Catatan Oase Kehidupan #179: Gelombang Aufklarung

0
140
Foto Generasi Sang Pencerah santri Panti Pesantren Muhammadiyah Surabaya diambil dokumen pribadi zahwa

KLIKMU.CO

Oleh: M. Isa Ansori*

Sejarah Aufklarung terjadi pada abad pertengahan, saat itu hegemoni iman mendominasi kekuatan akal. Siapapun yang kritis saat itu, maka akan bakal mendapatkan hukum yang berlaku. Saat itu terjadi perdebatan sengit antara akal dan iman atau antara gereja dan kalangan proletar Eropa.

Hal itu terjadi selama kurang lebih 8 abad lamanya. Mereka dipaksa mengikuti doktrin yang telah dikeluarkan oleh pihak gereja dalam dogma-dogma gereja nya. Mereka juga dipaksa untuk melupakan akan kebudayaan mereka dulu, yaitu kebudayaan Romawi dan Yunani. Namun, semakin lama mereka pun semakin merasakan akan kejanggalaan tentang doktrin yang mereka terima itu. Terasa berada di luar akal rasional (irasional).

Banyak masyarakat yang tidak puas melihat dominasi Gereja atas orang Eropa. Mereka ingin segera mengakhiri dominasi itu. Akan tetapi mereka khawatir mengalami nasib yang sama dengan kawan-kawan mereka yang telah dikirim ke akhirat lewat penyiksaan Gereja. Seperti tokoh Sains Coppernicus yang berbeda pendapat dengan gereja tentang pusat tata surya. Menurutnya pusat tata surya adalah matahari (heliosentris). Sedangkan menurut gereja, bumilah sebagai pusat dari tata surya (geosentris). Sekalipun demikian adanya, ada juga pemberani yang sanggup melawan arus deras itu. Orang itu salah satunya adalah Renĕ Descartes yang terkenal dengan Filsafat Rasionalisme nya.

Ditengah gelombang hegemoni dogma dan insting lahirlah gelombang pencerahan ( Aufklarung ) yang mengedepankan pertimbangan rasional. Gelombang itu mengajak masyarakat untuk melawan ketidakdewasaan yang dibuatnya sendiri. Ketidakdewasaan adalah ketidakmampuan untuk mempergunakan pengertiannya sendiri tanpa bimbingan orang lain. Ketidakdewasaan ini dibuatnya sendiri bila penyebabnya bukannya pada kurangnya pikiran melainkan kurangnya ketegasan dan keberanian untuk mempergunakan pikiran itu tanpa bimbingan orang lain.

” Sapere Aude ” Beranilah mempergunakan pikiranmu sendiri! Itulah semboyan pencerahan. Menentukan dan percaya diri dengan menggunakan pertimbangan yang rasional merupakan sebuah kekuatan melakukan pencerahan. Menegaskan posisi sikap dan membangun kedewasaan berelasi merupakan gelombang aufklarung yang tak bisa dipungkiri.

Memotret relasi kekuasaan yang terjadi sekarang setidaknya menjadi niscaya ketika kemudian terjadi gelombang besar mahasiswa menuntut adanya perubahan. Hari ini tercatat gelombang aksi mahasiswa menuntut perubahan dan perbaikan ekonomi rakyat atas janji politik adalah bagian dari kesadaran pencerahan mahasiswa. Nah tentu kesadaran seperti ini harus direaksi secara bijak. Kesadaran mahasiswa merupakan alarm peringatan bahwa ada sesuatu yang kurang baik dalam pengelolaan negara.

Sebagai sebuah alarm tentu ini bisa menjadi masukan bagi pemerintah dalam melakukan program program kesejahteraan rakyat dan pengelolaan negara. Negara mesti dikelola dengan rasionalitas meski insting dan dogma dibutuhkan. Rasionalitas tetap menjadi pijakan melakukan kegiatan. Mengandalkan kekuatan insting dan dogma tanpa melibatkan rasionalitas yang baik justru akan menjerembabkan negara pada ketidak pastian.

Bagi saya, gelombang aksi mahasiswa saat ini yang memprotes atas kondisi yang ada adalah sebuah pencerahan, tinggal bagaimana kita merespon dan menterjemahkannya. Bagi orang bijak dan dewasa, gelombang itu akan diolah menjadi energi membangun bangsa, bagi yang panik dan tidak dewasa, maka gelombang itu akan dimatikan dan diberangus, kalau sudah seperti itu kita mengulangi zaman dimana semua kebebasan berpendapat ditekan dan harus dikontrol. Selamat berkarya untuk Indonesia, adik adik mahasiswa, selamat berjuang menyelamtkan Indonesia dari keterpurukan.

Surabaya, 18 September 2018

*Pegiat pendidikan yang membebaskan dan pendamping masyarakat untuk hak pendidikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here