Catatan Oase Kehidupan #143: Kehilangan Kunci dan Dekrit

0
143
Foto kunci diambil dari merlung.wordpress.com

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Apa yang terjadi, ketika anda berjalan menuju sebuah tempat, lalu anda memarkir kendaraan anda, setelah itu anda melaksanakan aktifitas. Setelah selesai ketika mau balik, ternyata kunci kendaraan anda hilang tak tahu kemana, sementara kunci serep tidak dimiliki. Anda pasti akan mencarinya. Anda pasti akan berusaha mengingat kemana saja anda berjalan dan mencoba mencari pada tempat tempat dimana anda beraktifitas. Kalau setelah anda mencarinya tak ditemukan, maka apa yang akan anda lakukan? Tetap mencari dan menunggu atau memutuskan untuk mencari tukang kunci dan membeli atau membuatnya.

Kunci merupakan hal penting untuk menjalankan kendaraan ketika semua komponen yang ada siap untuk dijalankan. Sehingga kehilangan kunci kendaraan akan membuat anda kesusahan atau tertinggal waktu anda karena harus mengurusi bagaimana mendapatkan kunci baru.

Kecepatan dan ketepatan anda dalam mengambil keputusan, merupakan hal penting dalam menetukan langkah lanjutan. Kalau anda tetap berharap akan ditemukan, maka anda akan diam dan bergerak pada posisi dimana tadi anda berkunjung. Sehingga anda tak mampu keluar dari zona yang ada. Anda hanya akan berputar putar dan menunggu, sementara kepastian tidak ada. Kalau anda segera memutuskan mencari tukang kunci untuk membuat baru, maka anda akan mendapatkan kepastian, meski dalam mendapatkan kepastian itu diperlukan pengorbanan. Anda keluar dari zona yang ada, tapi kepastian ada dihadapan. Anda akan punya harapan.

Nah apa yang terjadi pada kehidupan bernegara kita ini seolah kehilangan kunci. Kunci bernegara kita telah sengaja dihilangkan. Reformasi yang sejatinya diharapkan akan mampu mengembalikan kembali kunci negara yang terampas, ternyata justru tidak berdaya memgerem laju kehilangan. Amandemen UUD 1945 adalah upaya sengaja menghilangkan kunci membangun negara yang diwariskan oleh pendiri bangsa. Tentu saja untuk membukanya diperlukan tukang kunci agar bisa membuat yang baru sesuai dengan pintunya. Amandemen UUD 1945 seolah membuang pintu asli dan menggantinya dengan yang baru yang dilabeli dengan asli.

Tentu saja kunci yang dipakai adalah kunci baru yang berbeda dengan kunci asli yang telah dihilangkan. Pintu dengan kunci aslinya, ibaratnya adalah Indonesia yang digagas oleh para pendiri bangsa, sehingga kekhasan dan keberpihakan pada keaslian sangat dijunjung. Gagasan asli UUD 1945 adalah mensejahterakan rakyat dan meletakkan rakyat Indonesia pada posisi utama. Ketika kunci dan pintunya sudah tidak asli, gagasan kebangsaan kita menjadi sangat liberal dan tidak berpihak kepada rakyat, kepentingan pemilik modal sangat diutamakan. Negara menjadi tak berdaya, karena memang pemegang kunci palsu telah merajalela. Mereka dibahagiakan oleh kepalsuan kunci negara.

Mengembalikan kembali pintu dan kunci aslinya, maka akan memudahkan kita mengurai carut marut akibat dari menggunakan kunci palsu. Bahasa saya mengembalikan kunci asli merupakan sebuah harapan agar Indonesia tidak menghamba kepada kepentingan neokolonialisme, tapi justru menghamba kepada rakyat dan mensejahterakannya.

Presiden merupakan pemegang mandat untuk membuka pintu dengan kunci yang diberikan. Kalau presiden menikmati dengan kunci palsunya, maka dipastikan carut marutnya akan bertambah. Sebaliknya kalau presiden menyadari akan ketidak aslian kunci dan pintunya, dan berani meninggalkan ambisi keserkahan atas kepalsuan kunci yang dipegang, maka presiden akan kehilangan keuntungan pribadinya tetapi rakyat akan diuntungkan.

Sebagai warga bangsa tentu kita semua berharap kita menjadi sejahtera dan dilindungi hak hak kita. Sehingga berharap kepada prseiden untuk menemukan kembali kunci aslinya merupakan sebuah keniscayaa. Dekrit presiden ditengah carut marut bangsa merupakan cara menemukan kembali kunci asli bangsa ini. Kalau tidak rakyat mesti harus berharap kepada dirinya sendiri untuk menemukan pemimpin yang berani mengembalikan kunci asli.

Ditengah upaya saling dukung mendukung calon presiden tahun 2019, bagi saya tentu merupakan sesuatu yang strategis terlibat dalam mengurai persoalan bangsa. Oleh karenanya bagi saya menjadi penting presiden kita kedepan haruslah orang yang mempunyai keberanian mengembalikan Indonesia kepada UUD 1945 dengan jalan apapun. Dekrit adalah sebuah pilihan murah. Berpihak pada rakyat dan sanggup menjamin kesejahteraan rakyat.

Surabaya, 03 Agustus 2018

*Penulis dan pegiat sosial, warga Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here