Catatan Oase Kehidupan #146: Ketika Cinta Berbalut Curiga

0
58
Foto orang curiga diambil dari maskur's Blogs

KLIKMU.CO

Oleh: M.Isa Anshori*

Hari hari ini saya mengikuti perdebatan nama jalan Dinoyo sebagian yang akan dirubah menjadi Jalan Sunda. Setidaknya dari hasil rembug warga Dinoyo, didapatkan bahwa jalan Dinoyo sepanjang 200 meter dari total panjang jalan 1.3 Km akan ” ditempil ” oleh pemerintah propinsi Jawa Timur. Penempilan jalan Dinoyo dan jalan Gunungsari yang sebagian itu merupakan sebuah konsekwensi dari sebuah komitmen besar merawat NKRI tanpa curiga.

Bersama Gubernur Jogja Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur Jawa Barat Aher dan Gubernur Jawa Tinur Soekarwo, mereka melebur dalam satu rasa NKRI, melebur rasa membenam curiga dan menyemai cinta. Mereka sadar bahwa selama ini mereka dibelenggu mitos berkepanjangan bahwa ada ” dosa sejarah ” diantara mereka. Konon katanya beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa pemantik dosa itu sejatinya buatan penjajah Belanda yang tak sudi melihat Indonesia merdeka.

Ketika sebagian orang berteriak mencintai NKRI dengan dengan balutan kecurigaan, ada sebagian dari mereka yang totalitas mencintai NKRI tanpa kecurigaan. Mereka ini adalah rakyat jelata yang yang selama ini tak dianggap. Sebut saja mereka para supporter bola Persebaya Surabaya dan Persib Bandung, Bonek dan Viking. Mereka teriak lantang sebagai saudara, ” Bonek dan Viking ” bersaudara.

Saya mencoba memahami alasan semua perbedaan persepsi yang ada. Ada baiknya nama jalan baru diberikan kepada japan baru, saya kira alasan ini juga bisa diterima. Ada juga yang beralasan mereka bisa menerima perubahan jalan, toh yang dirubah hanya sepanjang 200 Meter dari total panjang jalan yang 1.3 Km. Bahkan nama kampung kampung sepanjang jalan Dinoyo juga tak ada yang berubah. Mereka membuat perumpamaan sebagaimana jalan Kaliasin yang bersejarah diubah menjadi jalan Basuki Rahmat, tapi Kampung Kaliasin yang bersejarah juga masih terjaga. Ada juga ialan Dr Soetomo yang berubah menjadi jalan Polisi istimewa.

Sejatinya perbedaan pendapat telah menjadi bahan para wakil rakyat yang ada di gedung Yos Soedarso, dengan melibatkan mereka yang disebut ” pakar ” dalam urusan sejarah. Perbedaan pendapat yang diolah di Yos Soedarso telah melahirkan kesimpulan bahwa mereka bisa menerima perubahan dengan catatan rakyat terdampak tak boleh dirugikan.

Mencintai NKRI tentu saja mencintai rakyatnya. Nah dampak apa yang dirasakan oleh masyarakat, sejatinya inilah yang layak diperjuangkan, karena memang disinilah substansi kecintaan kita terhadap NKRI. Tak mungkin membangun Indonesia dengan semangat kedaerahan, tak mungkin kita bisa mencintai Indonesia secara utuh kalau kita masih menyimpan dendam, terlebih lagi dendam sejarah yang juga dibikin oleh penjajah Belanda.

Membangun NKRI dengan kearifan lokal adalah sebuah kebutuhan, karena Indonesia memang sangat kaya dengan perbedaan. Kearifan lokal itulah yang bisa merangkai perbedaan menjadi kesatuan yang indah. Indonesia yang elok ibarat butiran mutiara yang berserakan dan dengan semangat 17 Agustus 1945 para ” founding father ” merangkainya.

” Nempil ” adalah sebuah kata bijak yang menyiratkan sebuah kearifan lokal yang agung. Meluruhkan keangkuhan. Dari kata ” nempil ” ini menyiratkan bahwa yang meminta menposisikan pada posisi tak berdaya, butuh kerelaan pemiliknya. Sementara pemilik juga dengan kerendahan hati dan kerelaan memberikan sebagian kecil yang dimiliki, tak ada keangkuhan. Nah didalam kata ” nempil ” inilah sejatinya ” ruh ke Indonesiaan ” terjaga.

Dalam kegundahan yang membenam dalam, saya mencoba memaknai ajaran ” Snock Hougronye ” tentang memecah belah suatu bangsa. Dan Snouck haruslah diacungi jempol sebagai sosok yang sukses merawat dendam sejarah antar anak bangsa.

Selamat Merayakan ” Kemerdekaan ” dan Merayakan Kembali Menjadi Indonesia.

Surabaya, 9 Agustus 2018

*Penulis dan warga Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here