Catatan Oase Kehidupan #158: Antara Siti Hajar, Ibrahim dan Ismail

0
155
Foto Orang mengkuliti hewan qurban diambil dari dokumen pribadi prmj

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Kisah pengorbanan yang dilakukan oleh Sang Tauladan tentang ke ikhlasan berakhir dengan kebahagiaan. Ketika mereka bertiga dalam kepasarahan dan keikhlasan yang dalam kriteria Ilahiyah dirasa cukup, saat itu Allah menghadirkan anugrahnya berupa seekor domba sebagai ganti kepasrahan sang buah hati, Ismail Alaihi Salam.

Dikisahkan ketika Nabi Ibrahim as membawa isterinya siti Hajar(ibu Nabi Ismail), saat Ismail as masih menyusu kepada ibunya. Nabi Ibrahim meninggalkannya di sekitar padang pasir yang luas tidak ada seorangpun yg tinggal di Mekkah waktu itu. Tak ada air dan tak ada pula orang yg menemaninya terkecuali Ismail as yg masih merah dan menyusu pada ibunya. Betapa luar biasanya pengorbanan Siti Hajar dan Si buah hati, Ismail dalam menjalani masa masa ujian keikhlasannya. Tak terasa airmata sayapun menitik ketika menuliskan rangkaian rangkaian kata tentang kisah pengorbanan ini. menceritakan inipun, betapa tegar dan hebatnya Siti hajar.

Saat harus meninggalkan istri tercinta dan sibuah hati, Nabi Ibrahim menyediakan untuk keduanya satu kantong yang bekal berisi kurma dan satu bejana berisi air. Lalu Nabi Ibrahim pergi meninggalkan tempat itu. Hajar mengejarnya dan bertanya, “ Wahai Ibrahim kemana engkau akan pergi? Dan engkau tinggalkan kami di lembah yang tidak ada tetangga dan tidak ada apa apa.” Hajar terus mengulang ulang ucapannya, sehingga Nabi Ibrahim as menoleh kepada Istrinya. Hajar berkata, “ Apakah Allah yang memerintahkan hal ini kepadamu wahai Ibrahim?, “ Ibrahim as menjawab, “ Ya, benar ”. mendengar jawaban itu, Hajar berkata, “Jika demikian, maka Allah SWT tidak akan menyi-nyiakan kami.” Kemudian Hajar kembali.

Nabi Ibrahim as melanjutkan perjalanannya. Ketika ia sampai di sebuah bukit, di mana istri dan anaknya sudah tak melihatnya, ia menghadapkan wajahnya ke arah Baitullah, sambil mengangkat ke dua tangannya seraya berdo’a, ” Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tak mempunyai tanaman di dekat rumah Engkau yang di hormati. Ya Tuhan kami ( jadikanlah ) agar mereka mendirikan shalat, sehingga hati sebagian manusia cenderung menyenangi mereka dan berilah rezek mereka dari buah buahan dan semoga mereka bersyukur.”

Hajar tetap menyusui anaknya. Sehingga ketika air yang ada dalam bejana itu telah habis, maka ia merasa haus dan haus pula anaknya. Hajar merasa iba melihat anaknya yang kehausan, kemudian ia pergi untk mencari air. Ia naik ke bukit shafa’, sebuah bukit yang terdekat. Kemudian ia melihat sekeliling lembah dari atas bukit itu,sekiranya ia menemukan air. Tetapi ia tidak melihat air. Kemudian ia turun dari bukit Shafa dan berlari menuju bukit Marwa. Ia berdiri di atas bukit dan mengarahkan pandangannya ke sekelilingnya kalau kalau ia melihat air, tetapi ia tidak menemukannya. Hajar melakukan hal itu 7 kali.

Ketika Hajar berada di bukit Marwa (untuk yang ke 7 kalinya), ia mendngar suara yang mengatakan “Tenanglah” yang di tujukan kepada dirinya. Ia memperhatikan suara itu dan ia mendengarnya lagi,kemudian ia berkata,”suaramu telah terdengar,sekiranya engkau membawa air maka tolonglah kami.”

Ismail pun merengek dan menangis sejadi-jadinya, karena haus yang teramat sangat, Ibu mana yang tidak bersedih melihat bayinya menangis tanpa bisa berbuat apa-apa, hingga Ismail mengepak kakinya, dan tidak lama kemudian, terpancarlah air dari tempat yang tandus itu.

Maha Suci Allah yang telah memberikan rezeki kepada Siti Hajar dan Sibuah hati, Ismail kecil dengan berkah sumber mata air yang melimpah. Lalu berhentikah ujian Allah akan ke Ikhlasan beliaunya. Ternyata Allah masih menguji batas keikhlasan mereka.

setelah lama tak bertemu Sang Istri tercinta, Siti Hajar dan Si buah hati, Ismail karena ditinggalkan di padang tandus, ada kerinduan yang mendalam didalam diri Ibrahim. Dengan perasaan rindu yang sangat, Ibrahim lalu berangkat menengok keadaan Siti Hajar dan Ismail. Perasaan rindu dan haru bercampur aduk diantara ketiganya, ketika mereka bersua. Peluk rindu dan kebahagiaan mereka rasakan.

Nah ditengah perasaan bahagia yang luar biasa, disaat Nabi Ibrahim tertidur, melalui mimpinya, Allah mengujinya kembali dengan perintah agar ” menyembelih ” sang buah hati setelah lama tak ditemuinya. Memaknai mimpinya itu, Ibrahim merasa gundah dan tak mampu berkata. Rupanya Allah yang maha pengasih dan penyayang memberikan kekuatan kepada Ismail untuk meluruhkan kegundahan sang Ayah tercinta, yang kemudaian dialog indah ini diabadikan oleh Allah dalam Al Qur’an surat As Saffat : 102 yang berarti ” Maka tatkala anak itu sampai ( pada umur remaja ) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! ” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah ayah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar “.

Maka kemudian Ibrahimpun menjalankan perintah itu, namun perasaan Ibrahimpun tak mampu melihat kepsarahan sang buah hatinya. ditengah kegundahan rasa sang ayah, berkatalah Ismail kepada ayahanda, Wahai ayah, bila engkau tak mampu menatap mataku, maka telungkupkanlah aku, agar engkau kuat melaksanakan perintah Allah ini. dan setelah itu ambillah baju ini untuk ibunda tercinta,Siti Hajar, agar kelak beliau tidak larut dalam kesedihan yang dalam karena beliau masih bisa mencium baju dan darahku.

Ibrahimpun bergegas menerima permintaan Ismail, lalu beliau dengan kepasrahan dan keikhlasannya menjalankan perintahNya. Nampaknya cukuplah bagi Allah untuk menakar keikhlasan keluarga Ibrahim, disaat yang sama, Allah memerintahkan untuk mencukupkan kepasrahannya dan Allah mengirimkan seekor domba sebagai pengganti.

Allahhu Akbar, Allahhu Akbar, Allahhu Akbar walillah hilkham

Surabaya, 23 Agustus 2018

*Penulis dan Warga Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here