Catatan Oase Kehidupan #181: Membincang Rasa Menyemai Percaya

0
79
Foto kegiatan outbound akbar santri Panti Pesantren Muhammadiyah Surabaya diambil dari facebook

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Rasa adalah sesuatu yang tak punya ukuran pasti. Setiap orang pasti bisa merasakan akan sebuah peristiwa, tapi belum tentu rasa yang ditimbulkan bisa sama. Rasa yang timbul dalam diri seseorang seringkali dipengaruhi pengalaman yang dimiliki. Sehingga seringkali juga perasaan seseorang bisa salah terhadap orang lain, karena ketidaksamaan pengalaman yang dimiliki.

Sudahkah anda mendengar bahwa ada salah satu perusahaan angkutan online baru saja memutuskan kontrak dengan mitra kerjanya. Mengapa? Menurut info yang diberikan oleh pihak perusahaan karena banyak diantara mitranya sudah tak mampu membangun rasa yang sama terhadap perusahaan dan tanggung jawabnya, sehingga tak merasa memiliki perusahaan, akibatnya mereka melakukan perbuatan semaunya sendiri yang berakibat pada kerugian perusahaan. Dan yang paling penting adalah perusahaan tak akan pernah mentolerir kecurangan.

Pesan apa yang bisa kita jadikan pelajaran dari peristiwa tersebut? Ketika perasaan tak mampu disamakan, maka yang terjadi adalah ketidakpercayaan. Mengapa perasaan bisa tak sama? Karena dipengaruhi oleh pengalaman. Ketidakpercayaan akan memunculkan sikap tidak memiliki. Dan dari sikap tidak memiliki inilah, orang bisa melakukan apapapun yang merugikan pihak lain.

Lalu bagaimana kepercayaan bisa dibangun?

Adalah sebuah kisah tentang perjalanan dua orang utusan Allah, Nabi Khidr dan Nabi Musa. Syahdan setelah Musa diselamatkan oleh Allah dari kejaran Fir’aun, lalu muncullah perasaan dalam diri Musa bahwa dialah orang paling dikasihi Allah dan merasa diri sebagai hamba yang sudah selesai berbuat dan merasa diri pandai. Nah perasaan ” paling ” itulah yang kadang membuat seseorang menjadi sulit meletakkan kepercayaan pada orang lain.

Perasaan paling akan menyebabkan seseorang merasakan dirinya berlebih dan beranggapan orang lain mempunyai kekurangan yang pada akhrinya patut dipertanyakan. Nah disinilah Allah lalu memberi pelajaran tentang ketakpercayaan yang berbuah pada kelemahan. Syahdan ketika Musa sudah mulai bangga akan pertolongan Allah kepadanya, ada perasaan berlebih pada diri Musa. Melihat perubahan sikap yang seperti itu, maka Allah mengutus Musa untuk menemui seseorang yang dipilih dan keberadaanya di batas pertemuan antara dua lautan.

Berjalanlah Musa dan menyusuri pantai. Ketika sudah sampai pada petunjuk yang diberikan pertemuan dua lautan, Musa melihat ada seseorang yang seperti dengan ciri ciri yang didapatkan. Lalu bertanyalah Musa kepada orang tersebut, yang kelak disebut sebagai Nabi Khidr, ” Bolehkah aku bersamamu untuk belajar tentang sesuatu sebagaimana Allah Tuhanku memerintahkan “, Tanya Musa. ” Engkau tak akan mampu bersamaku “, Jawab Khidr. ” Ijinkanlah aku belajar bersamamu, inshaa Allah aku akan mampu “, ucap Musa. ” Baiklah, tapi ada satu syarat yang harus engkau patuhi “, Sergah Nabi Khidr. ” Apa itu wahai orang yang dipilih Allah? “, Tanya Musa. ” Engkau tak boleh bertanya apapun selama kita dalam perjalanan “, Pinta Nabi Khidr.

Maka dimulailah sebuah perjalanan melatih komitmen yang disepakati olehnya. Naiklah kemudian mereka keatas sebuah kapal yang sangat baik. Ditengah perjalanan dihamparan samudra yang luas, tiba tiba Nabi Khid mengambil kapak dan merusak dinding kapal agar terlihat bocor. Melihat peristiwa itu, Musa terdorong untuk bertanya sebagai panggilan hatinya, lalu bertanyalah dia tentang apa yang dilakukan Nabi Khidr. Jawab Khidr, engkau tak akan mampu memegang komitmenmu selama bersamaku. Musa menyadari kekeliruannya, lalu dia memohon untuk tetap diizinkan melakukan perjalanan bersamanya. Nabi Khidr pun memperbolehkannya. Lalu tibalah disebuah dusun yang subur, namun penduduknya sangat kikir. Tiba tiba Nabi Khidr melihat ada sebuah rumah yang sudah rusak. Lalu dia perbaiki rumah itu. musa merasa heran atas apa yang dilakukan oleh Nabi Khidr, padahal ketika dia minta air kepada penduduk, penduduk tak memberi. Musa merasa jengkel atas apa yang diperbuat penduduk kepadanya, padahal Musa dan Nabi Khidr sudah berkorban memperbaiki rumah yang rusak tersebut. Tak kuat menahan perasaannya, lalu bertanyalah Musa. Khidr pun memperingatkan Musa untuk kedua kalinya. Nabi Musa pun menyadari kesalahannya. Perjalanan dilanjutkan dari dusun ke dusun. Sampalah mereka pada suatu tempat. Lalu dilihatlah ada anak kecil sedang bermain. Tanpa disadari oleh Musa, Khidr mendekati salah seorang anak dan mencekiknya. Musa secara reflek marah dan mencegah apa yang dilakukan oleh Nabi Khidr kepada anak tersebut. Nabi Khidrpun memperingatkan Musa untuk ke tiga kalinya. Cukuplah perjalanan kita, dan engkau tak akan mampu. Musapun akhirnya menyerah.

Sebelum perpisahan, Nabi Khidr menjelaskan kepada Musa, mengapa ia membocori kapal, karena kalau tidak Dibocor, kapal tersebut akan dirampok oleh bajak laut yang sudah memghadang didepan. Begitu juga mengapa Nabi Khidr memperbaiki rumah yang sudah reot, padahal penduduknya kikir. Khidr menjelaskan bahwa rumah tersebut adalah milik anak yatim piatu, kalau roboh maka akan terkubur harta anak yatim piatu tersebut. Begitu juga dengan mengapa anak kecil yang dicekik, Khidr menjelaskan kalau anak tersebut tidak dicekik, maka kelak anak itu akan menyusahkan kedua orang tuanya.

Nah kawan ketidak tahuan akan sesuatu akan menimbulkan pertanyaan. Ketidak tahuan akan sesuatu akan menimbulkan kecurigaan. Sehingga untuk mencegah kecurigaan, sejatinya diperlukan kedekatan komunikasi. Sehingga dengan kedekatan itu semua menjadi jelas dan transparan. Komitmen adalah kata kunci. Akan menjadi persoalan kalau komitmen sudah dipegang, transparan sudah dijalankan tapi masih muncul ketidakpercayaan dan kecurigaan.

Belajar percaya dan belajar memahami orang lain adalah kunci percaya dan mengubur kecurigaan.

Semoga Allah menaburi kita dengan sikap baik

Surabaya, 20 September 2018

*Pegiat pendidikan perubahan perilaku

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here