Catatan Oase Kehidupan #182: Berjuang Bersama Tanpa Prasangka

0
131
Foto diskusi para pakar dan aktivis dunia pendidikan diambil dari dokumen Forum Pendidikan Jawa Timur

KLIKMU.CO

Oleh: M. Isa Ansori*

Tahukah anda masyarakat Samin bagaimana sejarahnya berjuang melawan penjajahan Belanda dan Jepang ? Sebagaimana dikutip dari media Berita Satu, Di Bojonegoro, Komunitas Suku Samin Hidup Jujur dan Anti KekerasanSawah di wilayah masyarakat Samin di Bojonegoro, Jawa Timur.

Komunitas Suku Samin, di Dusun Jipang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Bojonegoro, Jawa Timur (Jatim), tetap mengedepankan kebersamaan, kejujuran, kesederhanaan dan anti kekerasan, pada era keterbukaan ini. Warga yang dikenal menolak membayar pajak dan menjual hasil bumi kepada pemerintahan penjajahan Belanda dan Jepang pada saat itu, masih mengajarkan, jangan mengambil apa pun yang bukan miliknya.

Pemimpin komunitas Samin, Hardjo Kardi dalam percakapan dengan SP, belum lama ini di rumahnya mengatakan, masyarakat Samin, selalu membantu dalam keadaan dan sesulit apa pun. Ketika masa penjajahan Belanda dan Jepang, komunitas yang didirikan Suro Sentiko itu dengan kompak tidak membayar pajak, tidak mau menjual hasil bumi serta tak bersedia bekerja sama dengan kaum penjajah. Meskipun penjajah melakukan kekerasan kepada Wong (orang) Samin, tetapi masyarakat setempat melakukan perlawanan tanpa gejolak. Melalui cara tadi, akhirnya pemerintahan penjajahan mundur teratur meninggalkan Margomulyo.

“Mengapa saat itu Wong Samin, menolak membayar pajak pada Belanda dan Jepang,” tanya SP.

“Mosok pajek sing dibayar pribumi tapi duite digowo londo. Yo kebacut jenenge (Masak pajak yang dibayar pribumi, tetapi uangnya dibawa Belanda. Ya itu keterlaluan namanya),” jawab Hardjo Kardi, menggunakan bahasa Jawa.

Dalam masyarakat Samin juga berlaku ajaran yang memiliki nilai–nilai luhur yang dapat di jadikan suri tauladan bagi masysrakat-masyarakat lainnya. Nilai–nilai itu tersimpan dalam lima prinsip (adeg – adeg ) yang di tanamkan sejak kecil yakni :

Pertama. Jangan memiliki perasaan drengki srei yang berarti tidak boleh memiliki rasa dengki, iri,

Kedua. Dakwen panasten yaitu tidak boleh memiliki rasa curiga terhadap sesama

Ketiga. Bedhog colong artinya tidak boleh mencuri

Keempat. Methil jumput yaitu mengambil sesuatu yang bukan haknya, dan

Kelima. Nemu berarti tidak boleh mengambil barang orang lain yang terjatuh karena itu bukan miliknya,dan justru berkewajiban mengembalikan kepada pemiliknya, ataupun memberi tahu di mana keberadaan barang tersebut apabila telah di ketahui orang yang kehilangan barang tersebut.

Ajaran yang memiliki nilai luhur yang masih dikembangkan adalah mereka berjuang tanpa prasangka dan curiga. Mengapa bisa dilakukan? Mereka percaya kepada komitmen yang dibuat, pantang bagi mereka untuk mencurigai atau iri kepada teman seperjuangannya. Bagi masayarakat Samin, Pantang iri, pantang curiga dan pantang mengambil hak yang bukan miliknya merupakan tradisi luhur yang selalu dipegang.

Lalu apa yang bisa kita teladani?

keluhuran diri dan akal budi menjadi warna kehidupan masyarakat setempat serta pantang mencela dan mencurigai adalah kemulyaan diri yang dipegang. Mereka selalu bersikap maju dan positif dalam melihat sesuatu ancaman. Sikap positif selalu dikedepankan ketika melihat sebuah ketidakbenaran yang harus dilawan. Misalnya kalau Mereka pakai celana panjang, maka yang akan dilakukan adalah memakai celana pendek selutut, kalau mereka tahu bahwa pajak yang mereka bayarkan dikorupsi, maka mereka tidak membayar pajak, sikap yang diambil tidak pernah melawan, sikap yang selalu diambil berbuat yang lebih baik sehingga ketidakbaikan lawan akan ditinggalkan. Bukankah setiap manusia mempunyai akal dan hati nurani?

Surabaya, 21 September 2018

*Pegiat pendidikan perubahan perilaku

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here