Catatan Oase Kehidupan #163: Catatan Kritis Taufik Monyong, Ketua Dewan Kesenian Jatim: Demokrasi yang Nir Keadaban

0
85
Foto siaran tv oleh CNN terkait aksi pro dan kontra gerakan ganti presiden diambil dari youtube

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Persekusi yang dilakukan oleh sekelompok massa yang menolak deklarasi #2019GantiPresiden di halaman Tugu Pahlawan dan Masjid Ta’miriyah Kemayoran, Jalan Indrapura Surabaya, Minggu, 26 Agustus 2018, nampaknya menjadi preseden buruk bagi berjalannya demokrasi yang beradab.

Bagaimana tanggapan Taufik Hidayat yang akrab disapa sebagai Taufik Monyong mempunyai pandangan berdemokrasi yang berbudaya. Ditemui kiriJatim.com, Minggu, 26 Agustus 2018, di Kantor Dewan Kesenian Jatim, Taufik memberi beberapa catatan kritis tentang aksi tadi siang.

” Setahu saya para pendiri bangsa dan nenek moyang kita serta wali songo mengajarkan kepada kita bagaimana menjadi manusai yang berbudaya dan beradab “, Ujar Taufik Hidayat, atau yang biasa dipanggil dengan Taufik Monyong, Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur.

” Bagaimana dengan para wali ini ketika menyebarkan ajaran Islam, mereka ajarkan dengan nilai nilai keadaban dan kesantunan, sehingga masyarakat penerima ajaran menjadi manusia yang berbudaya dan beradab “, Papar Taufik.

” Para pendiri bangsa ini juga memberi tauladan keadaban bagaimana membangun bangsa ini, Mereka bisa duduk bermusyawarah merumuskan bagaimana bernegara yang baik dan beradab serta berbudaya “, Imbuhnya.

” Apa yang saya lihat hari ini, bentrok antara massa penolak aksi dan massa deklarasi #2019GantiPresiden merupakan peristiwa tidak adanya keadaban dalam menjalankan demokrasi , Apalagi mereka semua katanya mengaku aktifis ” Ujar Taufik.

” Bukankah sebagai aktifis, kita sama sama tahu bagaimana mewujudkan cita cita reformasi berupa membangun pemerintahan yang bersih dan berpihak pada rakyat, Ada tugas kebudayaan yang kita emban, mewujudkan manusia yang berkebudayaan dan santun terhadap manusia yang lain “, Ujarnya lirih.

” Seharusnya mereka semua ini punya beban tanggung jawab mengajak masyarakat berdemokrasi yang beradab dan santun, boleh berbeda, tapi bagaimana memaknai perbedaan itu untuk kepentingan bangsa yang lebih besar, bukannya malah bertindak primitif, saling serang dan saling caci maki ” Kata Taufik. ” Dan yang lebih mengaskan nihilnya moralitas berdemokrasi, diarea masjidpun persekusi masih dilakukan “, Tambahnya.

” Saya berharap sebagai aktivis kalian semua, marilah kita junjung nilai nilai kebudayaan dan kesantunan dalam bermasyarakat, mereka juga saudara kita, tak layak sebagai anak bangsa ternyata kita saling melemahkan ” Imbuh Taufik.

” Mari kita jaga Jatim dan Surabaya, sehingga menjadi propinsi dan kota yang menjunjung tinggi nilai nilai kemanusiaan “, Harap Taufik sambil menutup pembicaraannya.

Surabaya, 28 Agustus 2018

M. Isa Ansori

*Penulis dan pengamat sosial

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here