Catatan Oase Kehidupan #161: Merayakan Menjadi Indonesia Kembali “Sahabatku Saudaraku”

0
114
Foto pengibarab bendera didalam air diambil dari kompas entertainment

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Setidaknya hari ini saya harus memantapkan kembali persiapan akhir kegiatan kombinasi peringatan hari anak dan kemerdekaan RI yang akan diselenggarakan hari Minggu tanggal 26 Agustus 2018 di Taman Flora Kebun Bibit Surabaya, mulai pukul 06.00 – 12.00.

Mengapa harus merayakan menjadi Indonesia kembali? Dalam pandangan saya melihat adanya sesuatu yang sudah mulai hilang berkaitan dengan rasa kita sebagai bangsa Indonesia. Ada moralitas kebangsaan kita yang mulai sirna ditengah gemerlap pembangunan bangsa. Kita telah banyak kehilangan jati diri keIndonesiaan kita, jati diri berupa kemampuan melihat kekayaan kebhinekaan yang tiba tiba kita memaksakan diri untuk menjadi seragam.

Pertunjukan arogansi dan kecongkaan dipamerkan, seolah paling Indonesia dengan memaksakan kehendaknya. Bangga mempertontonkan keadaan jati diri yang porak poranda dan rapuh. Tak mampu merendahkan hati dan mencerdaskan akalnya, tampil sosok angkuh tak berisi. Cenderung mengina moralitas publik. Tak mampu menghargai perbedaan dan menghormati pilihan.

Kebohongan demi kebohongan diartifisialkan sebagai lakon kehidupan yang dijalani. Tentu ini akan menjadikan Indonesia pada posisi yang abu abu, tak jelas dan pragmatis. Indonesia harus dirawat dan diselamatkan dari bencana perilaku yang tak mampu membedakan mana berbohong dan mana kebenaran. Indonesia harus dijauhkan dari mereka yang hidupnya untuk diri dan kelompoknya, Indonesia harus diarahkan merawat dan menyemai kembali perasaan bhineka dan menghormati kebhinekaan.

Merayakan menjadi Indonesia kembali bagi saya harus diawali kemampuan memahami perbedaan dan menganggap perbedaan sebagai sebuah anugrah. Kecerdasan memahami perbedaan akan berdampak pada kecerdasan menemukan persamaan. Nah dalam kaitan itulah akan muncul kemampuan merawat perbedaan menjadi energi positif melahirkan kekuatan bersama. Menjadi Indonesia adalah tali pengikat ditengah adanya perbedaan.

Sebagai pendidik, saya menaruh harapan besar kepada sahabat sahabat saya guru pengajar di sekolah maupun di perguruan tinggi menyebarkan virus kebangsaan dengan menyemai persaudaraan. Sekolah adalah ladang mudah untuk menyemai bibit bibit kebersamaan. Memberi ruang kemerdekaan beraktualisasi bagi anak anak akan memberi kesadaran yang tinggi bahwa mereka membutuhkan orang lain.

Pendidikan sebagai ladang persemaian dan menumbuh kembangkan perilaku baik merupakan sebuah keniscayaan diisi oleh mereka yang memang mempunyai sense merangkai perbedaan menjadi sebuah energi besar untuk merenda persatuan. Dibutuhkan guru yang mampu merangkai konsep pembelajaran dengan melibatkan semua komponen yang ada sebagai kesatuan energi besar membangun kebersamaan.

Akhirnya hanya melalui pendidikan, kita bisa banyaj berharap merangkai kembali ke Indonesiaan kita dan merayakannya kembali.

Surabaya, 27 Agustus 2018

*Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak Jatim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here