Catatan Oase Kehidupan #191: Habis Terang Menuju Gelap

0
56
Foto film Thor the dark world diambil dari cinemarvel.wikia.com

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Saya membayangkan sebuah perjalanan panjang disebuah belantara yang gelap tanpa penerangan, betapa susahnya kondisi berjalan sehingga dalam suasana gelap diperlukan sebuah kehati hatian agar tidak jatuh terperosok. Namun sayangnya kadang saat kita menemui terang tak semua orang mampu menapaki jalan terang itu dengan baik, sehingga banyak yang terperosok kembali dalam suasana gelap.

Zaman berjalan dan terus berkembang, seiring dengan perkembangannya, manusia menghendaki sesuatu yang mudah dan cepat. Sehingga tehnologi menjadi sebuah keniscayaan. Namun sayangnya tak semua kita mampu memanfaatkan tehnologi untuk sesuatu yang berdaya guna. Seringkali tehnologi justru menjadi ancaman akan sebuah kerukunan bahkan tehnologi juga bisa menjerumuskan, tentu bukan tehnologi yang harus disalahkan, kitalah yang harus bertanggung jawab. Nah yang semacam ini bisa diibaratkan sebagai sebuah kegelapan ketika kita berada di zaman yang terang.

Saya seringkali membayangkan seandainya setiap orang yang bergaul dengan tehnologi bisa bijak dan bertanggung jawab, saling berbagi kebaikan dan saling bertolong menolong antar sesama, namun sayangnya angan itu semuanya bisa terwujud. Seringkali dalam lalu lintas jejaring dunia maya melalui saluran internet muncul hal hal yang tak bertanggung jawab dan penuh dengan ujaran ujaran yang kurang baik bila harus diumbar ke publik. Sehingga semakin terlihat kualitas kita sebagai pribadi dibalik teknologi.

Tehnologi dan media yang seharusnya menjadi alat kita menebar kebaikan justru berubah arah menjadi alat menebar kebencian dan permusuhan. Seolah zaman menjadi gelap karena kita bertindak bar bar dalam memperlakukan tehnologi. Peristiwa pembullyan, menyebarkan kebohongan dan fitnah serta membalikkan kejelekan menjadi sesuatu yang seolah benar sudah hal yang mahfum dalam perilaku bermedia sosial kita semua. Kita seolah sudah kehilangan hati nurani, yang ada perilaku ego menganggap diri lebih.

Situasi ini bisa terjadi karena kita semua tak selalu bisa memahami sejatinya untuk apa kita dihidupkan bersama akal budi dan nurani. Bukankah setiap manusia ditakdirkan untuk bisa menolak sesuatu yang bertentangan dengan nurani? Sebagai contoh ketika kita melakukan sesuatu yang bertentangan norma dan etika yang berlaku, seringkali hati kecil kita menyangkalnya, sehingga disitulah esensi sejati kemanusiaan.

Nah kawan untuk menghidupkan nurani kemanusiaan kita ada baiknya. Kita memulai menghidupkan kembali kecerdasan kita dalam melihat dan menyikapi sesuatu. Kecerdasan melihat dan menyikapi sebuah persoalan merupakan sebuah perilaku sikap manusia yang sebenarnya. Lalu sikap perilaku apa yang tidak sebenarnya itu?

Perilaku yang menyimpang itu adalah perilaku yang menjauhkan diri jalan terang, jalan dimana manusia dipenuhi dengan suasana berbagi kebaikan dan kemanfaatan, perilaku menyimpang merupakan wujud perilaku yang mengedepankan. Kedirian serta keserakahan serta ketidak baikan, sikap seperti itu lebih banyak terjadi pada binatang sehingga sering dianggap sebagai hukum rimba, yang kuat yang menang, yang berani yang mendapatkan sehingga manusia saling memangsa.

Kecerdasan kita memperlakukan diri agar tidak memperlakukan orang lain dengan perlakuan tidak baik menunjukkan kecerdasan kita sebagai manusia. yang sebenarnya

Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari tipu daya dan kebohongan yang sekarang ini semakin tak jelas wujudnya.. Aamien.

Malang, 5 Oktober 2018

*Pengamat Sosial

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here