Catatan Oase Kehidupan #174: Menajamkan Rasa Menaburi Hati Wujud Keberadaban Sebuah Layanan

0
106
Foto pelayanan prima diambil dari pengertian apapun

KLIKMU.CO

Oleh: M. Isa Ansori*

Hari ini ada beberapa kawan yang menyempatkan waktunya untuk sejenak berdiskusi tentang beberapa hal yang terjadi di Surabaya. Rata – rata merespon tulisan – tulisan saya terdahulu yang berkisar tentang kesehatan dan pendidikan.

Dalam diskusi ada yang mencoba melengkapi pemahaman tentang tulisan berkaitan dengan lamanya rentang waktu mendapatkan layanan kesehatan di Surabaya. Ada yang mengatakan untuk mengurai lamanya rentang waktu layanan kesehatan, setidaknya dibutuhkan 4 – 5 rumah sakit baru. Agar layanannya seperti yang terjadi di rumah sakit swasta, sebaiknya pemerintah kota memposisikan layanan rumah sakit ditangani oleh badan usaha milik daerah atau badan layanan umum daerah. Adapun anggaran yang digunakan adalah anggaran jaminan kesehatan daerah yang dialokasikan dari APBD dan dananya digunakan untuk membangun rumah sakit baru atau memperkuat layanan di Puskesmas yang sudah ada.

Ada juga yang merespon tentang kualitas pendidikan di Surabaya. Bagi saya bahwa kalau bicara tentang sarana dan prasarana, Surabaya sudah lebih dari cukup, tapi dari sisi kualitas layanan saya kira masih belum maksimal. Lalu saya coba paparkan beberapa data tentang kekerasan terhadap anak, dari jumlah 563 kasus yang terjadi di Jatim, sekitar 47 % nya terjadi di Surabaya. Sekitar 250 an kasus yang terjadi. Dari 250 an kasus yang ada, sekitar separuhnya terjadi di sekolah, dan dari kasus di sekolah tersebut, sekitar 20 % kasus kekerasan seksual yang terjadi di sekolah.

Bagi saya menjadi hal penting bahwa rumah dan sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang aman, ternyata sudah mulai bergeser. Jalanan justru bisa memberi rasa nyaman kepada si anak. Ini juga bisa dimaknai ada problem pengasuhan dan pembelajaran yang terjadi pada anak.

Problem pengasuhan juga banyak variabel yang mendukungnya, misalnya ketidak tahuan orang tia tentang pemahaman pengasuhan, orang tua terlalu sibuk dengan urusan yang lain diluar anak, atau juga terlalu longgarnya informasi diluaran yang bisa dikonsumsi oleh anak.

Berkaitan dengan sekolahan, hal yang menyebabkannya antara lain sumber daya guru yang terjebak pada konsep pembelajaran, sehingga guru hanya mengasah anak sampai pada tataran kognisinya. Atau bisa juga sistem disekolahan sangat mendukung terjadinya penyimpangan perilaku, misalnya jam kosong, lemahnya pengawasan sekolah dan lain lain.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Sebuah masalah timbul pasti ada sebabnya. Dalam kehidupan berlaku rumus sebab akibat. Sehingga kalau terjadi persoalan kenakalan remaja, pasti ada yang menyebabkan. Nah dalam kaitan masih seringnya terjadi kekerasan di sekolah, bisa jadi sistem yang dibangun merupakan sistem yang mencekam dan menimbulkan kegelisahan. Kalau sudah seperti itu, maka sejatinya perbaikan sistem perlu diperbaharui.

Peenguatan guru dan membangun komitmen bersama, merupakan upaya mulia. Mengapa? Karena dengan komitmen yang dibangun, setiap orang dipaksa untuk melakukan yang terbaik untuk anak anak. Penguatan guru tidak bisa dilakukan dengan cara cara yang mengeraskan hati, tetapi harus dilakukan dengan keadaban yang sesuai denga standar yang berlaku.

Membangun atmosfir pendidikan yang aman dan nyaman, bisa dilakukan oleh siapapun termasuk orang tua. Namun sayangnya masih banyak guru belum mampu merangkai kaitan antara orang tua dan guru dalam mendidik anak.

Saya berdasarkan pengalaman yang ada, pendekatan yang dilakukan adalah membangun sistem pencegahan kekerasan di sekolah yang kelak disebut dengan sekolah ramah anak.

Kawan… bagi kota sekelas Surabaya, tentu segala sesuatunya sudah tersedia, tinggal bagaimana mewujudkan kemauannya. secara kebijakan, kemauan pemerintah kota sudah cukup baik, yang belum adalah kemampuan mengaplikasikan komitmen dalam kegiatan. oleh karenanya bagi kota seperti Surabaya, sudah selayaknya mampu memberi layanan pendidikan yang baik dan berkualitas. Adapun ukurannya adalah seberapa mampu sekolah melakukan kegiatan mengasah hati menaburi budi pekerti dengan semangat kebaikan. Meminta komitmen kepada semua sekolah untuk pencegahan kekerasan terhadap anak bisa jadi merupakan indikator kepekaan rasa dari kepala sekolah, para guru dan semua insan sekolah.

Surabaya, 8 September 2018

*Warga Surabaya dan Pegiat pendidikan yang memanusiakan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here