Catatan Oase Kehidupan #196: Victim Mentality Syndrome

0
40
Foto ilustrasi diambil dari alghad.com

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Secara harfiah VMS bisa dimaknai sebagai Sindrome kejiwaan yang selalu merasa menjadi korban. Sindroma ini merupakan penyakit yang menjangkiti kejiwaan seseorang bahwa dirinya adalah korban. Penyakit ini menimbulkan sikap selalu bertahan dalam pilihan, meski salah, karena kalau diingatkan, maka akan mencari dalih pembenar kesalahannya dan mencari dalih pemakluman dan akhirnya menciptakan stigma bahwa dirinya adalah korban.

Penyakit ini diduga sebagai salah satu faktor penyebab mengerasnya hati, memutus urat malu dan merusak syaraf berpikir. Dan disinyalir sebagai penyebab utama hancurnya sebuah tatanan kehidupan.

Sindrom ini menjangkit ke seluruh isi otak dengan begitu halus.Dan bahkan, sering tidak disadari oleh penderitanya. Ini yang membuat, penularan VMS begitu cepat dan sulit ditangani. VMS akan menjadi virus menular yang massif apabila sudah masuk pada rana kepentingan yang sama. Siapapun yang dianggap sebagai pilihannya maka tak perduli sesalah apapaun yang dilakukan, akan dicari dalil pembenar atas kesalahan yang dilakukan. Jadi akan sulit memiliki kosa kata ” Maaf atas kesalahan yang saya buat “.

Lalu apa yang menjadi penanda bahwa seseorang telah terjangkiti VMS?

– Merasa selalu tidak diperlakukan dengan baik oleh orang lain,

– Merasa selalu disakiti,

– Merasa selalu dipihak yang dirugikan,

– Merasa tidak dipedulikan orang lain,

– Merasa tidak ada orang lain yang mengerti.

– Merasa orang lain hanya memikirkan diri sendiri.

– Merasa sudah berbuat banyak untuk orang lain.

– Merasa diperbudak.

– Merasa dimanfaatkan.

– Merasa selalu dipersalahkan.

– Merasa selalu dipojokkan.

– Merasa kesal ketika orang lain mengacuhkan.

– Berpikir orang lainlah yang seharusnya bertindak.

– Merasa ingin selalu diperhatikan.

– Merasa ingin selalu menjadi pusat perhatian (center of attention).

– Dalam bekomunikasi, penderita akan suka membalikkan argumen,mencari berbagai pembenaran.

– Bicaranya berputar-putar.

– dan sebagainya..

Apa Dampak Yang Ditimbulkan Dari VMS?

– Jadi lupa bersyukur pada sang Pencipta.

– Lupa akan perbuatan baik orang lain.

– Lupa berterima kasih.

– Lupa kalau dirinya adalah manusia yang lemah dan tidak luputdari kesalahan.

– Tidak pernah merasa bersalah dan sebaliknya akan terus berusahamencari kesalahan orang lain.

– Kalaupun mengetahui bersalah, selalu ada tapi..danujung-ujungnya merasa tidak bersalah.

– Karena tidak merasa bersalah maka tidak akan ada kata memintamaaf.

– Mencari kawanan untuk mencari pembenaran.

– Mencari kawanan sehati, sepemikiran untuk menggunjing.

– Mencari kawanan untuk sama-sama menuntut.

– Mencari kesalahan orang lain yang menurutnya lebih besar, agarlebih dulu dipersalahkan.

– Berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan pemikiran (victimmentality-nya).

– Pikiran menyempit.

– Tingkat kesabaran menurun.

– Kemampuan berpikir logis akan hilang.

– Tidak mampu mendengar pendapat orang yang tidak sepemikiran.

– Hati menjadi keras.

– Jarang menangis dan sulit tersentuh hatinya.

– Takjub pada diri sendiri, sombong dan egois.

– Lupa untuk memperbaiki diri.

– Rasa malu yang hilang.

– Merusak hubungan baik dengan Allah dan juga dengan makhluknya.

– Merusak keharmonisan rumah tangga maupun satu hubungan dalam bentuk yang lain.

– Hilangnya kenyamanan.

– dan sebagainya..

Lalu Bagaimana Cara Menghindarinya?

– Sadarilah kembali bahwa kita adalah hamba Allah yang lemah dan tidak sempurna.

– Sadarilah bahwa kita juga bukan seorang hakim terhadap kekurangan orang lain.

– Ketika timbul masalah, berhenti sejenak, tahan beberapa saat untuk tidak memberikan respon dan berikanlah waktu untuk mengembalikan terlebihdahulu pada diri sendiri.

– Temukan kesalahan diri sendiri, cari garis penghubung diri kitadengan masalah yang terjadi.

– Camkanlah bahwa “Kesalahan ada pada diri sendiri”.

– Biasakan untuk segera meminta maaf walaupun terhadap masalahyang “menurut” kamu bukan kamulah penyebabnya.

– Banyak-banyak membaca buku agar wawasan dan cara berpikir semakin luas.

– Banyak-banyak bergaul dengan orang-orang yang positif, yangpunya hobi positif, pembelajar, dsb.

– Kenali lagi, maksudnya, coba analisa lagi secara objektif,mungkin memang benar bukan andalah penyebab utamanya. Namun tetap, andabukanlah seorang hakim yang berhak menjustifikasi kesalahan orang lain.

– Bersikaplah bijaksana, cari solusi yang bisa mengatasi masalahsecara nyata. Bukan sekedar, kepuasan akan pengakuan dari orang lain bahwa “GUE BENER dan SI DIA SALAH!”

– Belajar untuk berkomunikasi dengan baik, berbicara dengan baikdan mendengarkan dengan baik.

– Tidak perlu arogan.

– Dan bersabarlah.

Nah kawan…bukankah banyak sekali dalam perjalanan kita bergaul sama orang, kita jumpai manusia yang bertipe seperti itu, sehingga akan mengancam harmoni kehidupan dalam kehidupan. Kalau dia seorang pemimpin rumah tangga maka akan berpotensi menghancurkan rumah tangganya, kalau mereka pemimpin politik akan berpotensi menghancurkan tatanan politik dan bernegara yang baik… Semoga kita dihindarkan dari penyakit ini dan akibatnya.

Surabaya, 10 Oktober 2018

*Pengamat Sosial

Sumber : diolah dari sukmonogagat.wordpress.com dan sumber lain

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here