Catatan Oase Kehidupan #170: Mengenali Diri dan Orang Lain

0
161
Foto telaga yang airnya sangat jernih diambil dari IDNTIMES

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Diskusi saya siang ini dengan beberapa kawan mendapatkan sebuah informasi yang intinya bahwa masih ada pemikiran bahwa perjuangan itu harus ” melawan ” tak perlu kritis. Nah saya jadi semakin memahami bahwa selama ini yang saya lihat adalah harus selalu melawan. Dalam teori perang Sun Tzu sebagaimana tulisan sebelumnya, dalam melawan dibutuhkan cara. Diajarkan oleh Sun Tzu dalam perang haruslah mengenali siapa yang akan dilawan. Dengan mengenali, tidak akan dibutuhkan energi yang besar, segala sesuatunya bisa terukur dan capaiannya juga bisa dihitung.

Kemampuan mengenali orang lain, merupakan sebauh keharusan kalau kita akan bersama dengan orang lain. Tujuannya agar kita bisa menempatkan diri secara proporsional ketika bersama orang lain. Lalu bagaimana kita bisa menempatkan diri ketika bersama orang lain? Jawabannya tentu adalah kemampuan diri. Dalam salah satu hadits Nabi ditegaskan bahwa barangsiapa bisa mengenali dirinya, maka bisa dipastikan dia akan bisa mengenali Tuhannya. Mengenali Tuhan tentu akan menjadikan diri mengerti akan batas batas yang diajarkan dalam Ketuhanan.

Memperbaiki sistem yang dianggap salah merupakan bentuk dari sebuah perlawanan, perlawanan yang dilakukan dengan jalan mengenali sistemnya, mengenali siapa yang menjalankan sistem dan melahirkan sistem, serta alasan apa yang mendorong melahirkan sistem yang dianggap salah tersebut. Dengan mengenali itulah, kita akan tahu cara seperti apa yang harus dilakukan dan capaiannya akan seperti apa.

Sun Tzu mengajarkan dalam menghadapi sistem yang dianggap salah bisa dilakukan dengan jalan mengenali diri dan mengenali musuh dan teori membakar rumah tetantangga. Yaitu mengadu domba antar mereka lalu mengenali kelemahannya dimana dan apa yang bisa dilakukan untuk melemahkannya. Teori itu diajarkan ketika memang ada keinginan untuk menjarah dan menghancurkan lawan. Tentu apa yang dilakukan ini merupakan cara mengalahkan dalam suasana pertempuran untuk melakukan penjarahan. Ada cara Machiavelisme. Menghalalkan segala cara demi meraih tujuan.

Ditengah situasi yang katanya terdidik dan menjaga etika serta moralitas ini, sejatinnya menghalalkan segala demi ambisi merupakan cara cara lama yang tak berbudaya. Cenderung bar bar dan hanya mengandalkan otot dibandingn otak. Keterdidikan itu merupakan situasi dimana orang menjunjung tinggi etika dan moral serta mampu menempatkan diri bersama orang lain meski mereka berbeda. Keteridikan itu mampu mengendalikan rasio dan rasa yang melahirkan perilaku tidak menangnya sendiri, mampu bersinergi dan mampu menjaga diri kerika berada ditengah tengah orang lain.

Bukankah sering juga kita jumpai bagaimana seseorang berjuang tak kenal lelah, namun sayangnya apa yang diperjuangkan adalah nisbi tentang nilai, hanya bergerak yang tak beraturan yang pada ujungnya adalah kepentingan nilai yang pragmatis dibanding hal hal yang bersifat mendasar dan bermanfaat bagi kemanusiaan. Lebih banyak mengandalkan otot dan bacot dibanding akal dan rasa. Orang seperti ini tentu sangat banyak, semakin mereka beririsan maka yang tersurat pastilah kekosongan jiwa, kering nilai dan moral, tak mampu menjunjung etika.

Nah kawan yang baik pasti akan ketemu dengan yang baik dan itu akan bersifat abadi, sedangkan yang tidak baik pasti akan ketemu dengan yang tidak baik, dan itu tidak akan abadi, karena sudah menjadi ketentuan Tuhan, diantara mereka pasti akan mejatuhkan karena dari sananya sudah tak baik dan tak mampu menjunjung etik dan moralitas.

Belajarlah ketika gabah harus dijadikan beras, maka yang akan menjadi beras akan berkumpul dengan yang akan menjadi beras, gabah akan bertemu dengan gabah. kebaikan pasti bersama kebaikan, kepecundangan akan selalu bertemu dengan kepecundangan. marilah kita isi Indonesia dengan kebaikan dan berusaha berbuat baik untuk kemanusiaan.

” Sebaik baik manusia adalah mereka yang bisa berbuat baik dan bermanfaat bagi manusia yang lainnya ”

Semoga Allah memasukkan kita kedalam golongan hambaNya yang baik… aamien.

Surabaya, 4 September 2018

*Pegiat Pendidikan Perubahan Perilaku

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here