Catatan Oase Kehidupan #172: Memberadabkan Surabaya dengan “SMART Surabaya”

0
122
Foto gedung balai pemuda yang legendaris diambil dari facebook

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Malam ini sepulang saya dari kegiatan didaerah keputih Surabaya, saya mencoba melewati jalan pinggiran pantai. Ada sesuatu yang berbeda diseputaran jalan sepanjang kenjeran park sampai dengan sentra ikan bulak. Sesuatu yang saya rasakan beda adalah jalanan semakin lebar, kelihatan tertata bersih dan yang mengagetkan adalah Jembatan Suroboyo yang seharusnya menjadi pemanis dari jalan yang sudah tertata ternyata tak terlihat denyut nadinya. Sepanjang jembata lampu penerangan padam, bahkan jalan ditutup dengan penutup jalan serta dilapisi dengan mobil truk yang diparkir melintang. Praktis tak ada yang masuk jembatan yang konon dibangun dengan dana milyaran rupiah itu, apalagi lampu airmancur bergoyang tak menampakkan sinarnya.

Sepanjang Jembatan Suroboyo menampakkan diri sebagai sudut mati sebuah kota. Tak ada sorak sorai ditengah gempitanya tengah kota. Hanya klesak klesik pasangan muda yang merawat birahi disepanjang pelesiran pantai. Surabaya yang semakin cantik tak mampu menampakkan keceriaannya ketika berada pelataran sepanjang pantai. Yang terlihat kesuraman dan kemuraman ditengah padamnya lampu.

Sebuah kota sejatinya dibangun untuk mampu memberikan sebuah manfaat kepada warganya. Kemanfaatan itu bisa menjadi pertanda bahwa ada kepedulian pemimpin terhadap rakyatnya. Nah persoalannya apakah pembangunan disepanjang pantai memberi dampak kepada warganya? Ini yang harus dijawab oleh pemerintah kota.

Memberi manfaat merupakan bentuk keberadaban kota terhadap penghuninya. Kemanfaatan yang dirasakan oleh masyarakat merupakan indikasi berdabnya seorang pemimpin. Nah tentu perasaan memiliki manfaat akan dirasakan berbeda oleh masing masing warga.

Surabaya kedepan itu seperti apa?

Surabaya kedepan adalah Surabaya yang SMART, Surabaya yang menampakkan geliatnya sebagai jujukan masyarakat dari manapun. Ditengah gemerlap pembangunan disepanjang pantai sudah seharusnya rakyat ikut menikmati gempitanya. Surabaya SMART merupakan wujud dari Surabaya yang Santun, Maju, Apik, Response dan Tanggap.

Karakter arek yang santun egaliter dan menghargai semua orang tentu merupakan gambaran keberadaban masyarakat Surabaya. Kemajuan Surabaya tak seharusnya menggerus kesantunan yang sudah ada. Budaya sinoman yang menampakkan kegotong royongan masyarakat merupakan potret kesantunan rakyat Surabaya.

Surabaya yang konon katanya sudah tertata apik dan maju ini harus tetap memegang sebuah pakem Surabaya yaitu response dan tanggap. Potret supporter bonek Suroboyo, adalah gambaran tentang kebersamaan dan kuatnya sikap respon dan tanggap terhadap sebuah persoalan. Arek Suroboyo memegang komitmen kuat dengan nalar yang baik. Sehingga apa yang sudah pilihannya pasti akan dipertanggung jawabkan.

Nah Surabaya kedepan butuh figur yang tidak hanya suka kerja, Surabaya kedepan butuh orang yang berkarakter santun, memiliki kesanggupan membawa rakyatnya untuk maju berkeadaban, mampu melanjutkan semangat membangun kota yang apik dan sosok yang cepat merespon persoalan dengan tindakan yang nyata, sosok yang tanggap.

Surabaya mesti dikawal untuk menjadi kota yang beradab. Keberadaban itu bisa diwujudkan dalam banyak hal, misalnya memuliyakan guru dengan kecepatan merespon persoalan yang ada yang pada akhirnya memberi rasa nyaman.

Dalam hal kebudayaan, Surabaya butuh orang yang mampu “memaksakan ” gagasan Surabaya sebagai laboratorium kebudayaan, sehingga semua sudut kota menjadi ruang kita berkebudayaan.

Dalam hal kesehatan, pengalaman saya kalau berobat ke Puskesmas mulai dari pendaftaran sampai dengan mendapatkan layanan, dibutuhkan waktu tidak kurang dari 4 jam, bisa dibayangkan kalau anda sakit dan harus ke Puskesmas, maka bisa dipastikan anda akan meninggalkan pekerjaan. Nah dalam hal kesehatan kita butuh orang yang mampu merevolusi layanan menjadi lebih cepat dan lebih baik. Belum lagi kalau warga harus mendapatkan layanan, alasan administrasi dan birokrasi kadang menyulitkan. Kita butuh sosok pemimpin yang bisa mempermudah layanan kesehatan, misalnya cukup dengan identitas sebagai warga Surabaya, maka puskesmas dan rumah sakit wajib melayani. Pemerintah memberi jaminan dana kesehatan yang dikelolanya dalam bentuk badan usaha daerah yang melayani kesehatan warga, kembali ke warga dalam bentuk layanan kesehatan.

Dalam bentuk pendidikan, kita butuh sosok yang memahami seluk beluk pendidikan serta kebutuhannya. keberpihakan kepada hak anak menjadi sangat penting. sehingga kita tak akan mendengar lagi anak putus sekolah atau anak dikeluarkan dari sekolah karena alasan administrasi dan keuangan.

Tipikal mereka yang SMART adalah jawaban bagi Surabaya kedepan, semoga saja bisa kita dapatkan.

Surabaya, 6 September 2018

*Warga Surabaya dan pegiat pendidikan yang membebaskan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here