Catatan Oase Kehidupan #160: Memenangkan Diri dengan Menundukkan Ego

0
152
Foto balon ego diambil dari collective evolution

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Bermartabat adalah sebuah keadaan diri yang bisa meletakkan pada posisi yang tepat. Kalau anda sebagai murid dalam sebuah pembelajaran, maka mendengarkan apa yang dijelaskan oleh guru adalah sebuah kemartabatan, mengapa? Karena anda mampu menundukkan kedirian anda untuk bisa mendengarkan.

Dalam banyak hal ternyata sejarah juga memberikan sebuah kisah bagaimana memenangkan diri? Ketika terjadi perbedaan dalam penentuan dasar negara dalam BPUPKI, apakah lantas mereka bertengkar? Tidak kan… Ki Bagus Hadi Kusuma dari Muhammadiyah dengan kebesaran hatinya menghormati pandangan Tokoh tokoh lain yang melihat kekhawatiran kalau sila pertama Pancasila versi Piagam Jakarta pada 7 kata sila pertama tidak dihapus. Apakah kemudian yang merasa mampu mempengaruhi keputusan lalu berbesar diri dan congkak, merasa paling benar? Juga tidak, mereka bersepakat kemudian merawat dasar kelahiran berbangsa ini.

Begitu juga didalam sejarah kenabian ketika Nabi menandatangani perjanjian Hudaibiyah.  Saat itu dengan kecongkaannya, kaum jahiliyah merasa menang terhadap cahaya kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Sang Al Amien. Nabi meyakini bahwa hati nurani dan cahaya kebenaran, tak akan pernah bisa ditindas oleh kekuasaan. Apa yang menjadi keyakinan Nabipun terbukti, kaum Quraysi yang mulai merasakan kebenaran cahaya Ilahiyah, mengalami kesulitan bergabung Nabi, karena perjanjian tersebut mengharuskan Nabi mengembalikan mereka yang masuk Islam ke kaum Quraysi Jahiliyah. Mereka yang tercerahkan ini lalu membentuk kelompok sendiri sambil menunggu berakhirnya perjanjian ini.

Apa yang mereka lakukan? Merekapun akhirnya menjadi kelompok baru yang mengkhawatirkan keberadaan kaum Quraysi Jahiliyah. Kepanikan melanda para aktivis Quraysi Jahiliyah. Dengan segala daya upaya berlindung dibalik kekuasaan yang dimilki, mereka melakukkan intimidasi dan larangan terhadap kaum muslimin untuk melakukan aktifitasnya. Nampaknya mengintimidasi dan memprovakasi dan mengancam serta melarang, merupakan gejala kepanikan yang dialami para aktivis Jahiliyah Quraysi karena kekhawatiran akan mengalami kekalahan dalam pemahaman kebenaran ideologi yang diyakini.

Mulailah Nabi dan pengikutnya mengalami masa masa sulit menjalankan keyakinan dan pilihan jalan hidupnya. Nabi mengalami intimidasi, para pengikut Nabi mengalami intimidasi dan kriminalisasi. Nabi tetap bertahan dan bersabar sambil menyusun strategi memahamkan kebenaran yang diyakini. Kebenaran itu ibarat aliran darah yang selalu dibutuhkan oleh tubuh. Kalau tubuh ingin hidup maka aliran darah harus mengalir dengan baik. Begitu juga dengan jiwa yang hidup, kalau jiwa itu ingin merdeka dan bermartabat maka kebenaran adalah energi hidup yang dibutuhkan. Kebenaran tak akan mampu dibendung oleh jiwa yang hidup dan merdeka.

Akan selalu ada dalam setiap zaman terjadi pergolakan antara benar dan salah. Benar itu sejalan dengan kehidupan sedang salah akan selalu bertolak belakang dengan kehidupan. sebuah kebenaran tak akan pernah merasakan kepanikan, karena kebenaran itu sejalan dengan kehidupan dan nuraninya. Sebaliknya sebuah keyakinan salah yang dianggap benar, akan merasakan ada ancaman, takut kehilangan, takut mengalami kekalahan. Mereka akan berupaya dengan cara cara apapun untuk menutupi kepanikan dan ketakutannya akan sebuah realitas.

Bagi kesalahan, benar itu ibarat sebuah sinar yang menyilaukan dan mengganggu jalan gelapnya. Kesalahan akan merasa takut kalau kalau kesalahannya nampak terlihat sebagai kesalahan. Sejarah peradaban manusiapun mengajarkan kepada kita kesalahan akan bersikap reaktif bila kebenaran sudah terang benderang akan datang.

Nah kawan marilah jujur terhadap hati yang tak pernah bisa dibohongi. Biarlah hidup mengalir apa adanya dan biarlah hidup menjalankan pilihannya, karena pemaksaan kehendakan terhadap pilihan orang lain sejatinya melawan moralitas kemanusiaan kita.

” Sesungguhnya kekafiran itu memaksakan kesalahan agar diyakini sebagai kebenaran dan diikuti dengan usaha menutup diri dari terangnya cahaya, sedangkan Islam ( keselamatan ) ini mengajak manusia menjalani pilihan terang apa adanya. ”

menundukkan “id” yang cenderung memaksakan pemuasan atas kesalahan yang diyakini menggambarkan kita berada pada fase yang sama dengan hewan yang hanya berupaya memuaskan diri. Menundukkan ” Id ” dan menghidupkan ego ( rasional ) serta mengikuti bisikan super ego ( hati nurani ) adalah jalan memartabatkan diri dan memenagkan diri sebagai manusia.

Surabaya, 26 Agustus 2018

*Pegiat penulisan dan Pendidikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here