Catatan Oase Kehidupan #178: Kecemasan dan Tindakan Irrasional

0
60
Foto dua wajah diambil dari jorumongso.wordpress

KLIKMU.CO

Oleh: M. Isa Ansori*

Cemas menggambarkan suasana hati yang mengalami gangguan psikologis yang dapat memiliki karakteristik yaitu berupa rasa takut, keprihatinan terhadap masa depan, kekhawatiran yang berkepanjangan, dan rasa gugup. Rasa cemas memang biasa dihadapi semua orang. Namun, rasa cemas disebut gangguan psikologis ketika rasa cemas menghalangi seseorang untuk menjalani kehidupan sehari-hari dan menjalani kegiatan produktif.

Kecemasan merupakan respon normal dalam menghadapi situasi sulit. Bahkan, rasa cemas dapat membantu jika situasi yang membutuhkan respon “lawan atau lari” terjadi. Respon “lawan atau lari” adalah suatu respon yang diatur oleh hormon adrenalin yang akan menentukan apakah Anda harus “lawan” atau “lari” dalam situasi genting. Namun, jika respon ini berlebihan dan berkepanjangan atau menjadi terlampau paranoid terhadap masalah kecil, Anda mungkin mengalami gangguan kecemasan.

Rasa cemas disebabkan oleh kombinasi faktor-faktor tertentu. Seperti gangguan mental lainnya, rasa cemas disebabkan oleh gagalnya saraf-saraf otak untuk mengontrol emosi dan rasa takut. Sebagai contoh gejala stress dapat mengubah alur komunikasi sel-sel saraf dalam sirkuit otak. Hal ini akan mengubah struktur otak tertentu yang mengkontrol emosi.

Faktor lingkungan seperti trauma masa kecil ( contohnya kekerasan rumah tangga, kehilangan orang tua, dll ) atau masalah besar dalam hidup ( contohnya krisis finansial dan gagalnya hubungan asmara ) dapat memicu kecemasan.

Salah satu bentuk kecemasan yang ada diantaranya adalah kepanikan. Kepanikan adalah suatu kondisi kecemasan yang sangat berat yang disertai dorongan untuk lari atau bersembunyi sewaktu menghadapi suatu kondisi yang dirasakan berbahaya atau mengancam. Kepanikan akan menimbulkan Rasa takut yang muncul tiba-tiba dan ini akan dapat menghilangkan kemampuan berpikir dan memengaruhi kelompok atau individu lain.

Kepanikan timbul akibat pengaruh masa lalu yang terjadi pada diri seseorang. Pengaruh masa lalu itu bisa berupa bencana yang kita alami, kita pernah dikhianati atau segala sesuatu yang tidak menyenangkan. Penyebabnya bisa berasal dari kita sendiri maupun dari orang lain.

Kepanikan akan menimbulkan kecemasan. Adalah sesuatu yang normal dalam kehidupan seseorang. Kecemasan sejatinya akan menimbulkan sikap hati hati dan waspada agar masa lalu yang kurang menyenangkan tidak terjadi lagi. Namun sayangnya seringkali dikehati hatian kita, muncul hal hal yang irrasional. Hal hal yang tak masuk akal, karena kepanikan kita kemudian mempersonifikasikan orang lain seperti yang kita cemaskan. Padahal sejatinya belum tentu terjadi.

Kepanikan yang kita rasakan sejatinya akan tergambar dari cara kita bersikap dan memperlakukan orang lain. Kepanikan terjadi akibat ketakmampuan kita berpikir jernih dan tulus dalam menghadapi persoalan. Kepanikan justru akan semakin menjauhkan seseorang dari kemerdekaan bersikap maupun berpikirnya. Kepanikan akan menjadikan kita terjebak dengan pikiran kita sendiri, tak mampu melihat realitas lain yang lebih baik. Kepanikan akan membatasi kita bersikap lebih bijak dan dewasa.

Menciptakan Relasi Yang Sehat

kita tidak bisa hidup sendiri, kita ditakdirkan menjadi mahluk yang bersosial. Karena kita mahluk sosial maka membangun relasi dengan manusia lain merupakan sebuah keharusan. Dalam membangun tentu tak boleh berprinsip kita yang harus unggul dan orang lain tidak. Relasi harus dibangun dalam prinsip kesetaraan. Sehingga disana akan ada saling melengkapi dan saling menghargai.

Sebuah relasi dibangun untuk menegaskan bahwa ada kebersamaan dalam mencapai tujuan. Relasi sosial dibangun sejatinya untuk menghasilkan ketenagan dan kenyamanan. Karena didalam relasi sosial orang akan cenderung menempatkan persamaan diatas perbedaan. Relasi sosial semacam ini dilandasi dengan menyediakan ruang batin untuk bisa menerima dan memberi.

Kesanggupan menyediakan ruang batin merupakan sesuatu yang harus selalu dimiliki, sehingga kita bisa meletakkan kepercayaan. Ibarat keluarga kesediaan menerima apa saja dan menjaga diri untuk tidak melukai merupakan sesuatu yang niscaya.

Nah akhirnya sebuah relasi yang sehat akan bisa terjadi kalau kita semua mampu menempatkan diri secara baik dan tepat dalam kebersamaan. Mempercayai dan tidak mempersepsi sendiri apa yang terjadi adalah kata kunci kebersamaan. Semoga saja kita bisa belajar untuk tulus dalam berkawan.

” Tidaklah benar benar akan dianggap sebagai orang beriman, kalau anda tidak mencintai orang lain sebagaimana anda mencintai diri sendiri ” ( Alhadits )

Meletakkan dasar bersama dan berani merubah diri dari pengaruh masa lalu adalah sebuah keniscayaan membangun relasi yang sehat. Sehingga didalamnya akan ada kecerdasan intrapersonal kita, kecerdasan dimana kita tak akan melakukan sesuatu yang menyebabkan orang lain terluka. Menjadi diri yang dicurigai tentu tidak nyaman dalam relasi, maka belajarlah untuk tidak mencurigai dan selalu berasumsi baik. Sehingga batin kita menjadi hening dan bersih.

Surabaya, 17 September 2018

M. Isa Ansori

*Pembelajar dan pegiat pendidikan perubahan perilaku

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here