Catatan Oase Kehidupan #152:Ketika Kehormatan Dihilangkan

0
162
Foto Bung Karno ketika orasi ganyang malaysia diambil dari Tribbunews.com

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Apa yang menjadi kebanggan seseorang terhadap dirinya sendiri? Tentu ada harga dirinya, siapa yang bisa menghargai diri? Tentu saja ya kita sendiri, jangan pernah berharap orang lain akan menghargai diri anda, kalau anda sendiri tak pernah bisa menghargai diri anda.

Harga diri adalah sebuah kehormatan yang dimiliki oleh setiap orang. Dengan harga diri itulah setiap orang akan bisa menentukan seperti apa dirinya akan bersikap dan bertindak. Harga diri berkaitan dengan perilaku diri kita terhadap diri maupun orang lain, sehingga berakibat timbulnya sebuah penilaian.

Harga diri selalu berkaitan dengan nilai nilai yang berlaku secara universal tanpa harus melupakan nilai nilai yang berlaku disuatu tempat. Ada kearifan lokal yang terkandung ditengah universalisme nilai yang dianut. Sebagai contoh kalau anda seorang profesional, maka nilai nilai perilaku yang anda lakukan akan selalu disesuaikan profesi yang anda jalankan, sehingga akan ada penilaian terhadap diri anda dan profesi yang anda lakukan.

Semalam saya mendapatkan WA dari beberapa kawan media bahwa akan ada penangkapan terhadap mahasiswa ” separatis ” yang tinggal di asrama mahasiswa Papua di Surabaya. Mereka dilaporkan oleh aktivis sekretariat bersama Benteng NKRI yang terkena luka bacok karena terjadi bentrok antar mereka. Para aktivis sekber NKRI mengajak mereka secara baik baik untuk mengibarkan bendera merah putih di halaman asrama mereka berkaitan dengan peringatan 73 tahun kemerdekaan RI. Rupanya terjadi kesalah pahaman antar mereka, sehingga terjadilah bentrok. Salah seorang dari aktifis NKRI, Arifin, mengalami luka bacok akibat tebasan parang yang dilakukan oleh oknum mahasiswa papua ” separatis “. Sehingga berujung pada pelaporan dan penangkapan.

Nah saya hanya menggambarkan bahwa apa yang dilakukan oleh mereka oknum mahasiswa ” papua ” separatis sebagai sebuah ungkapan kemarahan dan kekecewaan mereka terhadap kondisi daerah Papua yang mereka rasakan, ibarat anak, mereka adalah anak anak muda yang butuh perhatian dan pembinaan. Sehingga mereka bisa menjadi lebih jernih melihat persoalan yang ada. Sayangnya apa yang mereka dapatkan bukanlah pembinaan dan pengarahan yang jernih, tapi justru disana muncul kelompok kelompok kepentingan yang bergerak atas nama kemanusiaan dan HAM. Padahal sejatinya yang terjadi adalah persoalan distribusi keadilan yang tidak merata. Akibatnya apa? Mereka melakukan hal hal yang kurang simpatik ditengah kehidupan warga Surabaya yang sudah tentram dan damai dan bisa memghargai setiap perbedaan yang ada.

Peristiwa kemarin seperti seorang ibu yang merawat anak anaknya dengan baik, tetapi karena ada diantara anak anak yang tidak puas atas pelayanan ibunya, lalu mereka memaki maki ibunya dan diperparah dengan dorongan dorongan boleh memarahi ibu atas nama hak dan keadilan. Nah tidak bisakah si anak berbicara dengan santun kepada ibu yang membesarkan dan merawatnya? Dalam perpspektif nilai nilai keagamaan dan kebudayaan tindakan memarahi ibu pertiwi yang sudah memberi tempat untuk belajar tapi karena dirasa tak memuaskan lalu mencela ibu pertiwi merupakan tindakan kehilangan nilai dan kehilangan harga diri.

Apa yang bisa diharapkan dari sebuah perilaku yang kehilangan nilai dan kehilangan harga diri? Tentu tidak ada, yang ada perilaku seperti ini akan menjadi ancaman disintegrasi bangsa. Bagi saya tindakan seprti ini sejatinya harus dikembalikan kepada aturan yang berlaku. Negara harus tegas, jangan tebang pilih. Siapapun yang terlibat dan didapati melakukan dorongan rongrongan gerakan yang mengancam kesatuan bangsa harus dilakukan tindakan tegas atas nama undang undang yang ada.

Hal lain yang ingin saya sampaikan adalah negara juga bersikap adil dalam distribusi kesejahteraan terhadap rakyatnya. Jangan sampai negara justru menjadi pemicu terjadinya perilaku yang menyimpang. Sehingga kalau negara bisa berlaku adil dan baik terhadap rakyatnya, tidak akan mungkin terjadi tindakan tindakan ” menyimpang ” dari anak anaknya.

Sebagai anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang menghargai perbedaan dan kegotong royongan tentu perilaku kita diharapkan bisa menempatkan diri ketika berada dirumah orang lain, tak elok berteriak teriak ” merdeka ” dirumah orang, sementara si tuan rumah merupakan bagian besar dari negara kesatuan republik Indonesia. Perilaku ini dibaratkan sebagai perilaku tak tahu diri dan mencederai harga diri dan kehormatan yang dimiliki. Sehingga saya beranggapan bahwa mereka mempunyai martabat tapi tak memiliki kehormatan, karena kehormatan yang dimiliki sudah digadaikan demi kepuasan sesaat.

Dihari kemerdekaan yang ke 73 ini, marilah kita semua memahami kehormatan dan martabat sebagai bangsa dengan jernih, sehingga kita tidak menjadi duri dalam daging ditengah menghargai perbedaan dan merayakan kemerdekaan dengan semangat merayakan kembali ke Indonesiaan kita.

Surabaya, 17 Agustus 2018

*Warga Surabaya dan Essayis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here