Catatan Oase Kehidupan #187: Ketika Rasa Itu Dimatikan

0
112
Ilustrasi diambil dari Alamy

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Tahukah anda semua bahwa apapun yang ada didunia ini tidak akan punya arti, kalau kita sudah matikan rasa kita. Rasa adalah sebuah anugrah Tuhan kepada kita, sehingga kita bisa membedakan sesuatu enak atau tidak, sesuatu menyenangkan atau menyakitkan. Dengan rasa itu pula kita dapat menikmati keberadaan sesuatu.

Meski anda mempunyai uang banyak, tapi kalau kesehatan kita terganggu, maka kita tak akan bisa menikmati lezatnya sebuah makanan. Rasa itulah yang menjadikan kita bisa menikmati semuanya.

Didalam rasa seseorang sejatinya juga terkandung makna kecerdasan kita dalam memperlakukan orang lain. Kecerdasan kita dalam memperlakukan akan menjadi baik kalau kita mampu mengelola rasa yang kita miliki. Rasa itu berkaitan dengan perasaan kita kalau diperlakukan dan memperlakukan orang lain. Kita akan lebih bisa menempatkan diri ditengah orang lain.

Hari ini rasanya saya mendapatkan teguran keras berkaitan dengan apa yang selama saya geluti didunia pendidikan, perjuangan selama hampir 18 tahun memperjuangkan dilaksanakannya layanan sekolah yang mengedepankan kebutuhan anak, ternyata hari ini disebuah sekolah yang menurut saya luar biasa sebuah SMKN di Surabaya, tapi ternyata mendapatkan gambaran bahwa kepala sekolahnya tidak luar biasa. Belum lupa dari ingatan kita kasus meninggalnya guru Budi di Sampang Madura, kini di Surabaya, Kepala Sekolah yang terikat dengan alam bawah sadarnya, selama ulangan anak tidak boleh keluar kelas, ketika melihat anak keluar kelas dikarenakan sudah selesai dan merupakan guru penjaga kelasnya, Kepala Sekolah tiba tiba rasionalnya dihidupkan, nuraninya dimatikan. Sehingga tanpa rasa dan kehilangan akal budinya, menampar anak anak yang sejatinya harus dirasakan sebagai anaknya sendiri. Apalagi si Anak jenius ini adalah anak yang luar biasa, mampu mengerjakan soal ulangan dan akan mempersiapkan ulangan selanjutnya dengan belajar diluar kelas.

Saat itu, Sang Kepala Sekolah telah kehilangan rasanya, sehingga dia menempatkan posisi berjarak dengan anak didiknya. Anaka anak yang mestinya terayomi sekarang menjadi memerih.

Sekolah Rumah Anak sejatinya ingin mengembalikan kembali sekolah sebagai rumah kedua anak. Sekolah sebagai sebuah rumah, diharapkan akan mendekatkan perasaan guru, kepala sekolah dan semuanya untuk saling merasa memiliki sebagai keluarga besar.

Sekali lagi, saya kira ditengah momentum yang diberkahi ini, akan menjadi sangat baik kalau kita semua memulai dengan mengelola diri untuk lebih bisa melayani orang lain.

Wassalammualaikum wr wb,

Surabaya, 27 September 201

Anggota Dewan Pendidikan Jatim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here