Catatan Oase Kehidupan #175: Reklamasi Otak Tidak Sama dengan Asah Otak

0
78
Foto otak di pasangi chips diambil dari jalantikus

KLIKMU.CO

Oleh: M. Isa Ansori*

Setiap membaca info info terkini selalu saja masih sering kali didapatkan info tercampur aduk antara fakta dan opini. Kadang kadang faktapun dibuat tak sebanding, sehingga penyajian faktapun mengikuti kepentingan penyaji fakta. Bagaimana mungkin kita bisa menjawab sebuah pertanyaan lebih pandai siapa kalau diadu berenang antara itik dengan ayam? Nah perbandingan seperti ini tentu tidak tepat untuk dipertanyakan.

Seringkali kita melihat beberapa orang yang menurut saya merupakan potret intelektual dan budayawan, namun ketika harus menuliskan sesuatu tentang orang lain yang tak sepaham, seharusnya mampu memberi warna atas ketidak setujuannya, namun justru berubah menjadi pribadi yang tak bernalar, sumpah serapa dan fitnah kerap menjadi pilihan yang tak memartabatkan diri. Sehingga semakin terlihat kehilangan aura kebudayaan dan keintelektualan.

Dalam perspektif perilaku, kita bisa melihat pada relasi yang dibangun oleh seorang anak yang kerap menangis. Mengapa anak kerap menangis, bisa jadi ketakutan akan kesendirian, ketakutan akan kehilangan sesuatu yang dia butuhkan atau bahkan juga ketakberdayaan. Perilaku setiap orang akan dipengaruhi perasaan diri dan ketakutan akan kehilangan. Manifestasi dari ketakutan itu lalu diwujudkan dengan melemahkan orang lain yang menyebabkan ketakutannya akan kehilangan.

Mengapa orang bisa dengan bangganya menjatuhkan orang lain dengan cara cara yang tak terpuji? Bisa jadi pilihan itu dilakukan kerena proses perkembangan yang dialami pernah mengalami gangguan, sehingga menimbulkan dendam kepada sebuah momentum yang menyebabkan timbulnya ketakutan yang dimiliki. Itu artinya dalam proses perkembangannya pada masa kecil, orang tersebut sering mengalami gangguan.

Gangguan kepada seseorang terjadi karena ada banyak faktor, diantaranya faktor lingkungan dan faktor bacaan informasi. Seseorang kalau seringkali mendapatkan informasi yang tidak benar tentang seseorang, maka dia akan cenderung mengembangkan kesesatan pikirnya dan itu akan menjadi jadi kalau kemudian lingkungan yang dikembangkan lingkungan yang tak terdidik dan tak berbudaya, maka akan cepat berinteraksi. Lingkungan dan informasi yang tak terdidik dan tak berbudaya ibaratnya sebuah mata air yang jernih kemudian direklamasi dengan watak kebencian dan ketakterdidikan, sehingga yang terjadi adalah kedunguan dan ketakbermartabatan diri. Tak mampu lagi berpikir kritis dan santun. Yang dikembangkan selalu interaksi diwarnai kecurigaan dan kebencian.

berbeda dengan mereka yang selalu disemai dengan kemampuan diri mencerdaskan otaknya. figur seperti ini biasanya cerdas dalam bertutur dan santun dalam menalar. figur ini adalah figur yang cerdas secara intrapersonal, dia tak akan melakukan apapun meski itu baik, kalau didalam menjalankan kebaikannya ternyata masih berdampak terhadap perasaan orang lain yang tidak menyenangkan. Orang seperti ini akan cerdas melihat momentum, karena otaknya terasah dengan kebaikan dan kesantunan.

Nah ditengah situasi yang tak jelas tentang benar dan salah, ada baiknya kita memulai memilih lingkungan dan kawan, agar kita selalu terjaga dalam kebaikan bersama orang lain. Saya sangat meyakini bahwa takdir Allah akan selalu mengelompokkan kebaikan dengan kebaikan dan begitu juga sebaliknya.

Selamat berbagi kebaikan, mengasah otak kita dengan kecerdasan melihat lingkungan, semoga Allah selalu memberkahi….. Aamien

Wassalammualaikum wr wb….

Surabaya, 12 September 2018

*Pegiat pendidikan yang memanusiakan, Anggota Dewan Pendidikan Jatim dan Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak Jatim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here