabaya, 2 Agustus 2018

M. Isa Ansori

*Pegiat penulisan dan staf pengajar ilmu komunikasi Fisip Untag 1945 Surabaya dan STT Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here