Catatan Oase Kehidupan #180: Mereduksi Makna dan Membodohkan Masyarakat

0
72
Foto gambar doktrin diambil dari aestheticblasphemy.com

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Makna adalah sebuah arti yang diberikan pada satu istilah. Makna juga bisa diberikan sebagai sebuah penjelasan terhadap sebuah lambang. Sehingga makna bisa dipahami sebagai sebuah penjelas dari lambang atau sesuatu. Misalkan kalau anda sedang berjalan keluar kota, kemudian anda melihat tanda lalu lintas ada gambar sendok dan garpu. Tentu secara otomatis anda akan berkesimpulan bahwa ada restoran diperjalanan kedepan anda. Pertanyaannya, apakah anda tidak boleh mengartikan bahwa diperjalanan anda kedepan anda akan menemukan pabrik sendok dan garpu. Tentu saja boleh, karena memang kita tidak pernah diajak untuk bersepakat bahwa lambang sendok dan garpu tersebut harus dimaknai restoran.

Sebuah makna diberikan seringkali dipengaruhi oleh latar belakang dan pengalaman seseorang. Sehingga pengalaman seseorang akan menentukan kemampuan memberi makna . Semakin orang mempunyai banyak pengalaman dan bacaan maka makna yang diberikan akan cenderung beragam dan kaya kreatifitas. Nah sejatinya kemampuan memberi makna akan sesuatu menggambarkan kualitas kita sebagai manusia.

Masyarakat dengan literasi yang baik, akan terlihat bagaimana dia mampu mengurai sebuah simbolik dengan beragam makna. Dia akan bisa urai dengan banyak sudut pandang, mulai dari pengertian, ragam makna yang ditimbulkan serta mengapa bisa terjadi perbedaan makna antara seseorang dengan yang lainnya terhadap sebuah simbol. Sebaliknya juga terjadi pada masyarakat dengan kemampuan literasi yang rendah, maka cara berpikir konvensional dan cenderung monoton akan menjadi warna pemikiran yang disampaikan.

Tipologi cara berpikir konvensional seperti ini lebih banyak terjadi pada masyarakat agraris dengan religusitas yang cukup, banyak diwarnai dengan dogma dan asumsi, sehingga kecenderungannya tidak berani keluar terhadap pemahaman yang sudah ada selama ini. Pada masyarakat industri yang tantangannya semakin tinggi, masyarakat cenderung dituntut untuk melahirkan keberanian berpikir dan keluar dari kotak nyaman yang ada. Masyarakat dituntut untuk kreatif.

Mereduksi makna seringkali terjadi pada masyarakat yang statis dan terbelakang, sehingga jarang bisa ditemui kemajuan dan nilai baru yang dibutuhkan. Masyarakat seperti ini akan cenderung defensif dan resisten terhadap makna baru yang diberikan. Sebagai contoh pada masyarakat tertentu masih berkeyakinan bahwa memindahkan sesuatu harus mengikuti hitungan hitungan profan dan cenderung tidak pasti. Sehingga menjadi semakin rumit dan birokratis. Sebaliknya pada masyarakat modern dengan keampuan literasi yang tinggi, segala sesuatunya bisa dilakukan dengan hitungan yang rasional terukur dan pasti, segala sesuatunya akan menjadi simpel dan sederhana. Bukankah hidup itu sederhana dan saya kira Tuhan pun menghendaki kesederhanaan, sebagaimana Tuhan firmankan tidak menyukai mereka yang berlebih lebihan.

Peristiwa sosial dan peristiwa politik yang terjadi beberapa waktu terakhir ini menunjukkan bahwa telah terjadi reduksi makna terhadap sebuah simbol, sehingga pada masyarakat yang kemampuan literasinya rendah dan konvensional, dominasi makna dikendalikan oleh pemilik kepentingan. Pemilik kepentingan menjadi rezim yang berkepentingan untuk menyemai penolakan dan menyemai kemapanan diri dengan memanfaatkan masyarakat yang lemah leterasi dan pemahaman. Bisa dibayangkan ketika seseorang melarang sebuah simbol, mereka tak tahu kenapa dilarang? Yang ada cuma jawaban seragam yang sudah direduksi.

Mereduksi makna sejatinya hanya akan membuat masyarakat semakin bodoh dan tidak kreatif serta jauh dari nilai nilai kemajuan dan keadaban. Mereduksi makna hanya dilakukan oleh mereka yang takut kehilangan ” otoritas “. Mereduksi makna hanya terjadi pada masyarakat dimana dikuasai oleh rezim yang sudah kehilangan kepercayaan masyarakat, sehingga dalam mempertahankannya cenderung menghalalkan segala cara lalu memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat dengan hal hal yang menguntungkan kekuasaannya.

Mereduksi makna sejatinya bisa dilakukan oleh siapapun yang berkepentingan akan keselamatan dan kebertahanan diri dalam simbol ” kemapanan ” yang dirasakan.

Surabaya, 19 September 2018

*Pengajar perubahan perilaku

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here