Catatan Oase Kehidupan #195: Pemilu, Sepak Bola dan MMA

0
43
Ilustrasi diambil internet

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Saya kira sebagian besar diantara kita sudah menyaksikan pertandingan MMA pertarungan bebas antara McGregor melawan Khabib Normagomedov. Banyak catatan yang dituliskan oleh banyak orang bahwa pertandingan ini merupakan pertandingan keangkuhan melawan kerendahan hati. Pada awal jumpa media, McGregor sudah tampak sekali memprovokasi dengan cara cara yang tak menyenangkan, ditambah lagi provokasi dari pendukung McGregor setelah pertandingan berakhir dengan kemenangan Khabib. Bahkan diduga provokasi pendukung Mc Gregor mengandung ujaran kebencian dan sara.

Meski pertandingan sudah berakhir dan dinyatakan menang, Khabib tak mampu menahan kesabarannya, karena ujaran kebencian yang berisi sara dan menghina keyakinannya sebagai seorang muslim. Khabib pun akhirnya terlibat baku hantam dengan penonton pendukung Mc Gregor.

Hal yang sama juga kita saksikan di laga sepak bola Indonesia, kekerasan terjadi di luar arena. Seorang supporter terpaksa harus meregang nyawa diluar arena, karena pendukung yang tak lagi memegang kaidah sportifitas olah raga. Bahkan yang baru saja terjadi, pertandingan antara Arema dan Persebaya, sejatinya laga yang penuh dengan sportifitas olah raga ini, rusak karena perilaku supporter yang melanggar nilai nilai sportifitas diluar pertandingan.

Olahraga yang sejatinya penuh dengan sportifitas dan diatur dalam aturan aturan pertandingan diharapkan mampu memberi nilai kebaikan bagi kita dalam menjalankan perilaku berolahraga. Namun sayangnya kondisi dilapangan tidak sepenuhnya mampu memberi pengaruh yang sama diluar arena. Supporter merasa adanya bebas nilai dan bisa melakukan apa saja. Kalau sudah begini maka tak ada guna aturan dibuat, yang lebih menyedihkan lagi kalau kemudian para pembuat peraturannya diduga juga terlibat dalam memicu terjadinya kekerasan.

Setali tiga uang dengan unsportifitas yang terjadi dalam dunia olahraga. Meski Pemilu kita diatur dengan sederet aturan yang ada yang mengesankan sebagai pemilu yang jujur dan damai, tapi apalah artinya kalau pelaksana peraturan melakukan pembiaran terjadinya kontestasi kekerasan dan saling melemahkan. Seolah seperti dalam olah raga, wasit yang seharusnya netral, ternyata tak lagi mampu menahan kenetralannya, sehingga terkesan terlibat dalam aksi aksi keculasan. Lagi lagi kekerasan dan keculasan terjadi akibat para supporter yang menghalalkan segala cara. Sehingga merusak nilai nilai yang sudah diatur dan disepakati.

Lalu akankah Pemilu kita bisa melahirkan nilai nilai kebaikan? Tentu saja Pemilu diharapkan akan terpilih pemimpin yang baik dan berjuang untuk kepentingan rakyatnya. Tapi bisakah kebaikan itu didapatkan dengan cara cara yang tidak baik? Nah ini yang menjadi persoalan, karena biasanya cara cara tidak baik akan melahirkan keridakbaikan selanjutnya.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

sebagaimana dalam pertandingan olahraga, pertandingan yang baik itu kalau para pemain dan supporter menyatu, mentaati aturan permainan yang ada, menjadi supporter yang baik itu dengan jalan memberi semangat dan memotivasi jagonya, bukan dengan cara cara memprofokasi, sehingga pertandingan bisa dinikmati dan berjalan dengan baik.

Begitu juga dalam Pemilu kita, Pemilu yang baik dan menghasilkan kebaikan kalau antara calon yang diusung dan pera pendukungnya bertekad dan menyatu menjalankan misi kebaikan yang dirumuskan. menyatu itu juga harus dipahami antara calon dan pendukungnya sepakat melakukan dengan cara cara yang baik, sehingga disana akan lahir kebaikan. Bukan kemudian kita bermanipulasi seolah kita baik, tapi kita juga melakukan profokasi agar ada yang melakukan ketidakbaikan dan keculasan demi keuntungan kita dan kelompok.

Pemilu adalah ajang kontestasi menunjukkan bahwa kita adalah orang yang bisa dipercaya dan ajang kontestasi mengabdi pada kepentingan terbaik rakyat. Yang harus kita sadari tak akan mungkin niat yang baik akan menghasilkan sebuah kebaikan kalau cara cara yang kita lakukan adalah cara cara yang tidak baik, kemenangan kita akan menjadi bencana manakala kita melakukannya dengan cara cara tidak baik dan culas.

Nah kawan, kalau kita ingin mendapatkan pemimpin yang baik, marilah kita jalankan aturan pemilu dengan baik, agar kita mendapatkan pemimpin yang baik. kita semua cinta Indonesia, maka jangan kotori Indonesia dengan hal hal tidak baik yang kita rencanakan.

Semoga Allah melindungi dan menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan dan pemimpin yang tidak baik.

Surabaya, 9 Oktober 2018

*Pengamat Sosial

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here