Catatan Oase Kehidupan #200: Dobol, Dobol dan Ndobolisasi

0
82
Foto litle army diambil dari kaskus

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Membaca postingan kawan cak Nurhasan Ashari yang menampilkan Cak Nun dengan kelakarnya, saya merasakan ada satu hal yang mendalam tentang kegelisahannya, meski dengan caranya beliau mengekspresikannya. Setelah di posting pidato presiden yang mempersilahkan negara negara berinvest di Indonesia, Cak Nun sambil berkelakar mengekspresikan dengan kata dobol…. dobol.

Dobol merupakan kosakata bahasa jawa yang ditujukan kepada perilaku yang melebihi batas batas normal. Dobol dalam kamus besar bahasa Indonesia juga berarti jebol dan goblok. Kata dobol bisa dimaknai akibat kebodohan kita maka kita mengalami kejebolan. Sehingga perilaku apapaun yang keluar dari batas kenormalan dan menunjukkan kebodohan berpotensi menyebabkan terjadinya jebolnya pertahanan kita.

Bukankah sekarang ini banyak kita jumpai perilaku ” dobol ” dinegeri yang kita cintai ini. Bayangkan kita hampir setiap hari disuguhi atraksi dobol elit dan rakyat. Ketika relawan FPI berjibaku di Palu, elit pejabat kominfo melakukan perilaku ” ndobolisasi ” mengatakan berita FPI yang terjun sebagai relawan di Palu sebagai berita hoax.

Hal lain sebagai potret dobolnya tatanan adalah penegakan hukum yang ndobolisasi. Penegakan hukum yang dobol itu dimainkan dengan melakukan tindakan tebang pilih, kabar buku merah menjadi sirnah, sementara kasus hoax ratna dipaksakan untuk di periksa.

Dobol lain adalah suap Meikarta, kepala daerah yang seharusnya melindungi rakyatnya dan mensejahterakan, namun tak disangka bermain mata dengan pengusaha durjana, mengeluarkan ijin pembangunan bermasalah.

Negeri dobol semakin diperparah ketika KPK mengatakan pasrah terhadap raibnya buku merah, bahkan aparat akan menindak siapapun yang menjadi penyebar hoax buku merah, tapi sayangnya aparat tak segarang memburu penyiram air keras Novel Baswedan dan penyebar chat bohong habib Rizieq Sihab.

Sikap dobol juga semakin mengagah ketika upaya dobol dilakukan oleh mereka yang tak rela melihat Indonesia damai, ada upaya dobol membeturkan agama dan budaya, padahal sejatinya dua hal itu bisa bersama, kalau toh tak bisa maka anutlah paham yang diajarkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad melalu Al Qur’an, bagi kamu agama kamu, bagi aku agama aku. Ada proses dialog cerdas untuk saling belajar bukan saling mengalahkan. Bukankah Nabi dan Para wali pendakwah Islam melakukan dialog cerdas dan menyadarkan?

Akankah kita harus larut menjadi warganegara yang dobol? Tentu tidak, saya kira masih banyak diantara kita yang waras dan tidak dobol, sehingga ditengah kewarasan dan ketidak dobolan kita, mari kita dukung aparat dan pejabat serta rakyat bersama sama melawan tindak kedobolan, bukankah bahaya laten yang mengancam negara ini adalah faham dobol yang membiarkan penjungkirbalikan hukum dan kebenaran serta pembiaran negara ini dijarah.

Hanya dengan berdoa supaya Tuhan menjauhkan kita dari perilaku dobol, negeri ini akan menjadi negeri yang besar dan bermartabat.

Surabaya, 19 Oktober 2018

*Warga Surabaya, Warga Anti Dobol

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here