Catatan Oase Kehidupan #199: Musyrik Sosial dan Kultural

0
97
Foto mbah dukun diambil dari mabatugas

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Setidaknya dalam minggu terakhir ini saya membaca persoalan surga neraka yang dikaitkan dengan kecenderungan pilihan presiden. Diawali pernyataan Farhat Abas yang mengatakan pemilih Jokowi – KH Makruf Amien akan mendapatkan kunci surga. Setelah itu disusul dengan pernyataan salah satu ketua partai bahwa pemilih partai ini akan didoakan khusnul khotimah serta yang baru saja terjadi pernyataan ustadz Novel Bamukmin, yang mengkaitkan kecintaan dengan capres dan cawapres Prabowo Sandi dengan kemauan masuk surga.

Nah sangat menggelitik sekali pernyataan pernyataan tersebut, karena mengkaitkan persoalan pilihan Capres dan Cawapres dengan sesuatu yang menjadi otoritas ke Tuhanan. Padahal ada diantara mereka yang sebahagian sejak awal anti terhadap isu keagamaan yang dibawah ketafsir politik. Mereka menjadi bungkam dan seolah mati akal budinya. Mendiamkan sesuatu yang dia lawan sejak awal, namun karena kecintaan kepada gerombolannya, menjadikan akal budi dan nurani menjadi mati.

Saya hanya ingin menarik benang merah kusut yang ada, agar kita tak menjadi manusia yang ikut nista dengan menyesatkan pikiran orang lain. Bukankah dalam Al Qur’an disebutkan bahwa boleh jadi apa yang baik menurut kamu belum tentu baik menurut Allah, begitu juga sebaliknya apa yang tidak baik bagi kamu juga tidak baik bagi Allah, karena sesungguhnya Allah lah yang Maha Mengetahui.

Memaksakan pilihan kita tanpa sandaran kebaikan dalam perspektif keTuhanan, sejatinya kita sedang memamerkan kepongahan perilaku sebagaimana Fir’aun dan Qarun pernah lakukan. Bagaimana Fir’aun dan Qarun mengatakan bahwa dirinyalah yang layak dicontoh karena mereka punya kekuatan dan kekuasaan. Maka ketika kedatangan Nabi Musa A. S, Fir’aun pun bertanya akankah kamu meninggalkan aku dan mengakui ada kekuatan dan kekuasaan lain selain aku? Jawab Musa ya, bahwa ada kekuatan dan kekuasaan selain engkau, yaitu Allah Tuhan Yang Maha Rahmaan dan Rahiim, Tuhanmu dan Tuhanku.

Betapa murkanya Fir’aun mendengarkan jawaban Musa, lalu Fir’aun merayu Musa dengan jasa dan kebaikannya, wahai Musa bukankah engkau adalah orang yang pernah aku besarkan dan aku rawat di istana, begitu kah balasanmu kepada orang yang sudah berbuat baik kepadamu. Musa menjawab, wahai Fir’aun, bukankah terdamparnya aku di istana adalah karena ulahmu yang memerintahkan seluruh tentara kerajaan untuk membunuh orang orang yang berbeda pilihan denganmu serta para bayi laki laki yang baru lahir dari rahim ibunya? Sungguh perbuatanmu itu merupakan dari perbuatan yang melawan kehendak Allah.

Melawan kehendak Allah bisa dimaknai bahwa kita sedang meyakini ada kekuatan lain selain Allah. Meyakini kekuatan lain selain Allah bukankah bisa disebut sebagai perbuatan musyrik? Apalagi kalau kemudian sampai merusak apa yang sudah menjadi ciptaan Allah. Merusak ciptaan Allah sejatinya adalah perbuatan yang dalam Al Qur’an sebagai perbuatan yang keji, karena merusak sesuatu yang diciptakan baik oleh Allah. Merusak ciptaan Allah dengan menuruti kehendak kita sejatinya perbuatan yang mempertuhankan hawa nafsu. Mempertuhankan hawa nafsu dengan meninggalkan kebaikan yang diajarkan Allah melalui Nabi dan RasulNya, bisa terkategorikan sebuah perbuatan syirik.

Lalu bagaimana dengan perbuatan merusak ciptaan Allah dalam konteks kultural dan sosial ? Bisakah mereka terkategorikan sebagai perbuatan syirik? Apakah perbuatan syirik itu hanya berkaitan dengan menyekutukan zat ketuhanan? Bisakah mereka yang merusak tatanan kultural dan sosial dikategorikan sebagai pervuatan syirik?

Dalam ajaran Islam kita diajarkan agar menjadi manusia yang memeluk Islam secara utuh. Utuh itu tidak memisah misahkan urusan, baik itu yang bersifat zat maupun yang bersifat sosial dan kultural. Sehingga bagi saya ada sebuah pertanyaan dalam konteks perbuatan manusia yang melawan kehendak Allah, merupakan tindakan kesyirikan. Merusak ciptaan Allah yang baik dengan melakukan akktifitas akan menimbulkan kerusakan sosial dan kultural menurut saya bisa dikategorikan sebagai kesyirikan sosial dan kemusyrikan kultural. Sehingga ketika anda melakukan tindakan merampas hak orang lain, membohongi orang lain, mengingkari janji yang sudah diucapkan, serta hal hal yang merugikan manusia lain secara langsung maka anda sedang mempraktekan kemusyrikan sosial. Kalau anda merusak lingkungan, membuang limbah berbahaya sembarangan, anda membuang sampah sembarangan, anda menggunduli hutan, anda merusak biota laut dan merusak kehidupannya, atau anda sedang melakukan konspirasi reklamasi yang menyebabkan banjir dan intrusi air laut atau anda sedang melakukan perbuatan pencemaran udara, maka anda terkategori masuk dalam kesyirikan lingkungan.

Nah kawan mari kita cerdas dalam bersikap, karena sekarang ini tidak lagi ada pembatas antar benar dan salah, manusia cenderung mereduksi Tuhan dan bangga memamerkan kemusyrikan. berpeganglah teguh terhadap ajaran Allah, janganlah bercerai berai, mereka melakukan siasat dan tipu daya, tapi sebenar benar siasat adalah siasat Allah.

Semoga Allah melindungi kita dan menyelamatkan kita bersama orang orang yang baik dan benar… aamien.

Surabaya, 16 Oktober 2018

*Pengamat Sosial dan anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here