Catatan Oase Kehidupan #159: Asian Games Dan Kesungguhan Menjadi Bangsa Besar

0
127
Foto aries susanti spiderwoman penyabet emas asian games 2018 diambil dari banjarmasin post tribbun

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Sabtu, 18 Agustus 2018 rupanya merupakan kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Perhelatan olah raga terbesar se Asia dimulai dan dibuka di Gelora Bung Karno, stadion olah raga kebanggaan bangsa.

Perhelatan pembukaan pesta olah raga Asean Games kemarin menunjukkan kemeriahan yang luar biasa, dibuka dengan lagu Indonesia Raya dan beberapa ornamen budaya yang menggambarkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan berbudaya. Tari Saman dengan iringan lagu Beungah Jeumpuh tarian khas Aceh dengan paduan ritme gerak membentuk hamparan merah putih dilakukan dengan rancak dan khusyu. Ada rasa haru dan bangga karena ternyata kita bisa menjalankan amanah yang begitu luar biasa ini.

Saya ucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang sejak tahun 2014 mempersiapkan terlaksananya pesta terbesar olah raga se Asia ini. Tentu tidak bisa dipisahkan pekerjaan yang sudah dilakukan pada awal awal dan yang terakhir menyempurnakan, ada kerja besar yang tersistematis yang dilakukan oleh mereka mereka pada masanya, dan yang terakhir bertugas menyempurnakan pekerjaan yang sudah dilakukan, sehingga kebanggaan akan kesuksesan pekerjaan ini adalah kebanggan kita semua sebagai bangsa Indonesia.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa para pahlawannya. Bangsa yang bisa menghargai karya orang lain dan mengakui serta menghormati karya orang lain. Bangsa yang besar hanya akan bisa dipimpin oleh mereka mereka yang berjiwa besar. Perhelatan Asean Games yang berlangsung di Jakarta dan Palembang merupakan ruang pertunjukan bahwa kita adalah bangsa yang besar.

Nah tinggal kita semua sebagai warganegara sudah semestinya bisa memberi warna akan kebesaran bangsa ini. Sudah menjadi takdir bahwa Indonesia dibentuk berdasar keaneka ragaman budaya dan suku bangsa. Keragamana itu kemudian diikat dalam sebuah rangkaian kata yang disebut dengan Indonesia Raya. Tentu takdir akan keaneka ragaman ini harus disyukuri sebagai sebuah kekayaan negeri. Mencela dan mencurigai sejatinya mengingkari ke Indonesiaan kita. Apalagi menghapuskan kerja kerja yang sudah dilakukan.

Ditengah merayakan kemerdekaan Indonesia yang ke – 73 ini, sudah saatnya kita semua menegaskan kembali tentang rasa ke Indonesiaan yang kita miliki, menyemai persamaan dan persatuan ditengah perbedaan yang ada. Memaksakan kehendak dan menganggap diri paling Indonesia justru merupakan pengingkaran. Tengoklah ketika para pendiri bangsa ini merelakan keegoan mereka untuk dilebur menjadi Indonesia. Mereka menatap masa depan dengan penuh kebersamaan dan harapan. Sebut saja bagaimana Ki Bagus Hadi Kusumo, salah satu perumus piagam Jakarta, merelakan 7 kata sila pertama atas permintaan Bung Karno karena melihat ke Indonesiaan kita. Tak ada diantara mereka yang merasa paling berjasa, apalagi mengatakan dirinya paling Indonesia.

Indonesia adalah kita, nah ditengah momentum merayakan kemerdekaan ini ada kado Indah yang diberikan oleh anak bangsa.

pertama kado diberikan oleh Joni Belu (13 thn) atas sikap heroiknya menyelamatkan jalannya upacara kemerdekaan di Belu,Attambua, NTT. Dengan sigapnya tanpa berpikir resiko yang ada, dia panjat tiang bendera karena kait pengikat bendera lepas, dia lakukan itu hanya karena Joni si bocah heroik ini menginginkan upacara berjalan lancar dan bendera bisa dikibarkan.

Kado yang kedua diberikan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dengan segala daya upayanya menyempurnakan persiapan pelaksanaan ajang Asian Games. Harus disadari bahwa kesuksesan ini adalah kesuksesan kita semua, kesuksesan kita sebagai bangsa Indonesia yang sedang berusaha menjadi bangsa yang besar.

Surabaya, 25 Agustus 2018

*Penulis dan Warga Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here