Catatan Oase Kehidupan #185: Toleransi dari Bumi Papua

0
186
Foto Ustad Abdul Shomad disambut oleh tokoh Agama dan Masyarakat Papua diambil dari facebook

KLIKMU.MU

Oleh: M Isa Anshori*

Jujur saja kemarin (23/9) saya sangat terharu ketika membaca berita di medsos tentang penyambutan UAS di bumi Papua Sorong. Meski mereka berbeda keyakinan, namun penghormatan mereka terhadap tamu sangatlah luar biasa, UAS disambut dengan tarian adat sebagai sambutan pemghormatan, apalagi kemudian UAS disemati dengan topi khas Papua. Bagi saya inilah sebuah pesan toleransi yang disemburatkan melalui fajar timur. Ada haru dan bangga, ternyata Papua yang selama ini dikesankan sebagai daerah yang selalu menuntut merdeka, ternyata hanyalah ulah para bandit yang ingin menjarah Papua dengan teriakan merdeka.

Disaat yang sama di pulau tempat saya berpijak, UAS disambut dengan sebaliknya, padahal katanya mereka mempunyai keyakinan yang sama, namun hanya karena kejumudan akal dan hatinya, mereka membabi buta tak mampu memahami arti lambang kalimat tauhid, seolah kalimat tauhid adalah sesuatu yang haram mereka lihat, bukankah menolak kalimat tauhid wujud dari kemurtadan?

Minggu, 23 September 2018, pagi tadi juga mulai dideklarasikan kampanye pemilu damai, namun sayangnya dari Jakarta kampanye itu ternodai dengan sikap tak menghormati kampanye damai dengan cara meneriakkan yel yel dukungan. Padahal teriakan dukungan itu merupakan bentuk penodaan suasana dimulainya kampanye.

Intoleransi itu ternyata terjadi di Jawa yang katanya pulau yang peradabannya lebih maju, tingkat pendidikannya katanya baik serta masyarakat nya yang katanya bisa menghargai. Pendidikan yang baik dan peradaban yang maju ternyata tak mampu menjadikan mereka bisa menjadi lebih beradab dan lebih baik, justru semakin menampakkan ketidakberadaban sikap. Cara beraktifitasnya bak film di animal wild, semua wilayah teritorial harus dikuasai, hewan lain tak boleh masuk.

Cerminan sikap ditampakkan dengan cara cara yang intoleran dan tak beradab. Yang benar hanyalah saya, yang lain salah. Hanya saya yang boleh melakukan, yang lain jangan coba coba. Sayalah paling Indonesia dan sayalah paling pancasila. Jangan sekali kali yang lain meneriakkan sesuatu yang berbeda, kalau ingin hidupnya tenteram dan aktivitasnya berjalan.

Kontes perilaku preman sudah ditampakkan sejak suara dukungan digaungkan, ada rasa takut dan panik atas tercabiknya zona aman, mereka mengalami kegelisahan dan kepanikan, sehingga diperlukan cara meredam gaung terompet malaikat izrail yang dirasakan sebagai sebuah isyarat kematian.

UAS adalah manusia biasa, yang tak punya kuasa dan tahta, namun UAS dengan kesederhanaan dan kecerdasan memahami orang, kini seolah menjadi ancaman. UAS adalah simbol kesederhanaan yang sesungguhnya. Tak perlu bedak dan gincu untuk memolesnya. UAS adalah kita, UAS adalah Indonesia.

Kini UAS yang selama ini disematkan fitnah keji sebagai manusia penyebar intoleran, ternyata mampu membalikkan fakta, UAS lah saat ini sebagai simbol toleransi. Mereka yang selama ini berteriak sebagai kaum toleran, ternyata tak lebih sebagai bandit perampas kebenaran dan keadilan. Bagi saya, situasi seperti sekarang ini yang terbalik, merupakan cara Allah menjungkirbalikkan topeng keadilan dan kebenaran yang selama telah di klaim sebagai miliknya.

Surabaya, 24 September 2018

*Sekretaris LPA Jatim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here