Catatan Oase Kehidupan #16: Essay Si Malin Kundang dan Indonesiaku

0
243
Ilustrasi diambil dari liriklaguanak.com

KLIKMU.CO- Ku lihat ibu pertiwi, sedang bersusah hati. Airmatanya berlinang, mas intan yang terkenang, hutan gunung sawah lautan, simpanan kekayaan. Kini ibu sedang lara, merintih dan berdoa…

Sebait lyric lagu ini menggambarkan betapa sedihnya si Ibu yang bernawa pertiwi ini.

Beliau kandung anak anaknya, dia besarkan anak – anaknya dengan pelukan kasih sayang, dia persembahkan apa yang dia miliki dan dia simpan, dengan harapan kelak nanti anak – anaknya bahagia bersama belaian kasih dan sayangnya.

Cerita rakyat Si Malin Kundang, nampaknya tepat sebagai representasi bersedihnya sang ibu karena kedurhakaan anaknya.

Betapa sang ibu mengasuh dan membesarkan dirinya, hingga suatu saat melepaskan si Malin untuk berlayar dan bekerja. Hari berganti hari, tahun berganti tahun, ibarat orang belajar, Malin lulus dalam ujian kehidupan. Malin menjadi orang kaya.

Si Ibu yang lama dalam penantian, masih setia dalam penantiannya, ada kebanggan terselip, melihat Malin dengan keberhasilannya.

Sayangnya ditengah kemegahan dan kekayaan yang dimiliki, Malin lupa akan jasa ibunya, Malin lupa dengan apa yang sudah diberikan oleh ibunya. Malin menjadi pongah, lupa diri dan tak mengakui asal usulnya.

Sehingga dia campakkan ibunya, Malin malu mengakui ibunya. Sang ibu menangis dan bersedih akan perilaku anaknya, lalu dia kutuklah sang anak hingga menjadi batu.

Ibu pertiwi itu adalah Indonesia, tanah surga ini berlimpah sumber daya alamnya, begitu band legendaris Koes Ploes menyebutnya, tongkat, kayu dan batu bisa jadi tanaman, batapa suburnya ibu pertiwi indonesia ini.

Dikisahkan ketika Sang Ibu pertiwi kaya raya, dia kirimkan putra putrinnya belajar keluar negeri, dia sekolahkan, dia pandaikan dengan biaya kekayaan yang dia miliki, tapi apa daya, tak banyak dari anak anaknya yang mau membalas budi dan mengakuinya sebagai ibunya, sebagian tak mau balik berbakti kepada ibu yang membesarkan dan memandaikannya.

Anak anak itu menjadi pongah dan lupa diri, mereka justru menjual harta ibunya dengan murah dan bahkan ada yang menjarah bekerjasama dengan para perampok harta ibunya.

Sang ibu semakin bersedih, ketika semua pilar rumahnya yang kokoh yang bernama UUD 1945 telah dipalsukan atas nama amandemen.

Pancasila sebagai dasar merawat dan mendidik anak anaknya telah dicabik cabik dengan apa yang disebut kapitalisme barat dan timur. Si ibu semakin lunglai, tak berdaya, sementara anak anaknya berpesta pora menjarah harta tersisa, anak anak itu telah membatu hatinya dan mengeras perilakunya, kutukan sang Ibu, jadilah batu atas Indonesia yang kalian lupakan

Ditengah kegundahan ini tiba tiba aku teringat sebuah syair yang menguatkan jati diriku sebagai anak yang bangga atas Indonesiaku

Dari yakinku teguh… Hati ihlasku penuh… Akan karunia Mu, Tanah air pusaka, Indonesia tercinta, Syukur aku sembahkan…. Kehadiratmu Tuhan

Sang ibu tiba tiba tersenyum, dia lihat masih ada diantara anak anaknya yang peduli dan rela menjaganya…

Secercah senyum tergores di wajahnya yang semakin lusuh…. Sang ibu merebahkan dirinya sambil berujar….. Aku titipkan negeri ini padamu, jangan biarkan orang lain menjarah milik kalian…… Dan terpejamlah mata sang ibu dalam tidurnya sambil diiringi kumandang senandung sang anak

Padamu negeri…. Kami berjanji….. Padamu negeri…. Kami mengabdi….. Bagimu negeri… Jiwa raga kami….

” Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).

Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat.

Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku.

Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. ” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)

Buatlah tersenyum ibu pertiwi….jangan kau durhakai pengorbanan ibu pertiwi dengan membiarkan dan mempersilahkan mereka menjarah…… Bersyukurlah atas apa yang dipersembahkan sang ibu, jaga dan rawatlah.

Tuan rumah tak akan mau berunding dengan maling yang menjarah rumahnya ( Tan Malaka )

Surabaya, 12 Pebruari 2018
M. Isa Ansori

Pengajar di STT Malang, Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak ( LPA ) Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here