Catatan Oase Kehidupan #167: Menggali Kubur dengan Tutur

0
137
Foto pengali kubur diambil dari bangka pos tribbun news

KLIKMU.CO

Oleh: M. Isa Ansori*

Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda. Begitulah pesan bijak sebuah iklan bagaimana membangun kesan agar menjadi nyaman. Bukankah setiap orang mempunyai kebutuhan akan diri. Dalam perspektif kebutuhan, Maslow menggolongkannya sebagai kebutuhan rasa aman.

Diskusi saya siang ini dengan beberapa kawan juga semakin menegaskan bahwa masih ada anggapan bahwa dalam berjuang yang harus dilakukan adalah membangun basis perlawanan tanpa mengenal lelah. Terkesan pula kemudian yang benar adalah saya dan orang lain salah. Taktis dalam melihat dan memperlakukan lawan adalah aib yang tidak boleh dikerjakan. Jadi siapapun yang dianggap lawan harus dihancurkan, karena tidak ada kebenaran kecuali saya.

Lalu saya mencoba membuka buka beberapa buku kisah tentang perlwanan dan perjuangan zaman Romawi. Terlintaslah tentang sejarah perlawanan dengan cara Gladiator. Sebuah kontestasi mengalahkan lawan dengan cara cara bar bar dan harus dibunuh, tak ada ampun bagi lawan yang sudah dianggap lemah, lawan harus dibunuh, sehingga penuh dengan filosofi marah dan ketakberadaban. Nilai nilai kemanusiaan dinjak injak, kehilangan belas kasih, perilakunya menjadi bar bar. Wujudnya manusia tapi telah kehilangan kejiwaannya.

Sayapun kemudian mencoba mengingat sebuah prosesi kematian jiwa sebagaimana yang terjadi pada cerita zombie. Sebuah selebrasi manusia tanpa rasa dan akal budi, yang ada hanya bergerak tanpa mengerti arah dan tujuan. Yang ada didalam benaknya hanyalah memangsa dan menghisap darah, membunuh dan menebar ketakutan. Selebrasi tanpa nilai kemanusiaan, nir keadaban, membuncah amarah dan kebencian, mengubur nilai nilai kemanusiaan. Lahir dari rahimnya kerakusan dan penghalalan cara meraih tujuan.

Nah ketika suasana jiwa dalam kelam kegelapan peradaban jiwa, rangkaian kata dan tutur tak lagi bermakna, menjauh dari jernih kasih, kekosongan psikologi menanda. Dalam sejarah perang Sun Tzu manusia semacam ini adalah manusia yang tak mengenal dirinya. Bagaimana dia bisa mengenal orang lain dan memahami, terhadap diri sendiri saja tak mampu mengenali, Sun Tzu menyebutnya sebagai manusia pecundang. Manusia yang memilih jalan kalah dalam hidup, hanya bisa menyalahkan dan sejatinya tak mampu berbuat, mulutnya berisi kata yang menunjukkan kekotoran jiwa.

Tradisi perang Sun Tzu mengajarkan kalau engkau ingin mengalahkan lawanmu maka kenalilah siapa mereka. Dengan mengenalinya kalian akan tahu apa yang harus diperbuat. Mengenali lawan adalah sebuah jalan menuju kemenangan, lalu bagaimana kalian bisa menang dalam sebuah pertarungan, kalau kalian tak pernah mau memahami nilai yang lain. Kebodohanmu akan menjadikan sikapmu jauh jauh dari kemenangan. Kalian tak akan diperdulikan, karena ucapan kalian tak bermakna nilai menjadi sebuah kebaikan.

Bukankah potret perilaku yang kita hadapi sekarang ini adalah potret keiadaan nilai. Manusia bangga mempertontonkan kedunguannya. Di zaman Fir’aun berkuasa wanita dilindungi, di zaman perdaban jahiliyah kita juga melihat perempuan layak diperkusi. Menyedihkan dan memalukan ketika di zaman yang katanya berkemajuan, ternyata laku kita justru kembali kepda zaman kegelapan, tak lebih baik dari perilaku Fir’aun dalam memperlakukan kaum perempuan. Bagaimana kita bisa memilih pemimpin yang baik, kalau tutur kita justru mengubur kebaikan, bagaimana kita bisa memunculkan pemimpin yang baik kalau perilaku kita justru kebalikannya. Tak ada pemimpin baik lahir dari raham masyarakat menjauhi kebaikan.

” Sesungguhnya pezinah akan ketemu dengan pezinah, pembohong akan nyaman berkumpul dengan pembohong, tukang fitnah akan ketemu tukang fitnah dan akan selalu berulang sunnatullahnya. Orang baik akan nyaman bersama kebaikan “. Hukum alam dan peradaban akan selalu begitu. Pada akhirnya ketika pembohong ketemu pembohong maka yang mungkin terjadi adalah saling membohongi. Tukang fitnah bersama tukang fitnah maka diantaranya pasti akan dengan mudah melakukan fitnah, sehingga pertemanan yang dibangun tentu tak akan bahagia.

Semoga saja kita selalu dikumpulkan dengan orang orang baik agar hidup terwarnai dengan kebaikan. Hanya pembohong yang selalu berpikir orang lain akan membohongi dirinya, hanya pencuri yang berpikir bahwa orang lain juga mencuri.

Surabaya, 1 September 2018

*Pegiat pendidikan yang memanusiakan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here