Catatan Oase Kehidupan #159: Jatuh Cinta

0
137
Foto Joni sang pemanjat Tiang bendera berpose bersama ayah dan ibu diambil dari okenews.com

KLIKMU.CO

Oleh: M. Isa Ansori*

Pernahkah anda melihat seseorang rela melakukan sesuatu meski resiko terhadap dirinya juga tak bisa dibilang sederhana? Lihatlah apa yang dilakukan oleh Joni Belu ( 13 ) ketika memanjat tiang bendera saat upacara bendera kemerdekaan RI di di Belu, Attambua, NTT, tali bendera tersendat dikaitnya, dengan heroik, Joni merangkak, meski menurut sebagian orang yang menyaksikan aksinya sangat berbahaya. Apa yang terpikirkan oleh Joni saat itu? Tentu Joni hanya berpikir bagaimana bendera merah putih bisa berkibar dan upacara bisa berlangsung kembali. Hal yang sama juga dilakukan oleh Resa Mangar bocah berasal dari daerah perbatasan Indonesia di Kota Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku.

Aksi heroik Resa bukan dilakukan saat upacara HUT kemerdekaan ke-73 RI, melainkan beberapa bulan sebelumnya. Tepatnya saat upacara HUT ke-14 Kabupaten Kepulauan Aru pada 18 Desember 2017.

Jatuh cinta adalah sebuah jawaban mengapa seseorang bisa menanggalkan rasionya dan mengikuti perasaanya dalam menjalankan sesuatu meski disadari resikonya juga tidak kecil. Nah karena itulah maka menasehati orang yang sedang jatuh cinta membutuhkan energi yang sangat besar, karena akan susah diterima oleh akalnya. Mengapa? Karena saat itu rasa telah mematikan akal.

Menanamkan rasa agar orang menjadi jatuh cinta adalah sesuatu yang baik. Karena dengan jatuh cintalah orang akan melakukan sesuatu dengan tulus demi yang dicintainya. Didalam jatuh cinta yang ada adalah rasa memiliki. Sehingga menjadikan orang agar jatuh cinta merupakan hal positif bila dilakukan dengan cara cara yang jujur dan mengedepankan pertimbangan rasa yang tercerahkan. Lalu rasa yang tercerahkan itu seperti apa? Rasa yang tercerahkan itu merupakan sebuah tindakan yang berdasarkan perasaan, tetapi perasaan yang ada tidak mematikan akal untuk membuat pertimbangan baik dan tidak. Akal yang baik akan membimbing pada langkah langkah yang baik, orang menyebutnya sebagai etika.

Sebagai contoh kalau kita melihat sebagian saudara kita terkena musibah maka ada perasaan iba dan ada keinginan untuk membantunya. Agar supaya perasaan itu semakin kuat, maka dalam mengajak kita menggunakan pertimbangan etik agar orang mau kita ajak, sehingga kita akan melakukannya dengan cara cara yang baik dan beradab.

Jatuh cinta kadang mematikan akal dan menjauh dari etika. Sehingga seringkali jatuh cinta membuat orang lain juga menjadi tak nyaman dan terganggu. Dalam kehidupan sosial seringkali terjadi kecintaan kita terhadap sesuatu membuat kita kehilangan akal budi dan menjauh dari etika, hanya emosional yang dikedepankan.

Mengapa Bisa Terjadi?

Jatuh cinta yang berlebih akan menyebabkan hilangnya sebagian kesadaran, dan hal inilah yang seringkali menimbulkan persoalan. Rasa menjadi dominan dibanding pertimbangan akal. Padahal pertimbangan akal yang dibimbing rasa atau sebaliknya akan memunculkan kehalusan cara dalam bertindak.

Sayangnya dalam kehidupan kita bersosial, jatuh cintanya masyarakat terhadap yang dicintai sudah pada tingkatan mematikan akal budinya, sehingga orang tak malu mempertontonkan kecongkaannya. Orang tak lagi mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, karena pertimbangan yang digunakan adalah pertimbangan rasa, apa yang menurutnya disukai maka itulah yang dianggap benar dan sesuatu yang tak disukai akan dianggap salah. Yang terjadi kemudian adalah dikembangkan perasaan suka dan tidak suka. Jadi apapun yang anda lakukan, meski itu benar lalu tidak disukai oleh kelompok lain, maka yang anda lakukan akan dianggap tetap salah. Dalil kebenaran hanya dibuat berdasarkan kepentingan diri dan kelompok bukan untuk kepentingan menciptakan keadilan dan kedamaian.

Nah betapa akan menyedihkan bila dalil kebenaran dan keadilan diukur dari rasa yang dimiliki oleh setiap orang dan setiap kelompok yang merasa paling benar dan paling berbuat. Kehidupan kita bersosial dan bernegara akan semakin larut dalam kegaduhan.

Belajar Dari Joni dan Resa

Ditengah tengah kita merayakan kegiatan kita berqurban dan peringatan kemerdekaan RI, ada baiknya kita belajar tentang ketulusan dari Joni dan Resa, yang dengan ketulusannya semua orang sepakat mengatakan apa yang dilakukan Joni dan Resa adalah benar.

Sebagai manusia Indonesia yang berfalsafah Pancasila tentu saya meyakini setiap kita meyakini tentang ajaran Ketuhanan yang mengajarkan bahwa kebenaran itu tidak hanya diukur oleh rasa, tapi akal menjadi pertimbangan utama. Dalam menjalankan perilaku yang berkeadilan ada baiknya juga kita mulai menyeimbangkan akal dan rasa, sehingga kecintaan kita terhadap NKRI adalah kecintaan yang beradab.

Surabaya, 24 Agustus 2018

*Warga Surabaya dan Penlis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here