Catatan Oase Kehidupan #192: Simpang Siur

0
44
Foto RS diambil dari Tribun Jateng

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Tentu semua kita bisa memahami makna kata simpang siur, sebuah makna yang menggambarkan ketidakteraturan, ketidak tertiban serta ketidaksamaan arah. Simpang siur menandakan adanya sebuah perilaku yang semaunya sendiri, tak ada ikatan antara satu dengan yang lainnya. Sehingga kelihatan semrawut.

Mengapa terjadi simpang siur? Simpang siur terjadi karena ketiadaan pengatur arah, semuanya berjalan atas maunya sendiri, atau bahkan karena ketiadaan kepercayaan antara satu dengan yang lainnya. Simpang siur pada dasarnya disebabkan oleh dua faktor, yang pertama lemahnya data dan yang kedua lemahnya pengawasan.

Pada kasus SR yang masih debatable, ada dua kutub pendapat yang bisa di diskusikan, pertama pendapat yang masih meyakini bahwa fakta yang sebenarnya memang benar benar terjadi. Pada kutub ini mereka melakukan analisa komperehensif tentang jejak rekam SR selama ini. Sampai pada penelusuran jejak yang dilakukan didapatkan data bahwa selama ini SR adalah orang yang vokal, berani tak punya rasa takut. Di zaman rezim orde baru ketika suasana berlangsung secara represif, SR pun berani melakukan monolog tentang marsinah. Indikator indikator data seperti ini menjadikan, mereka yang berada pada kutub ini meyakini bahwa faktanya memang benar benar terjadi. Lalu mengapa kemudian dalam jumpa persnya mengatakan bahwa dia melakukan hoax. Nah kejadian ini, lalu muncul analisa bagaimana mungkin SR yang terkenal berani seperti ini, mau menghinakan dirinya dengan mengatakan kejadian yang menimpanya adalah hoax? Apakah SR masih butuh panggung untuk memperkenalkan dirinya? Rasanya tidak, Tentu ada sesuatu yang menyebabkan tak berdaya dalam menghadapi kenyataan yang sesungguhnya.

Sedang pada kutub yang kedua, mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh SR adalah berita hoax. Untuk menunjang dugaan ini maka kemudian dimunculkanlah rekam peristiwa perjalanan SR pada kurun tanggal yang diduga sebagai kejadian sampai dengan tereksposenya ke publik. Ditambah lagi manifes rumah sakit dan pernyataan kepala bandara serta pernyataan pihak kepolisian yang dipublikasikan tentang apa yang dilakukan SR, sehingga kemudian didapat dugaan bahwa apa yang dilakukan oleh SR adalah berita bohong.

Nah sampai disini, tentu kita sebagai masyarakat akan mengalami masa masa yang sangat abu abu dalam menyikapi fakta yang tersajikan melalui lalu lintas media. Lebih lebih lagi yang tertulis didalam media sosial, semua orang dengan beragam latar belakang dan juga belum tentu ahli dalam hal data dan pengawasan serta analisa, menjadi bagian keruhnya suasana. Nalar kita menjadi teraduk antara percaya dan tidak.

Namun bagi mereka yang menyadari bahwa apapun bisa dilakukan dengan tehnologi serta kemampuan masif memborbardir informasi alam bawah sadar, mereka akan tetap istiqomah dengan kekuatan informasi dan data yang dimiliki serta kecerdasan menganalisa untuk mendapatkan fakta jujur yang sesungguhnya.

Akhirnya semua dikembalikan pada kita semua, kalau kita ingin menjadi pribadi yang cerdas maka data dan kekuatan analisa serta pengawasan kita terhadap lalu lintas informasi akan menguatkan kita dalam bersikap.

Wassalammualaikum wr wb,

Surabaya, 7 Oktober 2018

*Pengamat Sosial

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here