Catatan Oase Kehidupan #162: Saatnya Menyemai Nilai

0
160
Foto para atlit pencak silat Indonesia yang mendulang emas diajang Asian games 3 2018 diambil dari tribbun kaltim

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Hari ini ditengah hiruk pikuk persekusi para pendukung calon presiden, saya mencoba merangkum kembali beberapa kejadian yang berserakan dari peristiwa kemarin #2019GantiPresiden. Beberapa rangkaian itu setidaknya akan membangun ingatan kita bahwa masih ada dinegeri yang katanya Pancasila dan mengakui adanya kebhinekaan, tapi masyarakatnya tak bisa menghargai adanya perbedaan. Hati mereka sama sama keras, seolah telah kehilangan nilai nilai keadaban dan kesantunan. Sehingga tampilah sebuah perilaku yang sama sama memaksakan kehendaknya untuk sebuah nilai yang sejatinya belum tentu benar dalam kerangka nilai kebenaran yang sesungguhnya.

Tagar 2019 Ganti Presiden dan Tagar Jokowi 2 Periode, sejatinya saat ini telah mengalami kekeringan nilai, nilai nilai perjuangan yang seharusnya dibuat untuk mencari pemimpin yang bisa mensejahterakan rakyat telah mereka kubur dalam kekerasan hati dan kekelaman jiwa. Mengapa bisa terjadi? Ketakmampuan memahami tujuan bernegara dan tujuan berdemokrasi mencari pemimpin yang baik membutakan mata hati dan akal pikirannya. Menjadi semakin gelap ketika pada posisi yang menghindari bentrokan, kubu penolak tidak kemudian semakin menjauh, tapi justru karena hasutan para penumpang dan preman, terjadilah bentrok yang memalukan diarea sebuah tempat ibadah.

Kecerdasan dan kejernihan akal pikiran kita diuji. Betapa tidak dalam situasi apapun bahkan dalam perangpun ada peraturan perempuan dan anak anak serta orang tua harus dilindungi. Nah menjadi miris ketika terlihat para pendukung tagar ganti presiden yang semakin lemah dan terdesak dipaksa dengan cara cara yang tak beradab dan tak berbudaya serta hilangnya nilai nilai moralitas kemanusiaan. Para perempuan dipaksa mencopot kaos yang dipakai, bahkan terlihat jelas perempuan yang seharusnya dilindungi malah diperkusi, diseret dan diangkat secara paksa untuk keluar dari arena yang mereka pilih. Suara mengibah, bahkan tak perlu dipaksa sudah disampaikan mereka akan minggir, tapi begitulah ketika mata dan hati telah dibutakan oleh keadaban, belas kasihan dan jiwa kemanusiaan sudah tak mampu untuk ditumbuhkan.

Bagi saya ini menyedihkan sekaligus memalukan, apalagi bagi kita semua bangsa Indonesia yang menjunjung moralitas, dan lebih mempermalukan lagi kepada pemerintahan. Seolah pemerintah tak bisa memberi perlindungan keamanan kepada rakyatnya, seolah pemerintah tak mampu mendidik rakyatnya menjadi manusia yang bermartabat. Justru ini akan sangat merugikan terhadap citra pemerintahan yang ada.

Dalam benak saya kemudian merenung bukankah perilaku persekusi terhadap kelompok lain yang sejatinya adalah saudara sebangsamu akan merugikan dirimu dan citra pilihanmu, jangan jangan ini sebuah desain yang tak engkau sadari dikakukan oleh orang yang kau anggap teman sekelompokmu, tapi ternyata musuh dalam selimut yang akan menjatuhkan junjungan presiden pilihanmu.

Semua bisa saja terjadi, dan hanya mereka yang otaknya terisi dengan baik dan informasi mencerdaskan yang bisa merasakan bahwa ada energi jahat yang sedang bergerak untuk meruntuhkan moralitas bangsa dan merugikan presiden dukungan mu. Bisa jadi itu berasal dari dalam yang kau anggap sebagai bagian gerakanmu. Untuk menegaskan kembali bahwa ada musuh dalam selimut dalam setiap ambisi memperebutkan kekuasaan, mari mengingat sejarah bagaimana Kebo Ijo bisa dihukum mati bukan karena kesalahannya, sementara pemilik ambisi, Ken Arok justru bisa menikmati dan berpesta dengan baluran anggur merah. Nah oleh karenanya bertindaklah dengan cerdas dan bijak agar tidak membuat jurang kehancuran pilihanmu, karena lakumu yang tak beradab akan menjauhkan simpati rakyat.

Cerdas dalam bertindak, akan membuat kita mampu menyemai nilai nilai kebaikan bangsa. Ditengah situasi yang terbelah ini, jadilah penyemai nilai ke Indonesiaan dan kebaikan, menempatkan ambisi pada tempat yang menurut suara hati salah merupakan wujud dari diri yang melacurkan akal sehat dan kemanusiaan kita.

Sebagai penutup tulisan ini, sebagai aktifis yang dulu bergerak mengorganisir massa untuk melawan praktek praktek kotor pemerintahan dan kekuasaan, maka akan sangat naif kalau sekarang ini yang kita lakukan justru menjadi perilaku kotor yang kita lawan. Meminjam pernyataan Taufik Monyong Ketua Dewan Kesenian Jatim, telah terjadi pembusukan moralitas dalam dunia aktifis, hal ini dikarenakan nilai nilai keadaban dan kebudayaan telah diabaikan.

Assalamualaikum wr wb, Salam sejahtera dan Salam Indonesia yang bermartabat.

Surabaya, 27 Agustus 2018

*Pegiat Sosial Kemsyarakatan dan Pendidikan Yang Memerdekakan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here